Diary....Tiada terasa begitu cepat sang waktu berganti dan terus berganti, seakan tak kenal kompromi melibas segala yang dilewatinya. Begitu pun yang terjadi pada diri ini, pagi tadi sejenak ku merenungi akan waktu ini...Ya Alloh, begitu cepat rasanya waktu ini bergulir, tiada terasa pekan depan ku kan berucap perjanjian yang berat, yang hanya disebut 3 kali dalam Al-qur'an. Dua perjanjian itu diantaranya adalah perjanjian Bani Israil dan perjanjian para nabi yang dengan itu Alloh angkat bukit tursina. Sedangkan satunya lagi adalah janji dua manusia untuk mengikat cinta yang telah Alloh anugerahkan dalam bingkai pernikahan.
Diary...dalam waktu-waktu menjelang hari H ini, terkadang ada rasa yang entah apa itu namanya menyelusup dalam hati, namun begitu rasa itu hadir, ku langsung mengadu pada Dzat Yang Maha Menguasai hati ini, agar ku tak terjebak dalam syak wasangka dan agar tak melenceng niatan dalam hati ini.
Diary...aku sangat bersyukur pada Alloh, karena atas kemudahannya telah kupenuhi janjiku padaNya, kini ku telah hapal 1 Juz dalam Al-qur'an, walaupun itu baru juz 30 yang ternyata berdasarkan cerita teman-teman sudah banyak anak usia SD hapal Juz 30 tersebut. Tapi tak mengapa, bagiku itu merupakan bekalku untuk menjadi imam bagi istriku kelak, agar ketika nanti Qiyamul lail berjamaah bersama istri, ku bisa sekaligus muroja'ah hapalanku itu.
Diary...kurasa cukup sekian dahulu ku tuliskan disini apa yang ingin ku ceritakan padamu...
kala lisan tak mampu mengucapkan... biarlah jemari yang menuliskan... agar tiada menjadi beban... agar hati tiada diliputi kebimbangan...
Selasa, 01 Maret 2011
Sabtu, 12 Februari 2011
Bersama Kesulitan ada Kemudahan (3)
30 Januari 2011
Setelah kemarin dalam tulisan sebelumnya, kuceritakan bahwa ibunda sudah merestui diri ini untuk akad nikah terlebih dahulu, maka hari ini ku menuju stasiun Jatinegara untuk membeli tiket pulang sabtu depan, padahal sebelumnya tak ada rencana untuk pulang kampung, namun ternyata adik sepupu ku dari Kalimantan mendapat tugas untuk belajar di RS Harapan Kita selama sepekan dan rencanya dia akan menghabiskan sepekannya lagi untuk berkunjung ke rumahku, maka ku putuskan untuk pulang sekalian karena adik sepupuku tidak terlalu paham jika naik kereta api, oh ya atu lagi, kepulanganku kali ini juga untuk mengambil STNK motorku yang baru ku perpanjang tahun ini. Setelah mendapatkan tiket, langsung ku coba mencari uang Rp 10, hal ini berkaitan dengan mahar yang diminta oleh calon istriku, berbekal informasi dari seorang kawan di kantor, maka kususuri trotoar di sepanjang jalan dari Stasiun Jatinegara menuju Pasar Jatinegara. Dan Alhamdulillah disana ada seorang bapak yang menjual dan membeli uang lama, baik koin ataupun kertas, dan pada saat kutanyakan adakah uang pecahan Rp 10, dia langsung menyodorkan beberapa lembar uang kertas dengan nilai nominal yang kusebut tadi. Sembari memilih ku tanya harganya, dia meminta Rp 15.000 satunya, lalu kutawar dan mentok di harga Rp 10.000, pikirku, Ya sudahlah toh ini untuk calon istriku juga, Rp 10.000 masih wajar...hehehehehehehe
Alhamdulillah...syukur tiada henti kulafazkan dalam hati dan lisan ini atas kemudahan yang telah Engkau beri Ya Alloh....
5 Februari 2011
Sepekan berselang dan hari ini kembali kunikmati kebersahajaan dan segarnya udara kota kelahiranku, Purwokerto. Ternyata hari ini Keluarga Calon istri akan datang ke rumah untuk membahas tanggal akad nikah, hal ini kuketahui dari ibunda ketika ku telpon beliau kalau tak salah pada hari rabu sebelumnya. Dan dari pembicaraan tersebut, sebenarnya diriku dan ibu sudah setuju dengan tanggal yang diajukan oleh pihak calonku yaitu tanggal 5 Maret 2011 karena kebetulan hari itu merupakan hari libur nasional, namun kakekku dari pihak ayah kurang setuju dan kata beliau menurut hitungan jawa kurang bagus (walaupun aku tak setuju dengan alasan beliau), akhirnya setelah pembicaraan tersebut disetujuilah bahwa tanggal 7 Maret 2011 akad nikah akan dilaksanakan. Ehm...ku tegaskan pada ibunda, bahwa kesetujuanku atas masukan kakekku bukan karena diriku percaya dengan hitungan jawa beliau, namun lebih karena menghormati beliau sebagai sesepuh di keluarga kami.
