Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Februari 2020

Ibumu...Ibumu...Ibumu


Yang paling kiri adalah wanita bergelar Ibu yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidikku.
.
Yang tengah adalah wanita bergelar ibu yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik wanita yang kini menjadi pendamping hidupku.
.
Yang paling kanan adalah wanita yang juga bergelar ibu yang telah melahirkan dan akan membesarkan serta mendidik anak-anakku.
.
Mereka bertiga istimewa...sangat istimewa dalam hidupku...tiada bosan dan lelah kupanjatkan doa-doaku untuk tiga wanita ini.
.
Tak cukup kata-kata, tak cukup barisan puisi, tak cukup untaian syair untuk menggambarkan keistimewaan tiga wanita ini.
.
Cukup hadist rasul yang mulia yang menggambarkannya:
"Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Peniru


Seringkali kita dengar bahwa anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orang tua akan ditiru dengan persis oleh sosok yang bernama anak. Maka itu keteladanan orang tua adalah cara terbaik mendidik anak. Namun pernah ga sih kita perhatikan kalau tidak hanya anak meniru yang kita lakukan, tapi mereka kadang jg adalah cerminan perilaku masa kecil kita kepada orang tua kita.
.
Ini yang sedang saya perhatikan akhir-akhir ini. Contohnya anak saya pas saya pulang pasti tanya "Abi bawa oleh-oleh apa? atau Abi bawa apa?"
Kemudian saya merefleksi masa kecil saya, ternyata saya juga menanyakan hal yang sama kepada bapak dan ibu saya dulu. Pun saat saya panggil anak saya kemudian anak saya seperti abai terhadap panggilan saya maka saya baru menyadari bagaimana gondok dan marahnya bapak ibu saya, karena dulu saya ternyata sering abai atau mbingsrung/mbaleng klo bahasa jawa nya.
.
Dan mau seperti apa anak kita kelak memperlakukan kita yang sudah menua, begitu juga bagaimana kita memperlakukan orang tua kita.

Senin, 03 Februari 2020

Kebolak balik


Terinspirasi dari tulisan pak eko novianto (lupa yg judulnya apa, ngapunten pak) yg kalau tidak salah pada intinya kita seringkali terjebak membesar-besarkan masalah yg kecil dan mengecilkan permasalahan yang besar. Sebuah nasehat yang dalem yang kalau kita cermati situasi saat ini kok ya pas sekali dg tulisan tersebut. Di level diri sendiri saja kita sering masuk dalam jebakan ini. Dibuat ribet, pusing oleh hal-hal yg kecil, hal-hal yang remeh temeh tapi kadang lupa pada penyelesaian masalah yang jauh lebih besar, yang jauh lebih penting. Dalam level berumah tangga pun sering terjadi suami istri memperdebatkan hal kecil namun lupa dengan hal yang lebih besar dan esensial. Dalam level kehidupan berbangsa dan bernegara juga tak luput dari jebakan ini. Acapkali terjebak pada kesibukan sebuah seremonial namun abai pada bahasan hal yang besar dan substansial.
.
6 atau 9?
Bisa salah satunya atau malah keduanya. Hanya tinggal mengubah posisi melihat kita, tanpa perlu gontok-gontokan apalagi sampai jotos-jotosan, tanpa perlu merasa paling benar sendiri dan yg berbeda pendapat direndahkan. Semudah itu saja karena memang 6 atau 9 hanya hal kecil yang tak perlu menjadi besar, tak perlu menjadi viral di sosial media apalagi menjadi headline di televisi maupun surat kabar.

J E N D E L A


Aku ingat saat dulu kau pinta
Pinta yang sangat sederhana
Kau ingin jendela
Ya...kau ingin jendela di rumah kita
.
Katamu tak perlu besar besar
Yang penting jendela kaca
Agar dapat memandang rintik hujan dari baliknya
Agar dapat ternikmati sinar mentari yang memancar
.
Cukup jendela kaca dan engkau disisiku
Begitu bisik lembutmu padaku
.
Jendela...
Kemudian kuingat pintamu yang sederhana

