Tampilkan postingan dengan label Muhasabahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabahku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Februari 2020

Ibumu...Ibumu...Ibumu


Yang paling kiri adalah wanita bergelar Ibu yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidikku.
.
Yang tengah adalah wanita bergelar ibu yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik wanita yang kini menjadi pendamping hidupku.
.
Yang paling kanan adalah wanita yang juga bergelar ibu yang telah melahirkan dan akan membesarkan serta mendidik anak-anakku.
.
Mereka bertiga istimewa...sangat istimewa dalam hidupku...tiada bosan dan lelah kupanjatkan doa-doaku untuk tiga wanita ini.
.
Tak cukup kata-kata, tak cukup barisan puisi, tak cukup untaian syair untuk menggambarkan keistimewaan tiga wanita ini.
.
Cukup hadist rasul yang mulia yang menggambarkannya:
"Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Senin, 03 Februari 2020

Kebolak balik


Terinspirasi dari tulisan pak eko novianto (lupa yg judulnya apa, ngapunten pak) yg kalau tidak salah pada intinya kita seringkali terjebak membesar-besarkan masalah yg kecil dan mengecilkan permasalahan yang besar. Sebuah nasehat yang dalem yang kalau kita cermati situasi saat ini kok ya pas sekali dg tulisan tersebut. Di level diri sendiri saja kita sering masuk dalam jebakan ini. Dibuat ribet, pusing oleh hal-hal yg kecil, hal-hal yang remeh temeh tapi kadang lupa pada penyelesaian masalah yang jauh lebih besar, yang jauh lebih penting. Dalam level berumah tangga pun sering terjadi suami istri memperdebatkan hal kecil namun lupa dengan hal yang lebih besar dan esensial. Dalam level kehidupan berbangsa dan bernegara juga tak luput dari jebakan ini. Acapkali terjebak pada kesibukan sebuah seremonial namun abai pada bahasan hal yang besar dan substansial.
.
6 atau 9?
Bisa salah satunya atau malah keduanya. Hanya tinggal mengubah posisi melihat kita, tanpa perlu gontok-gontokan apalagi sampai jotos-jotosan, tanpa perlu merasa paling benar sendiri dan yg berbeda pendapat direndahkan. Semudah itu saja karena memang 6 atau 9 hanya hal kecil yang tak perlu menjadi besar, tak perlu menjadi viral di sosial media apalagi menjadi headline di televisi maupun surat kabar.

Selasa, 21 Januari 2020

Terkadang kita terlalu cepat


Kita pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup kita. Saat dunia seperti tak berpihak pada kita. Saat putus asa perlahan mendekati kita. Dan saat itu tiba kadang kita terlalu cepat berprasangka, kita terlalu cepat menduga bahwa kitalah yang paling menderita. Kita lupa bahwa pasti ada hikmah,ada pelajaran yang bisa kita ambil dari masa sulit itu jika kita sedikit sabar dan tidak terlalu cepat menduga. Kita lupa bahwa kadang masa sulit itulah yang kelak akan membuat kita lebih tangguh dari sebelumnya, lebih bijak dalam melihat hidup dengan segala problematikanya.
.
Terkadang kita terlalu cepat berprasangka
Terkadang kita terlalu cepat mengambil kesimpulan
Terkadang kita terlalu cepat menduga
Terkadang kita terlalu cepat membuat penghakiman
Terhadap takdir yang menimpa kita
entah itu yang menyenangkan atau menyedihkan.
Kita lupa bahwa Alloh tak kan memberi cobaan kecuali hamba-Nya mampu untuk menjalaninya.
Kita lupa bahwa kita hanya perlu sedikit bersabar dan sujud lebih lama.
Kita lupa dan kita hanya kadang terlalu cepat saja.

Senin, 20 Januari 2020

B U N G A


Sekitar dua hari terakhir ini perhatianku tersita oleh tanaman teratai di depan masjid kantor, karena dalam dua hari terakhir kulihat tanaman itu mulai berbunga. Kuperhatikan kemudian kuabadikan dengan kamera ponsel. Dari ia masih kuncup, sehari kemudian mulai mekar dan siang ini sepertinya mekar sempurna. Indah. Kata yang mungkin tepat untuk mendeskripsikannya.
.
Kemudian sambil memandangi hasil jepretan, aku berpikir dan merenung tentang bunga. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari alam semesta ini, salah satunya bunga, menurutku.
.
Bunga teratai itu tak pernah iri dengan kecantikan bunga mawar yang tersohor, ia tetap mekar dengan kelopak khasnya. Ia juga tidak iri dengan bunga melati yang terkenal dengan aroma wanginya, ia tetap saja mekar walau tak menghadirkan wangi. Pun kepada bunga anggrek yang anggun tumbuh menggantung, ia tetap saja tumbuh walau di kolam berlumpur. Ia tetap menjadi dirinya sendiri sebagai seuntai bunga teratai yang meliuk-liuk saat angin berhembus.
.
Dari situ, sisi lain diriku bertanya "bunga tidak pernah iri kepada bunga lainnya, mengapa manusia yang berakal banyak yang iri kepada sesamanya?"
"bunga juga tidak pernah ingin menjadi seperti bunga lainnya, ia tetap tumbuh menjadi dirinya sendiri, tapi mengapa manusia yang berakal, banyak yang ingin menjadi orang lain?"
Apa karena bunga yang tidak berakal?
Atau malah apa karena manusia yang berakal?

