Kamis, 13 Agustus 2009

Sajak Rindu



menyenandungkan nyanyian sabar dan syukur diri dalam ruang hati
dengan senyum optimisme menyungging manis menghiasi
tak kan lelah diri ini menanti
menanti yang tak berarti hanya berdiam diri
hingga tiba masanya nanti
kan datang sesosok bidadari yang kan temani diri lalui hari
tempat ku merebah diri
menikmati lantunan indah sajak kemahaan sang Ilahi

biarlah ia sementara hadir dalam mimpi
walau azzam dalam diri tlah merindui
biarlah...biarlah...tetap kujalani
karena ku yakin engkau kan datang
walau tak saat masa sekarang
karena ku yakin engkau kan hadir
membawa sepoi angin kasih yang semilir

sajak rindu terpahat dalam dinding hati
bercerita tentang masa yang dinanti




Senin, 13 Juli 2009

Rembulan hati…


Kelam terasa langit malam ini,
Tiada rembulan yang menghiasi,
Begitupun adanya langit hati,
Kelam jualah yang terasai,
Inginku tersinari cahayamu rembulan hati,
Yang kan buat hidupku lebih berarti,
Haruskah kulari agar kudapat miliki cahayamu duhai rembulan hati?
Ataukah kutunggui sampai kau muncul dengan binar kilaumu?

Kini ku terpenjara dalam sepi,
Dibalik jeruji kesunyian hati,
Yang entah kapan harus kuakhiri…
Namun ku tak kan berhenti bermimpi,
Tuk keluar dari sepi dan sunyi ini,
Ku tak kan lelah tuk berlari,
Agar dapat kunikmati,
Kilau cahayamu duhai rembulan hati…

(Terinspirasi dr nasyid ‘rembulan di langit hatiku’ by seismic…)

Selasa, 07 Juli 2009

Menyemai Cinta di Taman Takwa


Bismillahirrohmanirrohim.....
sebenarnya cukup sulit bagi saya untuk memulai untuk menuliskan tulisan ini, karena terus terang saya belum mempraktekan apa yang saya tuliskan disini, namun harapan saya, semoga tulisan ini kelak akan mengingatkan dan meneguhkan saya ketika nantinya saya berkeluarga dan problematika hidup berkeluarga akan menyambangi kehidupan bahtera rumah tangga yang saya kayuh. Dalam buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku" karya Dwi Budiyanto, salah satu buku yang menurut saya adalah buku yang berbobot, namun bahsanya ringan, dalam buku tersebut ada salah satu bahasan dengan judul "Tak Sekedar Cinta", bahasan yang membuka suatu pemahaman baru bagi saya, dalam bahasan tersebut disebutkan bahwa Imam Jauzi (seorang ulama irak yang alim) dalam kitabnya "Shaidul Khatir" pernah menceritakan kisah Abu Utsman an-Naisaburi yang ditanya oleh seseorang. Pertanyaan menggelitik tentang harapan Abu Utsman. "Apa yang paling anda harapkan dari amal anda?" Abu Utsman terdiam beberapa saat. Lalu, ia mulai bertutur.

"Pada saat aku masih muda, keluargaku berusaha menikahkanku. Akan tetapi aku tidak bersedia. Suatu saat ada seorang wanita yang datang kepadaku dan berkata, 'Wahai Abu Utsman, sungguh aku sangat mencintaimu. Sudilah kiranya engkau menikahiku.' Wanita itu menghadirkan ayahnya yang sangat miskin. Aku pun dinikahkan dengan wanita itu. Nah, ketika aku berkumpul dengannya dalam satu kamar, ternyata ia pincang dan sangat buruk."

"Karena kecintaannya kepadaku," kata Abu Utsman melanjutkan, "Ia melarangku keluar rumah. Aku terpaksa duduk di dalam rumah untuk menjaga hatinya. Aku sama sekali tidak menampakkan kemarahan kepadanya, padahal aku seperti di atas bara. Sungguh. Demikianlah, kejadian itu berlangsung selama lima belas tahun hingga ia meninggal."

Beitulah ketika takwa menghiasi kehidupan keluarga. Kebencian yang membara terpinggirkan oleh sabar dan tanggung jawab terhadap janji. Bahasa takwa itu terpancar dari ungkapan Abu Utsman, "Tidak ada amal yang kuharapkan, kecuali menjaga hatinya agar tidak terluka." Itulah ketika cinta tak hanya sekedar cinta, cinta yang berbungkus takwa. Kisah serupa terjadi ketika ada salah seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khatab mengeluhkan tentang istrinya. Lelaki itu mengatakan bahwa cintanya kepada istrinya telah memudar. Oleh karena itu, ia bermaksud menceraikannya.

"Sungguh jelek niatmu," kata Umar. "Apakah semua rumah tangga (hanya dapat) terbina dengan cinta? Dimana takwamu dan janjimu kepada Alloh? Di mana rasa malumu kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai sepasang suami-istri, telah saling bercampur (menyampaikan rahasia) dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat?"