Selasa, 21 Januari 2020

Terkadang kita terlalu cepat


Kita pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup kita. Saat dunia seperti tak berpihak pada kita. Saat putus asa perlahan mendekati kita. Dan saat itu tiba kadang kita terlalu cepat berprasangka, kita terlalu cepat menduga bahwa kitalah yang paling menderita. Kita lupa bahwa pasti ada hikmah,ada pelajaran yang bisa kita ambil dari masa sulit itu jika kita sedikit sabar dan tidak terlalu cepat menduga. Kita lupa bahwa kadang masa sulit itulah yang kelak akan membuat kita lebih tangguh dari sebelumnya, lebih bijak dalam melihat hidup dengan segala problematikanya.
.
Terkadang kita terlalu cepat berprasangka
Terkadang kita terlalu cepat mengambil kesimpulan
Terkadang kita terlalu cepat menduga
Terkadang kita terlalu cepat membuat penghakiman
Terhadap takdir yang menimpa kita
entah itu yang menyenangkan atau menyedihkan.
Kita lupa bahwa Alloh tak kan memberi cobaan kecuali hamba-Nya mampu untuk menjalaninya.
Kita lupa bahwa kita hanya perlu sedikit bersabar dan sujud lebih lama.
Kita lupa dan kita hanya kadang terlalu cepat saja.

Senin, 20 Januari 2020

B U N G A


Sekitar dua hari terakhir ini perhatianku tersita oleh tanaman teratai di depan masjid kantor, karena dalam dua hari terakhir kulihat tanaman itu mulai berbunga. Kuperhatikan kemudian kuabadikan dengan kamera ponsel. Dari ia masih kuncup, sehari kemudian mulai mekar dan siang ini sepertinya mekar sempurna. Indah. Kata yang mungkin tepat untuk mendeskripsikannya.
.
Kemudian sambil memandangi hasil jepretan, aku berpikir dan merenung tentang bunga. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari alam semesta ini, salah satunya bunga, menurutku.
.
Bunga teratai itu tak pernah iri dengan kecantikan bunga mawar yang tersohor, ia tetap mekar dengan kelopak khasnya. Ia juga tidak iri dengan bunga melati yang terkenal dengan aroma wanginya, ia tetap saja mekar walau tak menghadirkan wangi. Pun kepada bunga anggrek yang anggun tumbuh menggantung, ia tetap saja tumbuh walau di kolam berlumpur. Ia tetap menjadi dirinya sendiri sebagai seuntai bunga teratai yang meliuk-liuk saat angin berhembus.
.
Dari situ, sisi lain diriku bertanya "bunga tidak pernah iri kepada bunga lainnya, mengapa manusia yang berakal banyak yang iri kepada sesamanya?"
"bunga juga tidak pernah ingin menjadi seperti bunga lainnya, ia tetap tumbuh menjadi dirinya sendiri, tapi mengapa manusia yang berakal, banyak yang ingin menjadi orang lain?"
Apa karena bunga yang tidak berakal?
Atau malah apa karena manusia yang berakal?

Master of Ceremony


Sebenernya saya sama sekali ga ada riwayat jadi master of ceremony alias MC alias Pembawa Acara, cuman klo tampil di panggung atawa didepan khalayak dan kemudian menggila nah itu ada riwayatnya. Sepanjang ingatan saya (yang ingatannya ga panjang) awal tampil di panggung pas saya masih SMP mungkin atau malah SMA awal, saat itu remaja di kampung kami mau membuat pertunjukan untuk acara 17 Agustus. Kebetulan saya tergolong yang sering ikut kegiatan remaja kampung jadi pas casting pemeran nama saya masuk. Lakon yang dibawakan waktu itu Ande-Ande Lumut dan saya memainkan peran sebagai Yuyu Kangkang. Pentas tersebut sangat-sangat sukses, skenario kami jalankan sebagaimana inginnya pembuat skenario ditambah improvisasi dari masing2 pemeran, membuat malam itu bergemuruh oleh tawa dan tepuk tangan penonton.
.
Singkat cerita dari sana kemudian saat sudah bekerja saya seringkali kedapatan peran dalam acara-acara perpisahan pegawai. Dan mungkin dari acara tersebut riwayat MC saya dimulai. Saya yang berpenampilan bak ustadz (penampilan doank lho ya) tidak disangka oleh teman-teman di purwokerto ternyata bisa menggila juga. Dan setelah itu ketika ada acara saya seringkali ditunjuk sebagai MC, padahal mah ga ada pantes-pantesnya saya, muka ga good looking, ngomong jg medok ngapak. Sempat mau menolak tapi sisi lain saya berkata "ayolah fi, coba dulu, tantangan ini, lumayan pegalaman baru...".
.
Akhirnya dengan modal nekat, muka tembok, dan siap-siap dimarahin serta siap-siap minta maaf klo salah saat nge-MC (karena pasti jadi center of attention) saya coba pengalaman baru ini. Alhamdulillah walau terseok-seok akhirnya sampe saat ini aman-aman aja pas nge-MC, walau emang harus masih banyak belajar lagi. Tapi lagi-lagi modal nekat....