Kamis, 16 Januari 2020

Merasa Pantas


Ini foto saya ambil saat saya masih bertugas di ibukota di salah satu masjid instansi yang katanya tergolong "seksi" di negeri ini. Sepanjang ingatan saya (yang daya ingatnya ga panjang), ini pas ada kajian di masjid tersebut. Saat saya baca apa yang terpampang di foto ini dan saya bandingkan dengan apa yang selama ini saya lihat dan rasakan, ternyata memang masih sangat relevan sekali. Banyak orang yang merasa pantas (mungkin termasuk saya) pantas dalam hal apapun. Sehingga membuat mereka (yang merasa pantas) itu susah untuk menerima nasehat/masukan/kritik karena ya itu tadi "merasa pantas". Seolah-olah orang yang memberi nasehat/masukan/kritik (dan levelnya ada dibawahnya) adalah orang yang ingin menjatuhkan dan menghilangkan ke-"pantas"-annya.
.
Padahal kalau dipikir atau kita coba pikir dan renungkan, yang "merasa pantas" kan juga manusia yang mana tempatnya salah, lupa dan juga punya kemampuan yang terbatas. Kita butuh orang lain untuk mengingatkan agar ketika mulai melenceng ada yang meluruskan. Namun ya karena sudah "merasa pantas" kemudian fitrah-fitrah sebagai manusia kadang diterabas.
.
Padahal mungkin saja
.
yang "merasa pantas" tak punya cukup kapabilitas
yang "merasa pantas" tak punya cukup integritas
yang "merasa pantas" tak cukup awas
yang "merasa pantas" tak tahu tentang ambang batas.
yang "merasa pantas" tak cukup tegas
yang "merasa pantas" hanya sampai pada tataran merasa pantas

Rabu, 08 Januari 2020

Cita-Cita



Sewaktu kita kecil seringkali bahkan mungkin hampir pasti ibu bapak guru kita pernah mengajukan pertanyaan "Cita-citamu apa sayang?" atau "Kalau sudah besar mau jadi apa?"
Dan seperti sudah menjadi hal yang umum anak2 dulu (yg satu angkatan dengan saya) menjawab dengan jawaban dokter, polisi, tentara, presiden, guru, atau ingin seperti bapak/ibu atau profesi-profesi yang umum ada waktu itu. Ada yang menjaga cita-cita tersebut hingga akhirnya bisa mewujudkannya dengan segala macam upaya dan daya. Namun tak sedikit juga yang cita-cita nya kandas oleh situasi dan kondisi atau malah kandas oleh sebuah kompromi.
.
Bahkan mungkin diantara kita pada saat dulu ditanya cita-cita tidak ada yang menjawab menjadi PNS/ASN, betul? Namun nyatanya saat ini banyak yang setelah dewasa cita-citanya ingin menjadi PNS/ASN. Karena ya ada situasi kondisi dan juga kompromi yang kemudian kita mendefinisi ulang cita-cita kita. Ada yang mendefinisi ulang cita-citanya ketika memasuki gerbang SMA, ada yang mendefinisi cita-cita saat di bangku kuliahan. Pun juga ada yang mendefinisi ulang cita-citanya saat sudah beranjak tua. Cita-cita tidak selalu sama dengan profesi yang sedang kita jalani saat ini, walaupun ada yang profesi saat ini sama dengan cita-citanya.
.
Selanjutnya adalah muncul pertanyaan "apakah yang kandas cita-citanya adalah yang gagal?" Belum tentu, bahkan mungkin dengan kandasnya cita-cita tersebut menjadi jalan lain untuk menuju sukses -tentunya sukses dengan definisinya masing-masing-. Apapun cita-cita kita serta menjadi apa kita sekarang dan masa yang akan datang yang paling penting adalah kita bisa menjadi manusia yang berguna, bermanfaat bagi sekitar kita.
.
Sebagai penutup saya jadi ingat pesan kawan saya "Fi gantungkan cita-citamu setinggi-tingginya, jadi klo pun ga nyampe kamu masih ada di atas tidak dibawah."

Aku kalah Aku Pilih Menyerah, Jakarta


Jakarta sebuah kota dimana aku pernah hidup didalamnya, kota yang begitu banyak memberi diri ini pelajaran berharga, kota dimana aku bertemu sekumpulan keluarga baru, kota yang menempa diri menjadi lebih dewasa, dan kota dimana tersimpan banyak kenangan suka maupun duka.
Jakarta itu ibukota yang kata orang dulu lebih kejam dari ibu tiri. Namun aku bersyukur bahwa yang kujumpai dari kota ini adalah keramah-tamahannya. Kesempatan dan hingar bingar Jakarta bagai gula yg membuat semut-semut datang berebut.
.
Sekitar 4 tahun hidup di jakarta dengan status jomblo buatku tak terlalu masalah dengan kompleksitas permasalahan jakarta. Ku mencoba menikmati. Namun saat anak-anakku lahir aku berpikir ulang tentang kota ini. Benar kata orang, prioritas kita akan perlahan-lahan bergeser ketika kita sudah mempunyai anak. Begitu jg denganku. Pola pikir anak desa masih melekat di pikranku walaupun hampir satu dekade tinggal dijakarta.
.
Dan pada akhirnya aku memilih bahwa:
Aku telah menyerah dengan hingar bingar Jakarta,
Aku telah kalah dengan hiruk pikuknya Jakarta,
Aku telah kalah dengan ego anak desa,
Aku tak sekuat dan setegar orang-orang yang mengadu nasib dan peruntungannya di Jakarta.
Namun aku bersyukur pernah hidup di Jakarta.
.
Mereka yang masih hidup dijakarta adalah orang-orang yang menurut saya lebih tangguh, lebih tegar, lebih kuat dari rata-rata orang dalam segi mental, daya juang dan pikiran.
.
Dan kini jakarta dan daerah sekitarnya terendam banjir, mari kita sama-sama doakan agar banjir segera surut dan warganya kembali bangkit serta menjalani hidup seperti sedia kala dan menjadi lebih bahagia. Karena jakarta milik kita bersama, seluruh warganya adalah saudara kita.