Setelah makan siang bersama, calon ibu mertua memberi tahuku, kalau nanti setelah acara ini untuk ikut ke toko untuk mengepaskan Jas yang akan kupakai ketika akad kelak. Terus terang ada rasa tak menentu ketika mengukur Jas tersebut, mengapa? Karena inilah pertama kali ku pergi dan berbelanja bersama calon bapak dan ibu mertua, calon adik ipar dan calon istriku. Namun sepertinya rasa itu bolehlah kusebut BAHAGIA....^_^
Setelah kemarin dalam tulisan sebelumnya, kuceritakan bahwa ibunda sudah merestui diri ini untuk akad nikah terlebih dahulu, maka hari ini ku menuju stasiun Jatinegara untuk membeli tiket pulang sabtu depan, padahal sebelumnya tak ada rencana untuk pulang kampung, namun ternyata adik sepupu ku dari Kalimantan mendapat tugas untuk belajar di RS Harapan Kita selama sepekan dan rencanya dia akan menghabiskan sepekannya lagi untuk berkunjung ke rumahku, maka ku putuskan untuk pulang sekalian karena adik sepupuku tidak terlalu paham jika naik kereta api, oh ya atu lagi, kepulanganku kali ini juga untuk mengambil STNK motorku yang baru ku perpanjang tahun ini. Setelah mendapatkan tiket, langsung ku coba mencari uang Rp 10, hal ini berkaitan dengan mahar yang diminta oleh calon istriku, berbekal informasi dari seorang kawan di kantor, maka kususuri trotoar di sepanjang jalan dari Stasiun Jatinegara menuju Pasar Jatinegara. Dan Alhamdulillah disana ada seorang bapak yang menjual dan membeli uang lama, baik koin ataupun kertas, dan pada saat kutanyakan adakah uang pecahan Rp 10, dia langsung menyodorkan beberapa lembar uang kertas dengan nilai nominal yang kusebut tadi. Sembari memilih ku tanya harganya, dia meminta Rp 15.000 satunya, lalu kutawar dan mentok di harga Rp 10.000, pikirku, Ya sudahlah toh ini untuk calon istriku juga, Rp 10.000 masih wajar...hehehehehehehe
Alhamdulillah...syukur tiada henti kulafazkan dalam hati dan lisan ini atas kemudahan yang telah Engkau beri Ya Alloh....
5 Februari 2011
Sepekan berselang dan hari ini kembali kunikmati kebersahajaan dan segarnya udara kota kelahiranku, Purwokerto. Ternyata hari ini Keluarga Calon istri akan datang ke rumah untuk membahas tanggal akad nikah, hal ini kuketahui dari ibunda ketika ku telpon beliau kalau tak salah pada hari rabu sebelumnya. Dan dari pembicaraan tersebut, sebenarnya diriku dan ibu sudah setuju dengan tanggal yang diajukan oleh pihak calonku yaitu tanggal 5 Maret 2011 karena kebetulan hari itu merupakan hari libur nasional, namun kakekku dari pihak ayah kurang setuju dan kata beliau menurut hitungan jawa kurang bagus (walaupun aku tak setuju dengan alasan beliau), akhirnya setelah pembicaraan tersebut disetujuilah bahwa tanggal 7 Maret 2011 akad nikah akan dilaksanakan. Ehm...ku tegaskan pada ibunda, bahwa kesetujuanku atas masukan kakekku bukan karena diriku percaya dengan hitungan jawa beliau, namun lebih karena menghormati beliau sebagai sesepuh di keluarga kami.
Setelah makan siang bersama, calon ibu mertua memberi tahuku, kalau nanti setelah acara ini untuk ikut ke toko untuk mengepaskan Jas yang akan kupakai ketika akad kelak. Terus terang ada rasa tak menentu ketika mengukur Jas tersebut, mengapa? Karena inilah pertama kali ku pergi dan berbelanja bersama calon bapak dan ibu mertua, calon adik ipar dan calon istriku. Namun sepertinya rasa itu bolehlah kusebut BAHAGIA....^_^
Senin, 31 Januari 2011
Bersama Kesulitan ada Kemudahan (2)
28 Januari 2011
Oh ya, sebelum jauh ku bercerita disini sedikit mengingatkan kalau tulisan ini berhubungan dengan tulisanku sebelumnya yaitu Bersama Kesulitan ada Kemudahan. DI tulisan sebelumnya ibundaku masih berkeberatan jikalau diriku dan dirinya melaksanakan akad nikah dahulu, namun setelah ku meminta pendapat kepada salah seorang rekan kerja, beliau menyarankan diriku untuk mencoba kembali melobi ibundaku, bukan berarti menentang ibundaku namun ketika hal yang memang harus disegerakan ternyata ditunda bukan karena alasan yang syar'i maka melobi ibunda adalah jalan ikhtiarku untuk menyegerakan apa yang seharusnya disegerakan. Oleh karenanya, ba'da sholat isya ku telpon Paklik-ku yang selama ini menjadi tempat ibu untuk sharing atau merundingkan sesuatu dalam keluarga besar kami. Pembicaraan dengan Paklik-ku langsung ke inti permasalahan, kusampaikan keberatan ibundaku juga kusampaikan bahwa hal ini (menikah) merupakan salah satu urusan yang tak boleh ditunda-tunda jika memang sudah siap, walaupun akad dahulu kukatakan bahwa itulah sebenarnya substansi dari pernikahan, karena setelah akad itulah ku telah halal bagi istriku dan istriku pun telah halal bagiku masalah resepsi walaupun memang dianjurkan bisa dikatakan sebagai pelengkap saja. Alhamdulillah Paklik-ku sependapat denganku dan ketika ku minta bantuannya untuk melobi ibundaku, beliau bersedia, "Baiklah Fi, besok mungkin akan Paklik telpon ibumu" begitu kata beliau.