Kamis, 16 Januari 2020

Merasa Pantas


Ini foto saya ambil saat saya masih bertugas di ibukota di salah satu masjid instansi yang katanya tergolong "seksi" di negeri ini. Sepanjang ingatan saya (yang daya ingatnya ga panjang), ini pas ada kajian di masjid tersebut. Saat saya baca apa yang terpampang di foto ini dan saya bandingkan dengan apa yang selama ini saya lihat dan rasakan, ternyata memang masih sangat relevan sekali. Banyak orang yang merasa pantas (mungkin termasuk saya) pantas dalam hal apapun. Sehingga membuat mereka (yang merasa pantas) itu susah untuk menerima nasehat/masukan/kritik karena ya itu tadi "merasa pantas". Seolah-olah orang yang memberi nasehat/masukan/kritik (dan levelnya ada dibawahnya) adalah orang yang ingin menjatuhkan dan menghilangkan ke-"pantas"-annya.
.
Padahal kalau dipikir atau kita coba pikir dan renungkan, yang "merasa pantas" kan juga manusia yang mana tempatnya salah, lupa dan juga punya kemampuan yang terbatas. Kita butuh orang lain untuk mengingatkan agar ketika mulai melenceng ada yang meluruskan. Namun ya karena sudah "merasa pantas" kemudian fitrah-fitrah sebagai manusia kadang diterabas.
.
Padahal mungkin saja
.
yang "merasa pantas" tak punya cukup kapabilitas
yang "merasa pantas" tak punya cukup integritas
yang "merasa pantas" tak cukup awas
yang "merasa pantas" tak tahu tentang ambang batas.
yang "merasa pantas" tak cukup tegas
yang "merasa pantas" hanya sampai pada tataran merasa pantas

Senin, 13 Januari 2020

Nasi Goreng dan Kopi


Alhamdulillah pagi hari diawali dengan nasi goreng buatan istri dan segelas kopi, nikmat manalagi yang didustakan kalau sudah begini. Saya termasuk orang yang sangat menggilai yang namanya nasi goreng mau apapun itu jenisnya asal halal. Nasi goreng pinggir jalan oke, nasi goreng hotel berbintang juga oke, apalagi nasi goreng buatan orang yang disayangi, ehm yang terakhir tak perlulah ditanyai, bisa dua piring saya habiskan. Namun jangan tanyakan kepada saya mana nasi goreng yang enak karena bagi saya makanan hanya ada 2 rasa, enak dan enak sekali.
.
Dan kopi bagi saya setali tiga uang dengan nasi goreng, mau kopi sachet yang satunya ga sampe dua ribuan, mau kopi beli di pasar, cafe atau pinggir jalan, mau kopi hitam atau kopi dengan coklat, krim, susu sebagai campuran buat saya oke-oke saja asalkan kopi dan halal. Pagi kalau tak menyeruput kopi rasanya ada yang kurang saja, sudah semacam mood booster saja itu yang namanya kopi bagi saya. Aroma khas dan rasa pahitnya serasi dengan aroma khas pagi hari.
.
Bagi saya tak perlu mencari tahu tentang apa itu filosofi kopi atau nasi goreng, hanya ingin menikmati dan mensyukuri setiap tegukan kopi dan suapan nasi goreng. Sama halnya aku saat bersama denganmu, tak perlu mencari tahu tentang apa alasannya, hanya ingin menikmati dan mensyukuri detik demi detik kebersamaan dan manisnya senyuman.

Waktu yang Pas atau Pas Waktunya?


"Yank misal nieh, dulu aku dateng ke rumah trus ngajak kamu nikah pas kamu masih kuliah, mau ngga?" tanya saya ke doi pas mau tidur 