R E S O L U S I



Kata yg sering dan nyaring terdengar di akhir atau awal tahun, menggambarkan apa yg jadi harapan di tahun mendatang. Namun menurut saya agak sedikit kurang pas kalau resolusi harus menunggu akhir atau awal tahun, lagi-lagi menurut saya. Kalau resolusi diartikan/digambarkan sebagai sebuah harapan yg harus atau paling tidak berusaha diwujudkan di masa datang maka lebih pas kalau resolusi itu kita tetapkan setiap hari.
.
Di malam penghujung hari kita kontemplasi apa yg sudah kita lakukan seharian, apa yg kurang tepat, apa saja keliru kita dan kemudian setelah itu kita susun resolusi utk hari esok. Apa saja harapan yg harus (berusaha) kita wujudkan, apa saja keliru yang harus kita luruskan. Yang tentunya outcome dari resolusi itu adalah hari ini menjadi lebih baik dari hari yang lalu.
.
Kata orang hari kemarin telah terlalui, hari ini sedang kita jalani dan hari esok adalah misteri. Pertanyaannya adalah jika esok hari itu sebuah misteri, apakah akan berakhir baik jika kita jalani tanpa ada rencana atau resolusi?

Engkau Utuh Aku Separuh


Tak perlu kau jadi mawar
Tuk tunjukkan arti indah merekah
Tak perlu kau jadi tulip
Tuk tunjukkan arti keanggunan

Tak perlu kau jadi rembulan
Tuk tunjukkan arti kelembutan
Tak perlu kau jadi pelangi
Tuk tunjukkan sebuah jati diri

Cukup jadi dirimu sendiri
Dengan kurang dan lebih yg ada

Tak perlu jua kau jadi bidadari
Cukup jadikan bidadari cemburu padamu
Dengan taat dan patuhmu
Pada Tuhanmu
Pada Rasulmu
Pada belahan hatimu
Pada orang tuamu

Cukup...cukup...
Cukup engkau dengan utuhmu
Karena Engkau Utuh adalah aku separuh

G A D U H


Gaduh tak selalu mengaduh
Tak juga selalu tentang keluh
Gaduh jua tak selalu gemuruh
Tak juga harus berpeluh

Sewaktu...gaduh itu perlu
Untuk memecah pikir yang keras membatu
Untuk menyentuh hati yang dingin membeku

Gaduh itu keniscayaan
Agar muncul perbaikan
Agar timbul kesyukuran
Agar membuka sumbat dalam ingatan

Gaduh tak selalu rusuh
Kadang gaduh buka mata yang terlanjur menatap separuh
Agar kemudian menatap seluruh
Karena setiap sisi tatap itu ada pengaruh

Separuh separuh mula gaduh
Atau gaduh yang buat separuh separuh?

Kamis, 26 Desember 2019

Diam




Kata orang diam itu emas
Namun saat ada umat manusia tertindas?
Oleh tirani yang beringas
Entah apapun itu suku, agama, ras
Apakah tetap menjadi emas yang mengkilat?
Ataukah pertanda hati yang berkarat?

Diam itu bijak kata orang
Namun saat kesenjangan semakin timpang?
Saat si miskin semakin terjengkang
Dan si kaya semakin anggun melenggang
Apakah tetap menjadi bijak?
Ataukah pertanda ego yang congkak?
Atau mungkin empati yang telah terkoyak?

Orang bilang diam jangan gaduh
Namun saat keadilan telah mengaduh
Genderang dusta semakin tertabuh
Korupsi semakin bergemuruh
Apakah tetap diam agar tak gaduh?
Atau pertanda kebenaran semakin runtuh
pada mata batin yang semakin rapuh
Terkikis oleh duniawi yang semakin angkuh

Sabda Rasul Diam itu suatu kebaikan
Saat tak dapat lagi lisan
Berucap baik baik suatu perkataan
Karena diam
miliki pertanggungjawaban

Diamlah saat tersulut api amarah
Agar tak terucap caci maki dan sumpah serapah
Agar tiada sesal karena gegabah

Diam tak selalu bungkam
Bersamanya kadang doa-doa turut bersemanyam
Tempat pikiran-pikiran sejenak mendekam

Bangkitlah dari diam
Bangkitlah dalam diam
Ajaklah tangan saling bergenggam
Angkat jati diri bangsa yang hampir tenggelam
Dalam lautan modernisasi yang makin mengancam

Diam diam berbuat?
Atau berbuat diam diam?