29 Januari 2011
Alhamdulillah akhirnya hari yang dinanti datang juga, sabtu, saatnya untuk sejenak merehatkan tubuh ini setelah penat yang menggelantungi diri selama senin-jum'at. Seperti biasa jadwal yang kurancang untuk sabtu ini adalah mencuci pakaian. Sempat bermalas-malasan akhirnya agenda mencuci terlaksana juga (maklum anak kos, hehehehe). Seusai mencuci ku kembali ke kamar, sembari ingin mengetahui jam berapa saat itu kulirik HPku, dan ternyata ada 2 misscall dari Paklik-ku, "Wah pasti Paklik sudah menelpon ibu nieh" batinku. Langsung saja ku telpon balik beliau, dan ternyata benar dugaanku, Paklik telah menelpon ibunda dan menyampaikan seperti apa yang kusampaikan kemarin kepada beliau, kata Paklik-ku setelah beliau menjelaskan kepada ibundaku, sepertinya ibunda sudah menyetujui dan tidak berkeberatan lagi, "Alhamdulillah" batinku.
Ketika pagi beranjak meninggi menuju siang hari satu SMS dari ibundaku masuk ke HP ini, "Fi sudah dapat belum maharnya" begitu isi SMS ibundaku. "Wah, benar nieh kata Paklik, ibu bertanya seperti ini berarti ibu sudah setuju" batinku, lalu kubalas "Belum bu, InsyaAlloh besok baru saya cari".
Dan saat malam datang mengganti siang yang telah tenggelam oleh gelap, ku telpon ibundaku ba'da sholat isya, sembari membicarakan tentang mahar yang baru besok kucari kutanyakan jua bagaimana jadinya kalau akad dahulu, dan ibundaku berkata "ya sudah ndak apa-apa kalau akad dahulu..." Alhamdulillah...berulang kali ku puji nama-Mu Ya Alloh....
Kemarin saat kesulitan datang menyapa ku yakinkan diri bahwa pasti di ujung jalannya Alloh telah memarkir Kemudahan, dan Alhamdulillah kemudahan itu akhirnya Alloh berikan padaku dalam urusan ini. Karena dalam ayat cinta-Nya yang begitu indah, Alloh telah tegaskan dua kali "Fa Innama'al 'usri yusro. Innama'al 'usri yusro." (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan) Q.S 94 : 5-6.
Sedikit saja membahas dua ayat diatas (jadi biar ngga cuman curhat doank, tapi nambah ilmu juga...hehehehehehehehe), saya ambilkan pembahasan dari tafsir Juz 'amma karya Syaikh Utsaimin disebutkan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallohu anhu tentang ayat ini berkata, "Tidak akan mungkin satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan".*
menurut ahli balaghah, "Arah perkataanya adalah bahwa kesulitan tidak disebut melainkan satu kali". Lho kok bisa?
Jadi Kesulitan yang pertama diulang dalam kesulitan yang kedua dalam bentuk ma'rifah** sedangkan kemudahan disebut dalam bentuk nakirah. Kaidahnya, jika ism disebut dua kali dengan bentuk ma'rifah, maka yang kedua sesungguhnya adalah yang pertama, kecuali sangat sedikit yang tidak demikian. Sedangkan jika ism disebut dua kali dalam bentuk nakirah, maka dia bukan yang pertama. Jadi di dalam dua ayat yang mulia diatas, dua kemudahan dan satu kesulitan. Karena kesulitan disebutkan dua kali dengan bentuk ma'rifah.
Perkataan ini adalah berita dari Alloh Azza Wa Jalla dan berita-Nya adalah berita yang paling sempurna kebenarannya. Janji-Nya tidak pernah diingkari.
Setiap kali suatu perkara sulit bagi anda, maka tunggulah Kemudahannya.