Ya, ketika menikah, dan mengucapkan ijab qobul, maka itulah salah satu perjanjian besar yang dalam Al-qur'an hanya disebut 3 kali oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala. Inilah kesadaran yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim/muslimah ketika ia memutuskan untuk menikah. Maka dari itu, saya terheran-heran mengapa banyak artis yang cerai, padahal sepengetahuan saya cerai atau talak adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam islam, namun dibenci oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala. Ketika mungkin alasan perceraian itu karena cinta yang telah memudar maka sungguh naif alasan itu mengemuka, karena cinta bukan hanya sebatas kata benda cinta adalah kata kerja, kerja untuk menumbuhkan, merawat, memberi. Seharusnya ketika kesadaran akan janji yang telah terucap, yang tidak hanya disaksikan oleh manusia, namun Alloh juga menyaksikan, maka ketika ada problem dalam kehidupan berumah tangga dapat diselesaikan bersama antara suami dan istri dengan penuh kesadaran dan kedewasaan.

Dan Ketika kau semai benih cintamu di taman ketakwaan, maka pupuklah ia dengan kasih sayang, siramilah dengan perhatian, sinarilah dengan cahaya ketulusan, hingga kelak kau kan jumpai cinta itu menguncup kemudian mekar menjadi bunga, yang keharumannya memenuhi ruang hatimu dalam taman ketakwaan.


Jakarta, 7 Juli 2009...
(Referensi : Segenggam Rindu Untuk Istriku karya Dwi Budiyanto)


Senin, 29 Juni 2009

Menikah : Teori vs Praktek

Judul yang hiperbolis?
tidak juga, disini kita akan bicara sedikit antara teori dan praktek dalam pernikahan. Kok sedikit? ya iyalah, lha yang nulis kan belum menikah, jadi hanya bisa cerita sedikit dari sisi kalangan akademisi (maksudnya kalangan yang bergelut dengan teori-teori), ^_^.
Oke, tulisan ini terinspirasi dari sebuah topik di forum diskusi (Forum Sholahudin), salah seorang member (pak A-HA), beliau menuliskan di topik tersebut seperti ini "Dalam teori vs praktek.... nikah itu sama dengan berenang. Meskipun antum belajar berenang dengan 10 buku tebal, tetapi nggak pernah nyemplung ke air... insya Allah antum tenggelam ketika nyemplung ke air. Sebaliknya... orang desa yg tanpa teori, tetapi nyemplung duluan sambil belajar, maka dia akan bisa berenang.. meskipun akan sulit jadi perenang hebat jika belajar berhenti sampai disitu. Dalam soal nikah, terlalu banyak romansa didalamnya yang hanya bisa dirasakan, tetapi sulit diteorikan. Itulah kenapa Rasulullah sampai menyampaikan bahwa nikah adalah setengah Din"

Yup, tulisan beliau, sepertinya sudah mewakili untuk tulisan ini, tapi ijinkan saya sedikit saja berbicara mengenai hal ini dan mohon koreksi jika ada salah dari saya.

Sudah banyak buku yang mengupas hal-hal pernikahan, buku-buku tersebut tidak hanya menyampaikan hal-hal indah dalam pernikahan dan kehidupan rumah tangga tapi juga problematika yang mungkin akan muncul setelah menikah dan memulai kehidupan berumah tangga. Kalau begitu apakah teori dalam pernikahan itu perlu?
Jelas teori itu tetap diperlukan, paling tidak teori-teori dasar tentang pernikahan dan hidup berumah tangga, sehingga ketika memulai kehidupan yang baru kita tidak terlalu kaget dengan hal-hal yang menjadi problem dalam kehidupan berumah tangga. Namun jangan terlalu asyik dalam berteori sehingga lupa untuk mempraktekkan teori yang sudah dipelajari, seperti ilustrasi yang digambarkan diatas. Ketika kita belajar teori tentang berenang maka kita tidak bisa mengatakan bahwa berenang itu mengasyikkan, dan juga kita tidak dapat mengatakan berenang itu menyehatkan hanya dengan membaca teorinya, sebelum kita benar-benar mempraktekkan berenang dan merasakan manfaatnya. Oleh karena itu ketika orang sudah mengatakan siap untuk menikah salah satu kesiapannya adalah pengetahuan akan hal-hal dasar (minimal) mengenai pernikahan (teori), selain kesiapan mental akan amanah dan tanggung jawabnya sebagai suami nantinya, dan juga kesiapan dalam hal finansial. Jadi sudah seharusnya antara teori dan praktek berjalan beriringan.

Rabu, 24 Juni 2009

Hingga ujung Usia

Waktu terus berganti
melibas segala yang terlewati
tinggalkan masa-masa penuh arti
di dalam bilik-bilik ruang hati

Kini masih di tepian dermaga ku berdiri
menatap cakrawala samudera kehidupan ini
bertemankan hembusan angin kerinduan dalam hati
ku kan tetap menanti

Ku coba bertahan lewati semua ini
dengan keikhlasan dan kesabaran diri
ku kan coba tuk menanti ,mencari dan mencari
hingga kau kutemukan duhai bidadari hati

Namun waktu tak pernah mau kompromi
perlahan tapi pasti usia menggerogoti diri
hingga ku masih bertemankan sepi dan sendiri
namun ku tak pernah merasa sepi
karena Alloh selalu di sisi
Dialah kekasih yang Sejati
Cinta-Nya adalah cinta yang hakiki

Hingga ujung usia
ku kan menanti
dengan keimanan dihati
kurasakan bahagia dalam diri

Kamis, 18 Juni 2009

Dari jalanan ku belajar....