"Ya, gimana ya mas, ehm...mungkin mau sieh, tapi kayaknya sama bapak ibu blm boleh deh, nunggu kuliah selese"
"Owh...alhamdulillah ya, untung aku ketemu kamu lagi dan ngajakin nikahnya pas waktunya, hehehe..."
"Iya mas, aku udah lulus kuliah, awal-awal kerja juga, alhamdulillah..."
Dan setelah obrolan itu terjadilah sesuatu....tiiiiittttt (ceritanya sensor)...hehehe...
.
Setelah hampir 7 tahun akhirnya saya menemukan kembali gadis yang dulu terlambat masuk kelas di hari pertama masa orientasi SMA. Setelah kami menjalani kehidupan masing-masing, akhirnya kami bertemu kembali di dunia maya dan tak butuh waktu lama akhirnya saya beranikan diri untuk kembali mengenal dirinya dan mengajaknya menikah. Untung saja hanya dua hari, hati ini dag dig dug nya ga beraturan menunggu jawabannya, dan alhamdulillah gayung pun bersambut, si gadis itu menerima ajakanku. Singkat cerita dikunjunganku yang pertama kali kerumahnya (dan pertama kali juga bertemu orang tuanya) setelah bincang-bincang santai, akhirnya sebelum pamit pulang saya beranikan diri untuk mengungkapkan bahwa saya berniat meminang anak gadisnya.
.
Setelah kunjungan nekat itu sekitar setengah bulan hati ini jadi resah, galau, gundah gulana rasanya menunggu jawaban darinya. Dan alhamdulillah akhirnya ke-nekat-an saya berujung jawaban iya darinya. Singkat cerita akhirnya si gadis yang terlambat masuk kelas itu hingga saat ini menjadi istri dan teman hidup saya.
.
Alhamdulillah pas waktunya si gadis itu terlambat masuk kelas, jadi saya sedikit memperhatikan dan sempat terkesima waktu itu.
Dan alhamdulillah waktu yang pas saya menemukannya lagi dan mengajak nikah saat dia sudah lulus kuliah.
Mungkin jika saya terlalu cepat, saya dan dia tidak akan terikat dalam suatu akad.
Dan mungkin jika saya terlambat dan tidak nekat, dia akan terlewat.

Positive Think(r)ing


Pernah ga sieh kita dimarahin sama orang tua kita dulu pas masih kecil? Kayak-kayaknya sieh pernah ya. Terus sempet ga kepikiran saat itu kalau "jahat amat ya emak bapak saya" atau "tega banget ya emak bapak saya", kayak-kayaknya jg pernah sieh ini. Terus sekarang pas udah dewasa baru deh tau owh ternyata dulu emak/bapak marahin saya karena apa yang saya lakuin efeknya kedepannya ga bener to. Dan dengan dimarahin saya jad ga lakuin itu. Dan dengan dimarahin saya jadi sukses (sesuai ukuran masing2). Dan dan dan yang lain. Kata orang itulah kenapa penyesalan selalu ada di belakang, ya iya lah klo didepan namanya pendaftaran.
.
Beberapa takdir kadang juga kita buru2 ngeliat pake pikiran yang negatif, kalau udah gitu seterusnya juga bakalan negatif mulu. Padahal ya klo mau tenang bentar sambil think(r)ing (jongkok) bisa jadi kita bakalan positive thinking dah. Karena kadang dengan positive think(r)ing kita bisa tuh akhirnya positve thinking terhadap apa takdir yang menimpa kita. Bahkan kadang juga nieh positive think(r)ing itu bisa bikin kita dapet inspirasi atau malah nemu inovasi.
.
So be positive think(r)ing ya gaessss.

Rabu, 08 Januari 2020

Cita-Cita



Sewaktu kita kecil seringkali bahkan mungkin hampir pasti ibu bapak guru kita pernah mengajukan pertanyaan "Cita-citamu apa sayang?" atau "Kalau sudah besar mau jadi apa?"
Dan seperti sudah menjadi hal yang umum anak2 dulu (yg satu angkatan dengan saya) menjawab dengan jawaban dokter, polisi, tentara, presiden, guru, atau ingin seperti bapak/ibu atau profesi-profesi yang umum ada waktu itu. Ada yang menjaga cita-cita tersebut hingga akhirnya bisa mewujudkannya dengan segala macam upaya dan daya. Namun tak sedikit juga yang cita-cita nya kandas oleh situasi dan kondisi atau malah kandas oleh sebuah kompromi.
.
Bahkan mungkin diantara kita pada saat dulu ditanya cita-cita tidak ada yang menjawab menjadi PNS/ASN, betul? Namun nyatanya saat ini banyak yang setelah dewasa cita-citanya ingin menjadi PNS/ASN. Karena ya ada situasi kondisi dan juga kompromi yang kemudian kita mendefinisi ulang cita-cita kita. Ada yang mendefinisi ulang cita-citanya ketika memasuki gerbang SMA, ada yang mendefinisi cita-cita saat di bangku kuliahan. Pun juga ada yang mendefinisi ulang cita-citanya saat sudah beranjak tua. Cita-cita tidak selalu sama dengan profesi yang sedang kita jalani saat ini, walaupun ada yang profesi saat ini sama dengan cita-citanya.
.
Selanjutnya adalah muncul pertanyaan "apakah yang kandas cita-citanya adalah yang gagal?" Belum tentu, bahkan mungkin dengan kandasnya cita-cita tersebut menjadi jalan lain untuk menuju sukses -tentunya sukses dengan definisinya masing-masing-. Apapun cita-cita kita serta menjadi apa kita sekarang dan masa yang akan datang yang paling penting adalah kita bisa menjadi manusia yang berguna, bermanfaat bagi sekitar kita.
.
Sebagai penutup saya jadi ingat pesan kawan saya "Fi gantungkan cita-citamu setinggi-tingginya, jadi klo pun ga nyampe kamu masih ada di atas tidak dibawah."