* : Al-Muwaththa', (2/446); Ibnu Abi Syaibah, (5/335, 13/308); Al-baihaqi, Syu'ab Al-Iman, (7/205-206); dan Al-hakim, (2/301).
** : lafazh yang menunjukkan benda tertentu
Sumber : Pengalaman Pribadi dan Tafsir Juz 'Amma karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darul Falah
Oh ya, sebelum jauh ku bercerita disini sedikit mengingatkan kalau tulisan ini berhubungan dengan tulisanku sebelumnya yaitu Bersama Kesulitan ada Kemudahan. DI tulisan sebelumnya ibundaku masih berkeberatan jikalau diriku dan dirinya melaksanakan akad nikah dahulu, namun setelah ku meminta pendapat kepada salah seorang rekan kerja, beliau menyarankan diriku untuk mencoba kembali melobi ibundaku, bukan berarti menentang ibundaku namun ketika hal yang memang harus disegerakan ternyata ditunda bukan karena alasan yang syar'i maka melobi ibunda adalah jalan ikhtiarku untuk menyegerakan apa yang seharusnya disegerakan. Oleh karenanya, ba'da sholat isya ku telpon Paklik-ku yang selama ini menjadi tempat ibu untuk sharing atau merundingkan sesuatu dalam keluarga besar kami. Pembicaraan dengan Paklik-ku langsung ke inti permasalahan, kusampaikan keberatan ibundaku juga kusampaikan bahwa hal ini (menikah) merupakan salah satu urusan yang tak boleh ditunda-tunda jika memang sudah siap, walaupun akad dahulu kukatakan bahwa itulah sebenarnya substansi dari pernikahan, karena setelah akad itulah ku telah halal bagi istriku dan istriku pun telah halal bagiku masalah resepsi walaupun memang dianjurkan bisa dikatakan sebagai pelengkap saja. Alhamdulillah Paklik-ku sependapat denganku dan ketika ku minta bantuannya untuk melobi ibundaku, beliau bersedia, "Baiklah Fi, besok mungkin akan Paklik telpon ibumu" begitu kata beliau.
29 Januari 2011
Alhamdulillah akhirnya hari yang dinanti datang juga, sabtu, saatnya untuk sejenak merehatkan tubuh ini setelah penat yang menggelantungi diri selama senin-jum'at. Seperti biasa jadwal yang kurancang untuk sabtu ini adalah mencuci pakaian. Sempat bermalas-malasan akhirnya agenda mencuci terlaksana juga (maklum anak kos, hehehehe). Seusai mencuci ku kembali ke kamar, sembari ingin mengetahui jam berapa saat itu kulirik HPku, dan ternyata ada 2 misscall dari Paklik-ku, "Wah pasti Paklik sudah menelpon ibu nieh" batinku. Langsung saja ku telpon balik beliau, dan ternyata benar dugaanku, Paklik telah menelpon ibunda dan menyampaikan seperti apa yang kusampaikan kemarin kepada beliau, kata Paklik-ku setelah beliau menjelaskan kepada ibundaku, sepertinya ibunda sudah menyetujui dan tidak berkeberatan lagi, "Alhamdulillah" batinku.
Ketika pagi beranjak meninggi menuju siang hari satu SMS dari ibundaku masuk ke HP ini, "Fi sudah dapat belum maharnya" begitu isi SMS ibundaku. "Wah, benar nieh kata Paklik, ibu bertanya seperti ini berarti ibu sudah setuju" batinku, lalu kubalas "Belum bu, InsyaAlloh besok baru saya cari".
Dan saat malam datang mengganti siang yang telah tenggelam oleh gelap, ku telpon ibundaku ba'da sholat isya, sembari membicarakan tentang mahar yang baru besok kucari kutanyakan jua bagaimana jadinya kalau akad dahulu, dan ibundaku berkata "ya sudah ndak apa-apa kalau akad dahulu..." Alhamdulillah...berulang kali ku puji nama-Mu Ya Alloh....
Kemarin saat kesulitan datang menyapa ku yakinkan diri bahwa pasti di ujung jalannya Alloh telah memarkir Kemudahan, dan Alhamdulillah kemudahan itu akhirnya Alloh berikan padaku dalam urusan ini. Karena dalam ayat cinta-Nya yang begitu indah, Alloh telah tegaskan dua kali "Fa Innama'al 'usri yusro. Innama'al 'usri yusro." (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan) Q.S 94 : 5-6.
Sedikit saja membahas dua ayat diatas (jadi biar ngga cuman curhat doank, tapi nambah ilmu juga...hehehehehehehehe), saya ambilkan pembahasan dari tafsir Juz 'amma karya Syaikh Utsaimin disebutkan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallohu anhu tentang ayat ini berkata, "Tidak akan mungkin satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan".*
menurut ahli balaghah, "Arah perkataanya adalah bahwa kesulitan tidak disebut melainkan satu kali". Lho kok bisa?