Rabu, 18 Desember 2019

Berbuatlah (Puisi yg keberapa entah)

Berbuatlah
Meski hanya menebar salam yang penuh berkah
Meski hanya membagi senyum yang indah merekah

Berbuatlah
Meski hanya berdoa dengan harap ijabah
Meski hanya berbagi dengan sedekah

Berbuatlah
Meski hanya menahan amarah
Meski hanya empati kita asah

Berbuatlah
Dalam hening maupun gegap meriah
Meski harus terengah-engah melawan lelah

Berbuatlah
Walau kita bukan siapa siapa tak masalah
Walau tiada panggung nan megah biarkanlah

Berbuatlah
Karena negeri ini sudah jengah
Atas korupsi yang kian merambah
Atas kemiskinan yang semakin bertambah

Berbuatlah
Karena bangsa ini telah lelah
Atas selisih yang buat darah sesama anak bangsa pun tertumpah
Atas segala sumpah serapah

Berbuatlah
Karena tiada akan keadaan berubah
Kalau kita hanya diam mengalah

Berbuatlah
Karena negeri ini tak hanya milik pemerintah
Karena damai sejahtera dari kitalah

Jumat, 18 Oktober 2019

Lelaki tak boleh mengeluh

Laki-laki itu tak boleh mengeluh
Mengeluh dihadapan istri
Mengeluh dihadapan anak
Mengeluh dihadapan orang tua

Seberat apapun beban yang dirasa
Seruwet apapun pikirannya
Se-bergejolak apapun batinnya
Laki-laki tak boleh mengeluh

Karena laki-laki itu pemimpin keluarga
Karena laki-laki itu pun pemimpin bagi dirinya

Laki-laki hanya boleh mengeluh kepada Tuhannya
Di sepertiga malam yg sunyi dan gelap gulita
Di dalam sujud-sujudnya yg panjang
Di dalam doa-doanya yg penuh pengharapan
Mengeluh lah wahai lelaki

Sampaikan beratnya beban hidup yg kau pikul
Sampaikan ruwetnya pikiran yg kau rasa
Sampaikan gejolak batin yg melanda

Jika perlu menangis, menangislah wahai lelaki
Menangislah dihadapan Tuhanmu Yang Maha Penyayang
Bermohonlah kepada Tuhanmu Yang Maha Pemberi
Tundukkanlah hati dan dirimu serendah-rendahnya kepada Tuhanmu Yang Maha Perkasa Yang Maha Segalanya

Agar Dia angkat dan ringankan beban hidupmu
Agar Dia jernihkan dan luruskan pikiranmu
Agar Dia tenangkan gejolak batinmu
Dengan Rahmat-Nya
Dengan Barokah-Nya
Dengan Keridhoan-Nya
Dengan Segala ke Maha Besaran-Nya

Jangan mengeluh wahai lelaki

Rabu, 04 September 2019

SENJA

Senja....

Apakah kita kan sampai kesana?

Ketika rambut mulai memutih karenanya

Melihat anak-anak dan cucu-cucu menjenguk diri yang tua renta

Senja....

Memutar kembali sebuah memori akan suatu masa

masa lampau saat diri muda

saat kaki kuat melangkah tanpa menghitung jaraknya

Senja....

apakah kita sampai kesana?

atau ajal terlebih dulu datang pada kita?

Berjumpa ataupun tak bersua dengan senja

hanya satu ingin yang terselip dalam doa

semoga kita sempat bertobat atas segala maksiat dan dosa

Rabu, 10 Agustus 2016

Ada Masa Dimana

Ada masa dimana kan kuucap Selamat Tinggal Jakarta...
Ada masa dimana kan kuucap Terima Kasih Jakarta...
Ada masa dimana kan kuucap Maaf Jakarta...
Ada masa dimana kau menjadi cerita bagi anak cucuku, Jakarta...
Ada masa dimana kan kukenang engkau Jakarta...
dengan segala hiruk pikuknya...
dengan segala suka dukanya...
dan segala hal yang ada didalamnya...

Ada masa namun entah kapan datangnya...

Kamis, 22 Januari 2015

Sungguh Bersama Kesulitan disitu ada Kemudahan

picture taken from www.iqbalnurhadi.com

Rabu, 21 Januari 2015, sekitar jam berangkat kantor

Pagi itu, rutinitas yang biasa kulakukan setelah sholat subuh adalah menyapu lantai ruang tengah yang pada malamnya dibuat berantakan oleh my sholeh boy Farras, kemudian membangunkan istri untuk sholat subuh, sembari menunggu istri selesai sholat subuh kutunggui anak sholehku yang masih terlelap. Entah mengapa pagi itu rasa kantuk begitu gencar menyerang diri ini, sehingga ketika farras sudah bangun dan menonton kartun di TV, diriku tidur-tiduran di sebelahnya. Kemudian tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 kurang 10, "waduh belum mandi pula awak ini" batinku, sementara istri sedang memasak untuk bekalku langsung saja diri ini bergegas mandi. Ternyata selesai mandi istri meminta tolong untuk membelikan bubur ayam untuk makan Farras "wedew, udah jam 7 Yank, bisa telat nih.."ujarku, namun melihat antusias anakku makan bubur ayam yang begitu menyenangkan dan rasa cinta sang ayah (cie...cie...) maka kuputuskan untuk membelikan bubur ayam. Dengan bensin tinggal dua strip kulaju motor menuju kantor, sempat berpikir untuk mengisi bensin namun setelah kuhitung-hitung sisa waktu sepertinyab masih cukup untuk sampai kantor tanpa embel-embel terlambat dan kena potongan absen. Namun apa daya ketika diwaktu kritis ada pak polisi yang memblokir jalan yang biasa diriku lalui, sehingga mau tak mau harus memutar dulu dan taraaaaa...jari ini mendarat di mesin absen pukul 08.05 WIB, "ehm...yap kena potong absen lagi dah..." gumamku. 