Aku kalah Aku Pilih Menyerah, Jakarta


Jakarta sebuah kota dimana aku pernah hidup didalamnya, kota yang begitu banyak memberi diri ini pelajaran berharga, kota dimana aku bertemu sekumpulan keluarga baru, kota yang menempa diri menjadi lebih dewasa, dan kota dimana tersimpan banyak kenangan suka maupun duka.
Jakarta itu ibukota yang kata orang dulu lebih kejam dari ibu tiri. Namun aku bersyukur bahwa yang kujumpai dari kota ini adalah keramah-tamahannya. Kesempatan dan hingar bingar Jakarta bagai gula yg membuat semut-semut datang berebut.
.
Sekitar 4 tahun hidup di jakarta dengan status jomblo buatku tak terlalu masalah dengan kompleksitas permasalahan jakarta. Ku mencoba menikmati. Namun saat anak-anakku lahir aku berpikir ulang tentang kota ini. Benar kata orang, prioritas kita akan perlahan-lahan bergeser ketika kita sudah mempunyai anak. Begitu jg denganku. Pola pikir anak desa masih melekat di pikranku walaupun hampir satu dekade tinggal dijakarta.
.
Dan pada akhirnya aku memilih bahwa:
Aku telah menyerah dengan hingar bingar Jakarta,
Aku telah kalah dengan hiruk pikuknya Jakarta,
Aku telah kalah dengan ego anak desa,
Aku tak sekuat dan setegar orang-orang yang mengadu nasib dan peruntungannya di Jakarta.
Namun aku bersyukur pernah hidup di Jakarta.
.
Mereka yang masih hidup dijakarta adalah orang-orang yang menurut saya lebih tangguh, lebih tegar, lebih kuat dari rata-rata orang dalam segi mental, daya juang dan pikiran.
.
Dan kini jakarta dan daerah sekitarnya terendam banjir, mari kita sama-sama doakan agar banjir segera surut dan warganya kembali bangkit serta menjalani hidup seperti sedia kala dan menjadi lebih bahagia. Karena jakarta milik kita bersama, seluruh warganya adalah saudara kita.

R E S O L U S I



Kata yg sering dan nyaring terdengar di akhir atau awal tahun, menggambarkan apa yg jadi harapan di tahun mendatang. Namun menurut saya agak sedikit kurang pas kalau resolusi harus menunggu akhir atau awal tahun, lagi-lagi menurut saya. Kalau resolusi diartikan/digambarkan sebagai sebuah harapan yg harus atau paling tidak berusaha diwujudkan di masa datang maka lebih pas kalau resolusi itu kita tetapkan setiap hari.
.
Di malam penghujung hari kita kontemplasi apa yg sudah kita lakukan seharian, apa yg kurang tepat, apa saja keliru kita dan kemudian setelah itu kita susun resolusi utk hari esok. Apa saja harapan yg harus (berusaha) kita wujudkan, apa saja keliru yang harus kita luruskan. Yang tentunya outcome dari resolusi itu adalah hari ini menjadi lebih baik dari hari yang lalu.
.
Kata orang hari kemarin telah terlalui, hari ini sedang kita jalani dan hari esok adalah misteri. Pertanyaannya adalah jika esok hari itu sebuah misteri, apakah akan berakhir baik jika kita jalani tanpa ada rencana atau resolusi?

G A D U H


Gaduh tak selalu mengaduh
Tak juga selalu tentang keluh
Gaduh jua tak selalu gemuruh
Tak juga harus berpeluh

Sewaktu...gaduh itu perlu
Untuk memecah pikir yang keras membatu
Untuk menyentuh hati yang dingin membeku

Gaduh itu keniscayaan
Agar muncul perbaikan
Agar timbul kesyukuran
Agar membuka sumbat dalam ingatan

Gaduh tak selalu rusuh
Kadang gaduh buka mata yang terlanjur menatap separuh
Agar kemudian menatap seluruh
Karena setiap sisi tatap itu ada pengaruh

Separuh separuh mula gaduh
Atau gaduh yang buat separuh separuh?

Jumat, 09 September 2016

Edisi mudik pertama kali bawa mobil



PART I
Sebenernya udah telat banget ngeposting masalah mudik lebaran karena bentar lagi udah mau lebaran haji, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali ya, hehehe...