Jadi Kesulitan yang pertama diulang dalam kesulitan yang kedua dalam bentuk ma'rifah** sedangkan kemudahan disebut dalam bentuk nakirah. Kaidahnya, jika ism disebut dua kali dengan bentuk ma'rifah, maka yang kedua sesungguhnya adalah yang pertama, kecuali sangat sedikit yang tidak demikian. Sedangkan jika ism disebut dua kali dalam bentuk nakirah, maka dia bukan yang pertama. Jadi di dalam dua ayat yang mulia diatas, dua kemudahan dan satu kesulitan. Karena kesulitan disebutkan dua kali dengan bentuk ma'rifah.
Perkataan ini adalah berita dari Alloh Azza Wa Jalla dan berita-Nya adalah berita yang paling sempurna kebenarannya. Janji-Nya tidak pernah diingkari.
Setiap kali suatu perkara sulit bagi anda, maka tunggulah Kemudahannya.
* : Al-Muwaththa', (2/446); Ibnu Abi Syaibah, (5/335, 13/308); Al-baihaqi, Syu'ab Al-Iman, (7/205-206); dan Al-hakim, (2/301).
** : lafazh yang menunjukkan benda tertentu
Sumber : Pengalaman Pribadi dan Tafsir Juz 'Amma karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darul Falah
Jumat, 28 Januari 2011
Bersama Kesulitan ada Kemudahan
Kali ini saya hanya ingin berbagi cerita dengan para pengunjung blog ini (baca : CURHAT)...^_^
23 Januari 2011
Hari ini kupacu motorku menuju sebuah kota tentangga yang beberapa kali sudah kukunjungi. Agak tidak sesuai dengan rencana awal, karena awalnya hari ini saya dan ibu tercinta berencana mengunjungi rumah calon mertua, dengan maksud menanyakan kelanjutan kapan hubungan saya dan anaknya dapat resmi dan hahal dalam ikatan pernikahan, karena sudah berselang satu bulan saya melamar anaknya. Semakin mendekati rumahnya entah mengapa perasaan dag dig dug alias grogi masih saja ada dalam hati, sembari melafazkan doa dari lisan ini sepanjang perjalanan semoga nanti tidak ada salah ucap yang menyinggung calon mertua.
Sekitar pukul 10 lebih pagi itu sampailah diri ini dirumahnya, calon ibu mertua yang membukakan pintu, dan setelah duduk dia keluar ikut duduk bersamaku dan ibunya (duduknya berseberangan lho ya....) dan dari obrolan pembuka kuketahui bapaknya sedang pergi memancing bersama adiknya yang kebetulan sedang libur semesteran. Singkat cerita menjelang pulang kusampaikanlah maksud kedatanganku pada hari itu (bapaknya sudah bergabung). Di hadapan kedua orang tuanya kutanyakan bagaimana kelanjutan dari lamaranku kemarin, kapan ku bisa menikahi anak gadisnya itu, lalu oleh bapaknya dijawab bahwa prinsipnya untuk hal baik seperti ini haruslah disegerakan, lebih cepat lebih baik, kata beliau, namun dengan berbagai pertimbangan bagaimana kalau akad nikah saja dahulu dan untuk resepsi menyusul kemudian...."Yes, Alhamdulillah, cocok klo begitu" teriak girang dalam batin saya.
"Jadi bagaimana kalau akhir bulan ****** atau awal bulan ******? mas Luthfi setuju?"
"Baik pak kalau memang seperti itu jalan tengahnya, saya setuju, nanti saya sampaikan ke ibu saya" jawabku
Walhasil perjalan pulangku kulantunkan salah satu nasyid berjudul hari bahaia sembari tak henti hati ini bersyukur pada Alloh...padahal sebelum berangkat sudah kusiapkan kalimat negosiasi jika pihak sana mengetengahkan pilihan yang terlalu lama waktunya, tapi qodarulloh dimudahkan oleh Alloh.
Sesampainya di rumah ku ceritakan hasil kunjunganku tadi, dan ibu sepertinya masih keberatan jika harus akad dahulu, kenapa ndak dibarengin sama resepsi sekalian? begitu tanya ibu, namun sebelum keberangkatanku kembali ke ibukota beliau bilang "ya sudah klo maunya seperti itu"...plong...agak tenang sekarang...^_^
27 Januari 2011
Sepulang dari masjid setelah menunaikan sholat isya, ku telpon ibu, menanyakan kabar dan menyapanya serta menanyakan masalah rencana pernikahanku dan ternyata ibu masih keberatan, beliau mau mencoba mebicarakan lagi dengan pihak calonku bagaimana kalau akad dan resepsi dijadikan satu namun waktunya diundur lagi...langsung saja kembali hati ini gelisah, bunga bahagia yang kemarin-kemarin memenuhi hati ini tiba-tiba saja layu....ku coba memberi pengertian kepada ibu, bahwa tak masalah kalau akad dulu, agar diriku jadi lebih tenang, namun ibu masih saja berkeras...walhasil perjuanganku melobi ibundaku masih harus berlanjut....dan sebagaimana kemaren Alloh beriku Kemudahan berupa jalan tengah dari keluarga sang calon, kini Alloh beriku lagi ujian, namun kembali aku yakin bahwa dibalik ujian ini pasti akan ada Kemudahan...yakin...