Rabu, 21 Januari 2015, sekitar pukul 17.00 WIB

Karena pagi tadi tercatat absensiku pukul 08.05 WIB maka begitu jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, diriku langsung menempelkan lagi jari ini di mesin absensi. Yo, sudah dipotong 1% yowislah pulang tepat waktu, lagipula kerjaan kantor juga sudah kelar hari itu. Langsung kuturun ke Basement 2 dan melajukan motor meninggalkan kantor.

Rabu, 21 Januari 2015, sekitar pukul 18.05 WIB

Rintik hujan membasahi bumi sejak diri ini meninggalkan kantor untuk pulang kerumah kembali kepada istri dan anak tercinta. Kuputuskan untuk tidak mengenakan jas hujan karena kulihat diseberang sana awan masih terlihat cerah walaupun didaerah sekitar kantorku rintik hujan ini terasa semakin deras dan awan mendung semakin bergelayut diatas sana. "Sepertinya didaerah Pakubuwono hujan ini akan berhenti" batinku. Terus kulajukan motor palt R ku ini melewati padatnya jalanan Sudirman dan kemudian ketika sampai di Pakubuwono eh gerimisnya awet ternyata, "mau minggir make jas hujan kok tanggung ya" batinku, yasudahlah walhasil gerimis pun sedikit demi sedikit membasahi jaket, celana, tas dan motor ini... :D Sebetulnya sejak meninggalkan kantor ban belakang motor terasa ada yang tidak beres, namun tetep aja ngacirrrr, dah pingin ketemu anak istri soalnya, hehehe...dan ternyata benar, ketika perjalanan menyisakan sekira 5-6 Km dari rumah terdengar bunyi "duorrr!!!", celingak-celinguk "darimana suara itu ya? apa yang meletus" batinku, ternyata baru 2 meter jalan terasa bagian belakang geal-geol, ternyato eh ternyata bunyi dor tadi itu bunyi ban belakangku yang meletus. Akhirnya kutuntun motor sambil celingak-celinguk mencari tukang tambal ban, tak jauh ternyata terlihat kompresor yang biasa digunakan untuk tambal ban atawa isi angin, "Alhamdulillah..." gumamku sambil tersenyum, eh...ketika sudah sampai ditempatnya dan kuminta untuk menambal ban, si empunya kompresor bilang kalau tidak melayani tambal ban "What!!!" ehm yawislah disebelahnya persis juga nampak kompresor juga, namun lagi-lagi ketika kuminta untuk tambal ban jawabannya sama dengan sebelahnya..."ehm...ni orang mau ta kasih rejeki kok malah ga mau sieh!" gerutuku. Kulanjut menuntun motorku dan karena duit di dompet tinggal satu lembar kertas berwarna biru dengan gambar I Gusti Ngurah Rai alias 50 rebu maka ketika kulihat ada papan penunjuk ATM salah satu bank yang ATMnya setia berada dalam dompetku kuputuskan untuk mengambil uang dulu, karena pasti ganti ban dalem dan ban luar. Singkat cerita setelah jalan 200 meter dipertemukanlah saya dengan seorang yang berjasa pada sore gerimis itu "Tukang Tambal Ban". dan bener juga setelah dilihat ban dalem sama ban luar udah bolong, walhasil harus ganti dua-duanya, namun karena si Mas Tambal Ban ga punya ban luar yang baru maka ditawarkanlah kepadaku ban luar bekas, "daripada harus nyari ban baru lagi, ga papalah buat sementara pake ban bekas aja" pikirku.

Singkat cerita selesailah permasalahanku pada sore itu berkat pertolongan Alloh melalui Si Mas Tambal Ban, dengan biaya Rp 40 rebu buat ban dalem dan Rp 25 rebu buat ban luar bekas (padahal itungan saya ban luar bekas sekitar 40 rebu). Selesai tambal ban dan mampir di mushola terdekat untuk sholat maghrib, kulaju lagi motor supraku dan ternyata ada lagi kesulitan, sekitar 2 Km dari rumah ternyato motor mogok karena kehabisan bensin (nyambung sama yang pas pagi tadi...), yowis akhirnya dorong motor lagi...eh lha baru dorong 50 meter tau-tau ada orang dari belakang nyapa "Mas, kenapa motornya? bocor?" tanyanya 
"nggak mas, ini kehabisan bensin" jawabku sambil nyengir 
"ya udah yuk saya bantu dorong" tawarnya 
"owh, boleh mas" 

Walhasil dengan pertolongan Alloh melalui Si Mas baik hati, saya terhindar dari ngos-ngosan dan baju basah keringat karena menuntun motor ke SPBU, setelah mengucap terima kasih kepada Si Mas baik hati itu, kubelokkan motor ke SPBU untuk isi bensin. Lha ini kesulitan sama kemudahannya dimana woiiii...hehehehe sabar mas/mbak bro ini mau saya hubung-hubungin, hehehe jadi habis isi bensin dan melanjutkan perjalanan saya mikir, 