Oke jadi ceritanya tahun ini karena saya ma istri udah tau bahwa tiket kereta bisa dipesen 3 bulan sebelum keberangkatan, maka 3 menjelang tanggal kita mau mudik saya dah siap-siap begadang buat cari tiket kereta. Walhasil 2 hari saya begadang sama sekali ngga berhasil dapet tiket kereta, padahal saya udah online pake HP, Tab, sama Laptop, tapi tetep aja gagal pas mau booking kursi. Emang sieh tanggal mudik kami mepet banget sama libur cuti bersama, soalnya istri baru dapet libur pas tanggal 2 Juli 2016, jadi emang susah bener cari tiket kereta buat keberangkatan tanggal 1,2,3,4 Juli 2016. Akhirnya sepakat sama istri untuk menunggu kereta tambahan.

Nah dalam jangka waktu nunggu kereta tambahan, tiba-tiba aja kepikiran, apa ambil kridit mobil aja ya? yang kepikir pertama adalah dengan pinjem ke koperasi kantor ditambah uang di tabungan. Okelah, akhirnya saya coba kontak koperasi kantor dan sama pihak koperasi diberitahukan klo bisa aja koperasi kasih pinjeman cuman masalahnya kapan duit pinjeman itu cair ngga tahu kapan, jadi masukin aja permohonannya. Akhirnya saya masukin dah tuh permohonan pinjeman ke Koperasi kantor. Seiring berjalannya waktu, sambil iseng-iseng liat iklan mobil di salah satu situs jual beli, saya iseng-iseng aja SMS yang pada iklan mobil disitu yang harga sesuai dengan budget. Dari 3 iklan yang saya SMS, ada 2 yang bales, yang pertama bilang masih bisa nego dan bisa dibantu proses leasing-nya, and satunya lagi bilang harga ga bisa nego. Akhirnya dengan iklan yang pertama itulah akhirnya saya dapet mobil. Nah masalahnya saya belon bisa nyetir, latihan udah cuman itu udah lama banget, udah ada setahun kali dan lagi posisi mobil ada di kampung halaman. Akhirnya kursus mobilah saya, ambil kursus yang 6 jam. Harusnya 6 jam itu dibagi menjadi 3 hari dengan latihan per hari 2 jam, saya minta ke tempat kursus karena keterbatasan waktu saya bisanya hari sabtu-minggu, bisa ngga klo 3 jam sekali latihan, dan kata pihak kursusnya bisa, Alhamdulillah.

Oh ya, saya kursus itu 3 minggu sebelom puasa, selesai kursus, minggu depannya saya pulang kampung buat ambil mobil, Alhamdulillah ada Saudara yang juga kerja di Jabodetabek yang mau berangkat lagi ke perantauan dan udah biasa nyetir Jakarta-Bumiayu dan sebaliknya. Okelah, akhirnya sama Saudara saya itulah saya bawa mobil ke Jakarta, tantangannya adalah dari Purbalingga ke Bumiayu siapa yang bawa? kan saya baru belajar mobil 2 minggu sebelumnya, dengan modal tawakal kepada Alloh dan Bismillah saya nekadkan diri dengan ditemani ibu pertama kali bawa mobil Purbalingga-Bumiayu. Mobil sempat mundur pas berhenti di tanjakan dan diklakson sama mobil dibelakang saya, namun secara keseluruhan dengan perlindungan dari Gusti Alloh saya selamat sampai di Bumiayu. dan perjalanan Bumiayu-Jakarta yang mengendarai mobil full saudara saya, saya sendiri menghapalkan jalan, karena mudik nanti saya bakalan bawa mobil. Alhamdulillah selamat sampai di Jakarta.

PART II
Masih ada waktu seminggu sebelom puasa, saya akhirnya niatkan selama seminggu sebelom puasa itu saya harus melancarkan nyetir mobil saya. Akhirnya setiap jam 4 pagi saya keluar bawa mobil cari jalan tanjakan dan latihan setengah kopling sama hand rem. Nah pas hari sabtunya saya beranikan diri buat bawa mobil sama istri and anak-anak ke Ragunan, dan alhamdulillah lancar pergi dan pulangnya. Dengan bekal itulah saya yakin saya bisa mudik bawa mobil untuk pertama kalinya.

Hari berganti hari, tanpa terasa sudah mendekati waktu mudik, Ibu mertua sudah khawatir saja, soalnya saya baru bisa nyetir mobil, beluai minta saya mencari supir atau teman yang bisa nyetir agar bisa gantian nyetir nantinya. Udah saya cari namun ga dapet juga, hingga malam sebelum keberangkatan ada teman saya yang bilang klo adiknya ga dapet itket bisa ataupun kereta buat mudik, bisa ngga klo ikut nebeng, saya sempet seneng, wah klo adiknya temen ini bisa nyetir bisa nih buat gantian, batin saya. Namun ternyata pas saya konfirmasi adiknya temen ga bisa nyetir, hehehe....