oleh karenanya, mohon doa dari blogger-blogger semua ya, semoga Alloh mudahkanku untuk melobi ibunda, agar tak ku tergesa-gesa namun juga tak menunda-nunda untuk menyempurnakan separuh agama...lanjutan ceritanya ada di sini
23 Januari 2011
Hari ini kupacu motorku menuju sebuah kota tentangga yang beberapa kali sudah kukunjungi. Agak tidak sesuai dengan rencana awal, karena awalnya hari ini saya dan ibu tercinta berencana mengunjungi rumah calon mertua, dengan maksud menanyakan kelanjutan kapan hubungan saya dan anaknya dapat resmi dan hahal dalam ikatan pernikahan, karena sudah berselang satu bulan saya melamar anaknya. Semakin mendekati rumahnya entah mengapa perasaan dag dig dug alias grogi masih saja ada dalam hati, sembari melafazkan doa dari lisan ini sepanjang perjalanan semoga nanti tidak ada salah ucap yang menyinggung calon mertua.
Sekitar pukul 10 lebih pagi itu sampailah diri ini dirumahnya, calon ibu mertua yang membukakan pintu, dan setelah duduk dia keluar ikut duduk bersamaku dan ibunya (duduknya berseberangan lho ya....) dan dari obrolan pembuka kuketahui bapaknya sedang pergi memancing bersama adiknya yang kebetulan sedang libur semesteran. Singkat cerita menjelang pulang kusampaikanlah maksud kedatanganku pada hari itu (bapaknya sudah bergabung). Di hadapan kedua orang tuanya kutanyakan bagaimana kelanjutan dari lamaranku kemarin, kapan ku bisa menikahi anak gadisnya itu, lalu oleh bapaknya dijawab bahwa prinsipnya untuk hal baik seperti ini haruslah disegerakan, lebih cepat lebih baik, kata beliau, namun dengan berbagai pertimbangan bagaimana kalau akad nikah saja dahulu dan untuk resepsi menyusul kemudian...."Yes, Alhamdulillah, cocok klo begitu" teriak girang dalam batin saya.
"Jadi bagaimana kalau akhir bulan ****** atau awal bulan ******? mas Luthfi setuju?"
"Baik pak kalau memang seperti itu jalan tengahnya, saya setuju, nanti saya sampaikan ke ibu saya" jawabku
Walhasil perjalan pulangku kulantunkan salah satu nasyid berjudul hari bahaia sembari tak henti hati ini bersyukur pada Alloh...padahal sebelum berangkat sudah kusiapkan kalimat negosiasi jika pihak sana mengetengahkan pilihan yang terlalu lama waktunya, tapi qodarulloh dimudahkan oleh Alloh.
Sesampainya di rumah ku ceritakan hasil kunjunganku tadi, dan ibu sepertinya masih keberatan jika harus akad dahulu, kenapa ndak dibarengin sama resepsi sekalian? begitu tanya ibu, namun sebelum keberangkatanku kembali ke ibukota beliau bilang "ya sudah klo maunya seperti itu"...plong...agak tenang sekarang...^_^
27 Januari 2011
Sepulang dari masjid setelah menunaikan sholat isya, ku telpon ibu, menanyakan kabar dan menyapanya serta menanyakan masalah rencana pernikahanku dan ternyata ibu masih keberatan, beliau mau mencoba mebicarakan lagi dengan pihak calonku bagaimana kalau akad dan resepsi dijadikan satu namun waktunya diundur lagi...langsung saja kembali hati ini gelisah, bunga bahagia yang kemarin-kemarin memenuhi hati ini tiba-tiba saja layu....ku coba memberi pengertian kepada ibu, bahwa tak masalah kalau akad dulu, agar diriku jadi lebih tenang, namun ibu masih saja berkeras...walhasil perjuanganku melobi ibundaku masih harus berlanjut....dan sebagaimana kemaren Alloh beriku Kemudahan berupa jalan tengah dari keluarga sang calon, kini Alloh beriku lagi ujian, namun kembali aku yakin bahwa dibalik ujian ini pasti akan ada Kemudahan...yakin...
oleh karenanya, mohon doa dari blogger-blogger semua ya, semoga Alloh mudahkanku untuk melobi ibunda, agar tak ku tergesa-gesa namun juga tak menunda-nunda untuk menyempurnakan separuh agama...lanjutan ceritanya ada di sini
Selasa, 25 Januari 2011
Doa seorang (calon) suami

Ya Alloh, Wahai Dzat Yang Maha Menguasai Hati, luruskan niatan dalam hatiku menujunya agar mampu ku sempurnakan agamaku...