Ya Alloh bener-bener dah bersama kesulitan ada kemudahan... 

yang pertama
Kesulitan : terlambat masuk kantor dan tunjangan dipotong 
Kemudahan : bisa pulang tepat waktu :D 

yang kedua
Kesulitan : Ban motor jebol Kemudahan : tukang tambal ban ga terlalu jauh dari TKP (walau sempet ngedumel sama yang ga mau nambal), terus deket ATM juga jadi bisa ambil duit dulu dan terhindar dari kurang membayar jasa Si MAs Tukang Tambal Ban
yang ketiga
Kesulitan : motor kehabisan bensin
Kemudahan : ada orang yang berbaik hati mendorong saya sampai SPBU

sederhana sieh ya...tapi sebenernya banyak hal-hal sederhana dan kecil yang kalau dipikir direnungkan dihayati ternyata hal sederhana dan kecil itu salah satu bukti ke Maha Besaran Alloh SWT...
End of story....at 7 pm i arrived at home...with smile of my son and my wife i back to the harm of love (maap klo bahasa inggrisnya acak adul, still on learning proccess.. :D)

Jumat, 02 Januari 2015

Menyoal Barokah Dalam Rumah Tangga

Kagak terasa udah tahun 2015 aje (kate kalender masehi), nyoba mikir and merenung ape aje nyang udah terjadi tahun 2014 and tahun-tahun yang udah lewat, ternyate banyak banget waktu aye nyang aye sia-siain. Lagi mikir trus berkontemplasi (cie...kontemplasi ^_^) ujug-ujug keinget keluarga kecil aye (aye, istri ama anak), aye keinget ape bener aye udah jadi kepala keluarga nyang baek. Aye inget-inget dulu pas nikah banyak bener nyang ndoain aye ama istri semoga keluarganye jadi keluarga nyang dilimpahi Barokah ame Gusti Alloh...nah pas nginget-nginget ntu aye penasaran nieh ceritanye ape sieh arti kate Barokah ntu, akhirnya aye tanya dah ama mbah Google ape ntu artinye Barokah, ternyata Barokah ntu artinye (dari ni website ) secara ilmu bahasa, “al-barakah” berarti "Berkembang, bertambah dan kebahagiaan". Jadi dari ntu website singkatnye barokah ntu kebaikan nyang bertambah terus, nah aye terus mikir setelah aye berumah tangga ape iye kebaikan aye bertambah? Apa malah tetep aje kebaikannye, nambah kagak kurang juga kagak? Ato malah kebaikan aye jadi berkurang?

Setelah aye inget-inget ternyata aye termasuk nyang terakhir ntu, kebaikan aye dalam hal ini amalan-amalan aye kok jadi berkurang ye after having a little family (ceritanye make bahasa inggris), abis keinget itu aye langsung aje inget ama ayat di surat cinta Gusti Alloh tepatnye di surat Al-Muafiqun ayat 9 nyang artinye "Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi". Deg...langsung ketohok aye baca ayat ni, kadang aye sibuk maen-maen ama anak ama istri sampe ketinggalan sholat berjamaah, Ya Alloh ampuni aye... T_T

Abis itu aye lurusin niat, aye kuatin tekad, aye mau berubah, aye kagak mau jadi orang nyang rugi. Aye pernah baca katanye buat mbentuk kebiasaan cukup dijalanin tuh kebiasaan selame 21 hari klo kagak salah, makanye aye niatin and tekadin buat sholat wajib 5 waktu berjamaah, soalnye begitu aye inget lagi dulu nieh pas masih bujang Alhamdulillah aye bisa laksanain sholat 5 waktu jamaah di masjid, nah berarti kan abis nikah aye jadi kurang nieh amalan aye, makanye aye kuatin tekad numbuhin lagi kebiasaan ntu. Lagian kate psikolog anak katanye klo mau ngajarin kebaikan ama anak cara nyang paling baik and paling ngena ya kite kasih contoh/teladan ke anak kite, gitu katanye...ya udah, aye kan pingin anak aye jadi anak nyang soleh, ya kudunye kite as a parent give the best example, jadi klo kite pingin anak kite rajin ke masjid, ya kite selaku babenye kudu rajin ke masjid, ato klo kite pingin anak kite rajin baca Qur'an, ya kite juga kudu nyontohin rajin baca Qur'an juga...kira-kira begono lah.

Akhirnye, last but not least di akhir tulisan nyang alurnye kagak beraturan ini, aye pingin ngajak kite semue yuk kite kasih contoh ke anak kite nyang baek-baek, trus jangan sampe kayak nyang disebut di surat Al-Munafiqun ayat 9 ntu ye biar kite kagak jadi orang nyang rugi...and buat penutup aye keinget kata-kata sohib sekaligus nyang udah aye anggep guru aye "Kagak ade lu sorga ga rame coy..." (intinye fastabikul khoirot nyookkk...)

akhirul kalam Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
ampe ketemu di tulisan berikutnye....cao... ^_^

Kamis, 09 Januari 2014

HUJAN : Kenangan dan Harapan


Hujan selalu saja membawa diri pada keping-keping kenangan yang tersimpan dalam ingatan.
Berbagai kenangan indah mengelebat dalam pikiran
Tetesannya membasahi memori dengan kenang bersama orang-orang tersayang
Indah...sungguh indah...kembali mengingat kejadian-kejadian yang tlah berlalu
membawa diri menyadari bahwa ternyata cepat sekali berlalu sang waktu
Hujan membawaku pada kenangan....