Sempat bingung berangkat tanggal 1 Juli 2016 sepulang kantor atau tanggal 2 Juli 2016 pagi, namun akhirnya saya dan istri putuskan untuk pulang tanggal 1 Juli 2016 sepulang kantor. Semua pekerjaan saya selesaikan sebelum tanggal 1 Juli, sehingga pas tanggal 1 Juli siang harinya saya bisa manfaatkan buat tidur dulu, persiapan mudik malamnya. Oh iya, 2 minggu sebelum mudik anak-anak sudah saya pulangin ke kampung soalnya takut kena macet, dan kasihan sama anak-anak masih batita dua-duanya soalnya.

PART III
Perjalanan dimulai dari Widya Chandra, tol dalam kota agak tersendat tapi masih bisa jalan, begitu masuk ke toll cikampek lalu lintas mulai tersendat terkadang, dan ketika akan masuk ke gerbang toll Cikopo mulai lancar, karena baru pertama kali nyetir pas mudik, saya cuman berani injek gas sampe kecepatan 100 km/jam dan rata2 jalan 80 km/jam, soalnya tol Cipali lancar pada saat itu, tidak seperti prediksi sebagian orang klo tanggal 1 mlaem bakalan terjadi arus mudik. Kemacetan terjadi menjelang gerbang tol Palimanan dan gerbang tol Pejagan, selain itu lancar perjalanan di tol.

Selepas tol, memasuki jalur biasa, jalanan dari pejagan ke jalur alternatif cirebon lancar, dan baru mulai macet di jalur alternatif Cirebon dekat klonengan, padahal saya keluar tol pejagan jam 11 malem, perkiraan saya bisalah sahur di rumah karena palingan sampai di Purwokerto jam 3 atau jam 4 pagi, eh ternyata dari jalur alternatif cirebon sampai ke pertigaan klonengan waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam, jadi sampai pertigaan klonengan jam 1 dini hari, saya pikir udah lancar eh macet juga di ketanggungan, sampai pintu kereta ketanggungan sudah jam 3 pagi, ya sudah akhirnya sahur di jalan, untungnya dari ketanggungan ke bumiayu lancar. Sampai jalan lingkar Bumiayu jam 5 pagi, dan sampai SPBU patuguran saya berhenti untuk sholat subuh dan melemaskan kaki, hehehe

Alhamdulillah perjalanan berikutnya lancar, dan jam 7 pagi saya sampai di rumah di purwokerto, Alhamdulillah saya putuskan untuk mudik tanggal 1 malam, hanya bertambah waktu tempuh sekitar 6 jam dari waktu tempuh normal, ada kawan saya yang berangkat sabtu pagi tanggal 2, baru sampai minggu sore, atau Saudara saya yang berangkat Senin tanggal 4 akhirnya menginap di jalan selama 2 hari sampai oleh orang tuanya diantarkan bensin dan makanan....sebenernya masih banyak kejadian dan cerita dari mudik pertama pakai mobil dan nyetir sendiri ini, namun mungkin kita ceritain di lain waktu aja ya, hehehehe

oh ya salah satu komentar kawan saya "gila lu Fi, baru bisa nyetir mobil udah bawa mobil pas mudik aja..."

Hehehe, klo ga gitu ga bisa2 saya nyetir mobil, yang penting tetep tawakal dan berdoa serta minta doa restu orang tua and mertua, InsyaAlloh diberi kelancaran dan keselamatan oleh Alloh.

Jumat, 19 Februari 2016

Terima kasih Cinta

"Terima kasih" merupakan salah satu dari kata-kata ajaib, selain "maaf" dan "minta tolong". Ketika kita  melakukan sebuah kebaikan kecil yang menurut kita biasa eh ternyata ada orang yang mengucap "terima kasih" kepada kita pasti rasanya gimana gitu ya...we get an appreciation from the other...yes...padahal menurut kita perbuatan yang kita lakukan mungkin hal yang biasa, tapi ternyata orang lain menilai perbuatan kita itu luar biasa. Nah klo kita dikasih ucapan terima kasih, kita merasa diapresiasi dan dihargai, trus pertanyaannya sudahkah kita "as a Husband" berucap terima kasih kepada istri kita?