Wahai Tuhan seru sekalian alam, bimbinglah hatiku agar mampu ku tunjukkan padanya betapa nikmatnya kehidupan berumah tangga dalam tali aqidah dan syariah...
Ya Alloh, bimbinglah kami untuk selalu bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan...
Ya Rohmaan, Ya Rohiim, Ya Kariim, jadikanlah diriku kenangan yang baik bagi istriku jika Engkau mencabut nyawaku terlebih dahulu...Dan jadikanlah pula istriku kenangan yang baik bagiku jika Engkau mencabut nyawanya terlebih dahulu...
Ampunilah kami Ya Alloh, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kebangkitan kelak, hari dimana harta, suami-istri, dan anak-anak keturunan tiada berharga...Aamiin...
sumber : Buku "Bismillah...Jadilah Isteriku" karya Masnur Marzuki
Sabtu, 22 Januari 2011
Amalan Unggulan
Suatu hari, Rasulullah dan para sahabat berkumpul dengan Rasulullah disebuah majelis, di masjid. Ketika itu, tiba-tiba Rasulullah berkata, sebentar lagi, akan ada seorang sahabatku datang, dia adalah calon ahli surga". Para sahabatpun penasaran. Gimana lagi, masuk surga itu susah, makanya para sahabat berburu orang-orang yang diberi stempel "DIJAMIN MASUK SURGA", untuk dikorek tips dan kiat-kiatnya. Pada saat itu, para sahabat bertanya-tanya: siapakah gerangan orang itu? di majelis itu, sudah lengkap orang-orang hebat yang amalannya luar biasa, Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan orang-orang luar biasa perjuangannya disis Rosululloh, lengkap sudah, tidak ada yang absen. Siapakah orang yang dimaksud Rasulullah itu??
Beberapa menit kemudian, datanglah seorang sahabat yang berpenampilan sederhana. Sebut saja, si Fulan. Orang-orang terheran-heran, kok bisa dia jadi calon ahli surga?? Padahal, kalau dilihat-lihat, amalan kesehariannya rata-rata kok dengan para sahabat yang lain?
Hari berikutnya, dan berikutnya, Rasulullah pun berkata sama, dan orang yang sama juga yang dimaksud oleh Rasulullah. Akhirnya, salah satu sahabat, yakni Abdullah bin Umar bin Khattab rupanya tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya. Dia meminta izin pada sahabat tersebut untuk menginap beberapa hari di rumahnya. Misi Abdullah bin Umar satu: untuk menjawab pertanyaan tentang amal apa yang dilakukn oleh si fulan hingga dia mendapat "stempel" ahli surga. Setelah beberapa hari Ibnu Umar memperhatikan tentang amalan si Fulan..hasilnya, amalan tersebut merupakan amalan yang juga tidak ditinggalkan oleh para sahabat lain. Lalu, apakah yang spesial yang lain daripada yang lain?? Pertanyaan itu tidak terjawab. Akhirnya, Ibnu Umar mengakui misinya itu kepada si fulan, dan langsung meminta jawaban atas pertanyaan di atas. si fulan pun menjawab,"Wahai Ibnu Umar, sesuai dengan yang engkau lihat, amalanku kurang lebih sama dengan amalan kalian. namun, ada satu hal..setiap malam, sebelum aku tidur, di atas ranjangku aku berkata 'Ya Allah, aku maafkan semua kesalahan dari saudara-saudaraku yang mereka lakukan padaku hari ini baik yang disengaja maupun tidak'. mungkin itu yang menyebabkan Rasulullah berkata seperti itu". Ibnu Umar berkata,"Ya, itulah yang menyebabkanmu menjadi ahli surga. karena amalan itu sangat berat sekali pelaksanaannya.."
(sumber: http://maryamsmeer.blog.com/3428345/)
Beda lagi dengan kisah Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat rosul yang suara terompahnya terdengar di surga, dalam suatu riwayat bahwa suara terompahnya terdengar di surga karena Bilal selalu setelah menunaikan wudhu dia akan sholat sunnah wudhu, Subhanalloh...
Dan masih banyak lagi kisah para sahabat rosul yang dengan amalan-amalannya walaupun mungkin terdengar sederhana namun dapat membuat mereka menjadi ahli surga. Lalu apakah yang dapat kita ambil hikmahnya dari kisah para sahabat rosul itu?