Hujan jua membawa
tetesan harapan
tetesan impian
tetesan cita-cita yang belum terkabulkan
Hujan mengingatkan diri untuk tak bosan untuk bermimpi kemudian berdoa
berharap kemudian berdoa
bercita-cita kemudian berdoa dan berusaha
Hujan mengingatkan diri untuk senantiasa percaya...percaya...dan terus percaya
bahwa cita-cita, impian dan harapan dapat terwujudkan
Hujan membawaku pada harapan...
dan ketika hujan itulah salah satu saat dimana Alloh mengijabah doa-doa kita...



*) picture taken from http://privatesastra.blogspot.com

Kamis, 13 Oktober 2011

Ketika Sang Mawar Mekar dari Kuncupnya


Dahulu, pada saat saya masih berstatus bujangan sungguh sangat bahagia rasanya ketika mendengar kabar atau mendapat undangan seorang teman yang akan menggenapkan setengah agamanya, baik itu teman SD, SMP, SMA, kuliah ataupun rekan kerja. Namun ternyata bukan hanya bahagia saja yang hinggap di hati saya, disana ada juga ada tanya “Kapan saya bisa menyusul mereka?”. Selalu dan selalu saja begitu ketika ada teman yang akan menikah, ada bahagia, ada juga tanya. Ketika saya lulus dari salah satu perguruan kedinasan di negeri ini, keinginan menikah telah ada dalam hati ini, “Lulus kuliah sudah langsung dapat kerja, terus mau apa lagi?” begitu kira-kira tanya yang bergaung dalam pikiran dan hati saya. Namun ternyata gayung belum bersambut, beberapa kali lobi kepada ibunda tercinta dan proses untuk ta’aruf berujung pada satu kata yaitu kegagalan. Setiap kali lobi ataupun proses ta’aruf menemui jalan kegagalan, satu yang kuingat pas ti saat itu bahwa “Sesuatu itu akan indah pada saatnya”. Entah dari siapa kalima itu berasal, yang pasti itulah kalimat penghibur diri ketika kegagalan atang menghampiri. Setelah akhirnya diri ini menggenapkan separuh agamanya lalu terbuai dalam alunan melodi cinta, kalimat “Sesuatu itu akan indah pada saatnya” seakan menguap begitu saja dari ruang hati dan pikir ini, hingga akhirnya dalam sebuah perenungan diri, kalimat tersebut muncul kembali, menghadirkan makna yang lebih dalam dari sebelumnya. “Sesuatu akan indah pada waktunya, karena Alloh Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya, terus berusaha, berdoa, percaya dan tunggulah datangnya kejutan indah dari-Nya, InsyaAlloh” itulah makna yang kudapati dari kalimat tersebut.

Ambillah perumpamaan sederhana seorang yang menginginkan sebuah mobil yang layak, dia sudah berusaha dan berdoa namun belum juga ia dapati mobil yang diinginkannya, namun setelah sekian lama menunggu, tiba-tiba Alloh berikan limpahan rizqi untuknya sehingga ia dapat membeli sebuah mobil yang spesifikasinya lebih tinggi dari mobil yang dulu diinginkannya. “Sesuatu itu akan indah pada saatnya”, bisa jadi saat orang itu menginginkan mobil dan dia masih belum bisa mendapatkannya, penghasilan yang dia peroleh pada saat itu menjadi tak cukup untuk biaya perawatan mobil dan bahan bakar mobil tersebut. Namun ketika saatnya tiba orang itu untuk memiliki sebuah mobil maka saat itu telah ada kesiapan baginya untuk membiayai perawatan mobil dan bahan bakarnya karena Alloh telah limpahkan rizqi untuknya.

Teruntuk saudara-saudariku yang sedang menanti hadirnya sang buah hati, mencari pendamping hidup, mencari pekerjaan dan menanti terwujudnya harapan-harapan dalam hidup ini hanya sebuah nasehat ini yang dapat kusampaikan kepada kalian . “Sesuatu akan indah pada waktunya sebagaimana keindahan sang mawar yang tebarkan wangi ketika ia mekar dari kuncupnya”, karena Alloh Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya, terus berusaha, berdoa, percaya dan tunggulah datangnya kejutan indah dari-Nya, InsyaAlloh...


kita hanya perlu menahan diri sejenak saja, walaupan memang itu tidak mudah...*)

*) status gtalk Masker (dengan sedikit edit)

Senin, 31 Januari 2011

Bersama Kesulitan ada Kemudahan (2)