Jalanan jakarta mengajarkanku banyak hal, darinya kutemui sosok pengemis baik tua ataupun anak-anak yang sebenarnya mereka lebih berhak untuk menghabiskan masa kecilnya untuk bermain bersama teman-temannya, dan bermanja kepada orang tuanya, di jalanan pula kutemui para pengamen, dan para tukang penjual makanan ataupun yang lain yang mendorong gerobak dagangannya, walaupun belum tentu hari itu ada dagangan mereka yang laku.

Jika sudah seperti ini maka hanya penyesalan yang timbul di hati, beribu tanya muncul pada dinding-dinding hati ini,
"Mengapa saya selama ini kurang bersyukur?"
"Mengapa dengan penghasilan yang terbilang lebih dari cukup terkadang masih merasa kurang?"
"Mengapa masih saja mengeluh akan pekerjaan sedangkan sudah pasti setiap bulan ada penghasilan, sementara di luaran sana masih banyak yang untuk makan hari itupun entah ada atau tidak walaupun sudah berpanas terik matahari berbasah kuyup oleh hujan?"
"Mengapa masih ada saja kemaksiatan dari diri ini?"

Jalanan Jakarta mengajarkanku banyak hal, mungkin terdengar berlebihan, tapi tidak kawan, aku memang banyak belajar dari jalanan. Mungkin inilah hikmah Alloh mentakdirkan ku untuk menyusun puzzle-puzzle kehidupanku di ibukota ini. Setiap malam ketika ku pulang dari kantor, ada saja di persimpangan atau perempatan jalan orang yang meminta-minta bahkan ku melihat kebanyakan mereka adalah anak-anak, aku tak tahu kemana orang tua mereka, mungkin orang tua mereka pun sedang berpeluh keringat untuk menghidupi keluarganya, dan anak-anak ini dengan kesadaran sendiri ingin membantu orang tua mereka....wallohu a'alam, kita hanya bisa berprasangka baik pada mereka. Padahal dalam Islam meminta-minta itu adalah perbuatan yang tidak baik, ada hadits dari Rasululloh tentang orang yang meminta-minta, namun tidak pas kalau dibicarakan disini karena banyak buku dan ulama yang lebih berkompeten.

Perjalanan menyusuri jalanan ibukota memberikan pengalaman dan pelajaran yang sangat berarti untuk ku. Pernah suatu kali dalam perjalanan bersama teman kantor di siang yang terik, menggunakan mobil ber-AC, dari kaca mobil kulihat bapak-bapak sudah agak tua, mendorong gerobak jualannya, dari dalam mobil lekat kunikmati pemandangan itu, kulihat wajahnya yang berpeluh, Ya Alloh, dia sedang berusaha menjemput Rizqi-Mu, teriknya mentari tak menyurutkan langkahnya mendorong gerobak yang berisi dagangannya karena ia tahu bahwa anak istrinya sedang menunggunya di rumah dengan segenggam harapan. Harapan yang mungkin bahwa mereka paling tidak bisa makan untuk hari ini....lalu ku coba untuk menilik diri ini, mencoba melihat pantulan diriku dari kaca mobil yang ku tumpangi, hingga hati pun mneyahuti, "Aku berkerja di dalam ruangan tanpa harus merasakan terik sang mentari, dengan penghasilan tetap yang setiap bulan ku dapati, mengapa aku terkadang masih mengeluh dengan beban pekerjaanku, sementara di luaran sana ada yang berpanas terik sang mentari, menyusuri jalanan ini, hingga peluh keringat membasahi, masih pantaskah aku mengeluh?" bermonolog hatiku kala itu...ternyata diri ini tidak lebih baik dari bapak itu......

Keadaan seperti ini selalu memunculkan tanya dalam diri, "Siapa yang bertanggung jawab ketika ada anak-anak yang seharusnya mereka menikmati masa-masa indah namun harus sudah bekerja mencari nafkah?"
Orang tuanya?
Pemimpin negeri ini?
atau kita semua?

entahlah, aku pun tak menemui jawabannya...

Ya Alloh ampuni hamba-Mu yang terkadang kufur akan nikmat-Mu,
Ya Alloh jadikanlah hamba menjadi hamba-Mu yang pandai mensyukuri nikmat-Mu...
Ya Alloh karuniakanlah kepada negeri ini pemimpin yang adil, yang amanah, yang senantiasa dalam ketaatan kepada-Mu dan mengikuti sunnah Rosul-Mu....
Aamiin...

Jalanan mengajarkan ku akan arti sebuah rasa syukur...jalanan mangajarkan ku akan arti sebuah perjuangan....

Sungguh indah cara-Mu mengingatkan ku ya Alloh......