Salah satunya adalah bahwa kita sebagai seorang muslim minimal harus mempunyai satu amalan unggulan yang walalupun nampaknya merupakan hal yang sederhana namun bisa jadi amalan unggulan yang sederhana itulah yang menjadi jalan kita menjadi ahli surganya Alloh Subhanahu wa ta'ala...amalan unggulan sederhana yang diamalkan dengan istiqomah, bisa saja setiap hari kita melaksanakan sholat dhuha walaupun mungkin hanya 2 rokaat, atau setiap senin-kamis kita shoum sunnah atau mungkin yang lebih sederhana lagi, kita niatkan setiap pagi bahwa senyum salam dan sapa yang akan kita bagi kepada sesama pada hari itu sebagai bentuk ibadah kita kepada Alloh, niat lillahi ta'ala...sebuah amalan sederhana namun bisa jadi mengantarkan kita ke surga yang didamba...tentunya keistiqomahan dalam melakukan amalan unggulan kita itu harus didasari keimanan dan aqidah yang kuat terhadap AllohSubhanahu wa ta'ala, karena sebagaimana dalam sebuah hadits bahwa bukan amalan kita yang kan mengantar kita ke surga, namun ridho Alloh-lah yang kan membuat kita menjadi ahli surga-Nya, dan untuk meraih keridhoan Alloh maka salah satunya adalah kita harus dapat istiqomah dan niat lillahi ta'ala dalam beramal sholeh...
Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"...Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
wallohu a'lam...
Beberapa menit kemudian, datanglah seorang sahabat yang berpenampilan sederhana. Sebut saja, si Fulan. Orang-orang terheran-heran, kok bisa dia jadi calon ahli surga?? Padahal, kalau dilihat-lihat, amalan kesehariannya rata-rata kok dengan para sahabat yang lain?
Hari berikutnya, dan berikutnya, Rasulullah pun berkata sama, dan orang yang sama juga yang dimaksud oleh Rasulullah. Akhirnya, salah satu sahabat, yakni Abdullah bin Umar bin Khattab rupanya tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya. Dia meminta izin pada sahabat tersebut untuk menginap beberapa hari di rumahnya. Misi Abdullah bin Umar satu: untuk menjawab pertanyaan tentang amal apa yang dilakukn oleh si fulan hingga dia mendapat "stempel" ahli surga. Setelah beberapa hari Ibnu Umar memperhatikan tentang amalan si Fulan..hasilnya, amalan tersebut merupakan amalan yang juga tidak ditinggalkan oleh para sahabat lain. Lalu, apakah yang spesial yang lain daripada yang lain?? Pertanyaan itu tidak terjawab. Akhirnya, Ibnu Umar mengakui misinya itu kepada si fulan, dan langsung meminta jawaban atas pertanyaan di atas. si fulan pun menjawab,"Wahai Ibnu Umar, sesuai dengan yang engkau lihat, amalanku kurang lebih sama dengan amalan kalian. namun, ada satu hal..setiap malam, sebelum aku tidur, di atas ranjangku aku berkata 'Ya Allah, aku maafkan semua kesalahan dari saudara-saudaraku yang mereka lakukan padaku hari ini baik yang disengaja maupun tidak'. mungkin itu yang menyebabkan Rasulullah berkata seperti itu". Ibnu Umar berkata,"Ya, itulah yang menyebabkanmu menjadi ahli surga. karena amalan itu sangat berat sekali pelaksanaannya.."
(sumber: http://maryamsmeer.blog.com/3428345/)
Beda lagi dengan kisah Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat rosul yang suara terompahnya terdengar di surga, dalam suatu riwayat bahwa suara terompahnya terdengar di surga karena Bilal selalu setelah menunaikan wudhu dia akan sholat sunnah wudhu, Subhanalloh...
Dan masih banyak lagi kisah para sahabat rosul yang dengan amalan-amalannya walaupun mungkin terdengar sederhana namun dapat membuat mereka menjadi ahli surga. Lalu apakah yang dapat kita ambil hikmahnya dari kisah para sahabat rosul itu?
Salah satunya adalah bahwa kita sebagai seorang muslim minimal harus mempunyai satu amalan unggulan yang walalupun nampaknya merupakan hal yang sederhana namun bisa jadi amalan unggulan yang sederhana itulah yang menjadi jalan kita menjadi ahli surganya Alloh Subhanahu wa ta'ala...amalan unggulan sederhana yang diamalkan dengan istiqomah, bisa saja setiap hari kita melaksanakan sholat dhuha walaupun mungkin hanya 2 rokaat, atau setiap senin-kamis kita shoum sunnah atau mungkin yang lebih sederhana lagi, kita niatkan setiap pagi bahwa senyum salam dan sapa yang akan kita bagi kepada sesama pada hari itu sebagai bentuk ibadah kita kepada Alloh, niat lillahi ta'ala...sebuah amalan sederhana namun bisa jadi mengantarkan kita ke surga yang didamba...tentunya keistiqomahan dalam melakukan amalan unggulan kita itu harus didasari keimanan dan aqidah yang kuat terhadap AllohSubhanahu wa ta'ala, karena sebagaimana dalam sebuah hadits bahwa bukan amalan kita yang kan mengantar kita ke surga, namun ridho Alloh-lah yang kan membuat kita menjadi ahli surga-Nya, dan untuk meraih keridhoan Alloh maka salah satunya adalah kita harus dapat istiqomah dan niat lillahi ta'ala dalam beramal sholeh...
Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"...Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
wallohu a'lam...
Langganan:
Postingan (Atom)