28 Januari 2011

Oh ya, sebelum jauh ku bercerita disini sedikit mengingatkan kalau tulisan ini berhubungan dengan tulisanku sebelumnya yaitu Bersama Kesulitan ada Kemudahan. DI tulisan sebelumnya ibundaku masih berkeberatan jikalau diriku dan dirinya melaksanakan akad nikah dahulu, namun setelah ku meminta pendapat kepada salah seorang rekan kerja, beliau menyarankan diriku untuk mencoba kembali melobi ibundaku, bukan berarti menentang ibundaku namun ketika hal yang memang harus disegerakan ternyata ditunda bukan karena alasan yang syar'i maka melobi ibunda adalah jalan ikhtiarku untuk menyegerakan apa yang seharusnya disegerakan. Oleh karenanya, ba'da sholat isya ku telpon Paklik-ku yang selama ini menjadi tempat ibu untuk sharing atau merundingkan sesuatu dalam keluarga besar kami. Pembicaraan dengan Paklik-ku langsung ke inti permasalahan, kusampaikan keberatan ibundaku juga kusampaikan bahwa hal ini (menikah) merupakan salah satu urusan yang tak boleh ditunda-tunda jika memang sudah siap, walaupun akad dahulu kukatakan bahwa itulah sebenarnya substansi dari pernikahan, karena setelah akad itulah ku telah halal bagi istriku dan istriku pun telah halal bagiku masalah resepsi walaupun memang dianjurkan bisa dikatakan sebagai pelengkap saja. Alhamdulillah Paklik-ku sependapat denganku dan ketika ku minta bantuannya untuk melobi ibundaku, beliau bersedia, "Baiklah Fi, besok mungkin akan Paklik telpon ibumu" begitu kata beliau.

29 Januari 2011

Alhamdulillah akhirnya hari yang dinanti datang juga, sabtu, saatnya untuk sejenak merehatkan tubuh ini setelah penat yang menggelantungi diri selama senin-jum'at. Seperti biasa jadwal yang kurancang untuk sabtu ini adalah mencuci pakaian. Sempat bermalas-malasan akhirnya agenda mencuci terlaksana juga (maklum anak kos, hehehehe). Seusai mencuci ku kembali ke kamar, sembari ingin mengetahui jam berapa saat itu kulirik HPku, dan ternyata ada 2 misscall dari Paklik-ku, "Wah pasti Paklik sudah menelpon ibu nieh" batinku. Langsung saja ku telpon balik beliau, dan ternyata benar dugaanku, Paklik telah menelpon ibunda dan menyampaikan seperti apa yang kusampaikan kemarin kepada beliau, kata Paklik-ku setelah beliau menjelaskan kepada ibundaku, sepertinya ibunda sudah menyetujui dan tidak berkeberatan lagi, "Alhamdulillah" batinku.

Ketika pagi beranjak meninggi menuju siang hari satu SMS dari ibundaku masuk ke HP ini, "Fi sudah dapat belum maharnya" begitu isi SMS ibundaku. "Wah, benar nieh kata Paklik, ibu bertanya seperti ini berarti ibu sudah setuju" batinku, lalu kubalas "Belum bu, InsyaAlloh besok baru saya cari".

Dan saat malam datang mengganti siang yang telah tenggelam oleh gelap, ku telpon ibundaku ba'da sholat isya, sembari membicarakan tentang mahar yang baru besok kucari kutanyakan jua bagaimana jadinya kalau akad dahulu, dan ibundaku berkata "ya sudah ndak apa-apa kalau akad dahulu..." Alhamdulillah...berulang kali ku puji nama-Mu Ya Alloh....

Kemarin saat kesulitan datang menyapa ku yakinkan diri bahwa pasti di ujung jalannya Alloh telah memarkir Kemudahan, dan Alhamdulillah kemudahan itu akhirnya Alloh berikan padaku dalam urusan ini. Karena dalam ayat cinta-Nya yang begitu indah, Alloh telah tegaskan dua kali "Fa Innama'al 'usri yusro. Innama'al 'usri yusro." (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan) Q.S 94 : 5-6.

Sedikit saja membahas dua ayat diatas (jadi biar ngga cuman curhat doank, tapi nambah ilmu juga...hehehehehehehehe), saya ambilkan pembahasan dari tafsir Juz 'amma karya Syaikh Utsaimin disebutkan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallohu anhu tentang ayat ini berkata, "Tidak akan mungkin satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan".*

menurut ahli balaghah, "Arah perkataanya adalah bahwa kesulitan tidak disebut melainkan satu kali". Lho kok bisa?

Jadi Kesulitan yang pertama diulang dalam kesulitan yang kedua dalam bentuk ma'rifah** sedangkan kemudahan disebut dalam bentuk nakirah. Kaidahnya, jika ism disebut dua kali dengan bentuk ma'rifah, maka yang kedua sesungguhnya adalah yang pertama, kecuali sangat sedikit yang tidak demikian. Sedangkan jika ism disebut dua kali dalam bentuk nakirah, maka dia bukan yang pertama. Jadi di dalam dua ayat yang mulia diatas, dua kemudahan dan satu kesulitan. Karena kesulitan disebutkan dua kali dengan bentuk ma'rifah.

Perkataan ini adalah berita dari Alloh Azza Wa Jalla dan berita-Nya adalah berita yang paling sempurna kebenarannya. Janji-Nya tidak pernah diingkari.

Setiap kali suatu perkara sulit bagi anda, maka tunggulah Kemudahannya.


* : Al-Muwaththa', (2/446); Ibnu Abi Syaibah, (5/335, 13/308); Al-baihaqi, Syu'ab Al-Iman, (7/205-206); dan Al-hakim, (2/301).

** : lafazh yang menunjukkan benda tertentu


Sumber : Pengalaman Pribadi dan Tafsir Juz 'Amma karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darul Falah