mutiara kehidupan

Bersama Kesulitan ada Kemudahan (3)

30 Januari 2011

Setelah kemarin dalam tulisan sebelumnya, kuceritakan bahwa ibunda sudah merestui diri ini untuk akad nikah terlebih dahulu, maka hari ini ku menuju stasiun Jatinegara untuk membeli tiket pulang sabtu depan, padahal sebelumnya tak ada rencana untuk pulang kampung, namun ternyata adik sepupu ku dari Kalimantan mendapat tugas untuk belajar di RS Harapan Kita selama sepekan dan rencanya dia akan menghabiskan sepekannya lagi untuk berkunjung ke rumahku, maka ku putuskan untuk pulang sekalian karena adik sepupuku tidak terlalu paham jika naik kereta api, oh ya atu lagi, kepulanganku kali ini juga untuk mengambil STNK motorku yang baru ku perpanjang tahun ini. Setelah mendapatkan tiket, langsung ku coba mencari uang Rp 10, hal ini berkaitan dengan mahar yang diminta oleh calon istriku, berbekal informasi dari seorang kawan di kantor, maka kususuri trotoar di sepanjang jalan dari Stasiun Jatinegara menuju Pasar Jatinegara. Dan Alhamdulillah disana ada seorang bapak yang menjual dan membeli uang lama, baik koin ataupun kertas, dan pada saat kutanyakan adakah uang pecahan Rp 10, dia langsung menyodorkan beberapa lembar uang kertas dengan nilai nominal yang kusebut tadi. Sembari memilih ku tanya harganya, dia meminta Rp 15.000 satunya, lalu kutawar dan mentok di harga Rp 10.000, pikirku, Ya sudahlah toh ini untuk calon istriku juga, Rp 10.000 masih wajar...hehehehehehehe

Alhamdulillah...syukur tiada henti kulafazkan dalam hati dan lisan ini atas kemudahan yang telah Engkau beri Ya Alloh....

5 Februari 2011

Sepekan berselang dan hari ini kembali kunikmati kebersahajaan dan segarnya udara kota kelahiranku, Purwokerto. Ternyata hari ini Keluarga Calon istri akan datang ke rumah untuk membahas tanggal akad nikah, hal ini kuketahui dari ibunda ketika ku telpon beliau kalau tak salah pada hari rabu sebelumnya. Dan dari pembicaraan tersebut, sebenarnya diriku dan ibu sudah setuju dengan tanggal yang diajukan oleh pihak calonku yaitu tanggal 5 Maret 2011 karena kebetulan hari itu merupakan hari libur nasional, namun kakekku dari pihak ayah kurang setuju dan kata beliau menurut hitungan jawa kurang bagus (walaupun aku tak setuju dengan alasan beliau), akhirnya setelah pembicaraan tersebut disetujuilah bahwa tanggal 7 Maret 2011 akad nikah akan dilaksanakan. Ehm...ku tegaskan pada ibunda, bahwa kesetujuanku atas masukan kakekku bukan karena diriku percaya dengan hitungan jawa beliau, namun lebih karena menghormati beliau sebagai sesepuh di keluarga kami.

Setelah makan siang bersama, calon ibu mertua memberi tahuku, kalau nanti setelah acara ini untuk ikut ke toko untuk mengepaskan Jas yang akan kupakai ketika akad kelak. Terus terang ada rasa tak menentu ketika mengukur Jas tersebut, mengapa? Karena inilah pertama kali ku pergi dan berbelanja bersama calon bapak dan ibu mertua, calon adik ipar dan calon istriku. Namun sepertinya rasa itu bolehlah kusebut BAHAGIA....^_^

Selengkapnya...