Istri yang telah ikhlas ridho mendampingi perjuangan hidup kita
Istri yang telah menerima kita apa adanya
Istri yang sudah berjuang antara hidup dan mati ketika melahirkan anak-anak kita
Istri yang dengan segenap jiwa raganya mendidik dan membesarkan anak-anak
pun begitu para Istri, sudahkah berucap terima kasih kepada sang suami?

Suami yang dengan penuh semangat mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mencari nafkah
Suami yang dengan segala upayanya berusaha menjadi imam yang kan menuntun dirimu dan anak-anak menuju Surga
Suami yang dengan segenap jiwa raganya memperjuangkan kehormatanmu sebagai wanitanya

Iya sieh...Cinta itu rasa...tak perlu beribu, berjuta, bermilyar bahkan bertriliunan kata untuk membuktikannya cukup dengan tingkah laku yang nyata, tapi jangan salah bro/sist Cinta itu rasa...namun cinta juga menghajatkan adanya kata.

Setelah lewat 3 tahun usia pernikahan mungkin cinta kita sedikit tertutup debu rutinitas sehingga perlu kita poles kembali agar kembali berkilau menerangi ruang hati. Nah salah satu cara memoles kembali cinta itu agar berkilau ya dengan kata-akat indah kepada pasangan kita. Terkadang kita perlu seolah menjadi seorang pujangga yang pandai merangkai kata untuk memuji pasangan (suami/istri) kita.Salah satu kata yang bisa memoles cinta itu adalah "Terima Kasih". Variasinya bisa banyak, bisa :
Terima kasih cinta/sayang/mas/pah/pih/de/bun/mah/neng sudah menjadi bahagiaku selama ini atau
Terima kasih cinta/sayang/mas/pah/pih/de/bun/mah/neng sudah ikhlas ridho menerimaku apa adanya atau
variasi yang lain

Mungkin habis kita ngomong gitu komentar pasangan kita "ihh...apaan sih...gombal deh" atau "apaan sieh...pasti ada maunya..." tapi percaya deh didalem hatinya pasti deg deg serrr gimana gitu...he/she will be fly...her/him love will be brighter then before...

Emang sieh belom ada kajian empiris, klinis or is is yang lain tapi ini berdasarkan pengalaman aja, hehe....trus ngucapin terima kasihnya setiap hari? ya ngga juga kali, liat-liat sikon lah...yang kira-kira bakalan bikin si doi klepak klepek tersipa sipu malu...klo masalah waktu mah kita lah yang bisa mengira-ngira, hehehe....

mengakhiri tulisan GeJe alias Ga Jelas ini sudahkah kita (even as husband (man) or as wife (perempuan)) sudah berucap terima kasih kepada pasangan kita?

Selasa, 16 Februari 2016

Akhirnya nulis lagi

Assalamu'alaikum Warohmatullohi wabarokatuh....
halo bro sist, bapak/ibu, saudara-saudara sekalian...akhirnya kita bersua lagi dimari...

Setelah sekian lama akhirnya bisa ngurusin blog ini lagi, bisa corat coret lagi disini setelah setahun lebih ni blog dianggurin nyang empunya. Tulisan terakhir tercatat dibikin tanggal
. Okelah satu persatu ntar Inyonk tulis dimari, karena emang tujuan Inyonk bikin blog selain sharing informasi, pemikiran juga buat ngrekam apa-apa yang terjadi dalam siklus hidup Inyonk walopun kagak semuanya, hehe...

Oke, nyang pertama pingin Inyonk tulis dimari adalah saat dimana istri tercinta dan tercantik di hati (eciee...istri lu kagak baca juga kali tonk) ketrima PNS di salah satu Kementerian di Negeriku Tercinta Indonesia. Proses ketrima nya istri Inyonk ni prosesnya panjang bro sist...jadi sekalian aja ya Inyonk share dimari tips istri Inyonk bisa ketrima jadi PNS. 

Awalnya tuh sebenernya istri Inyonk tuh ya coba-coba daftar PNS (tapi coba-cobanya serius sob). Pembelajaran yang dijalani istri Inyonk awalnya pembelajaran konvensional, ngerjain soal-soal di buku kumpulan soal CPNS (yang buanyak bertebaran di toko buku) selain ntu istri Inyonk juga cari buku tentang sejarah dan sebagainya yang kira-kira bakal diujiin pas tes CPNS ntaran. Nah pas lagi belajar-belajar secara konvensional alias tradisional begitu istri Inyonk nemu group di facebook CPNS Online klo ga salah, tuh group isinya informasi tentang lowongan PNS sama ada juga adminnya nyediain website yang dibuat sendiri yang isinya kumpulan soal-soal CPNS sama simulasi tes CPNS nyang pake komputer (istilahnya klo ga salah tuh CAT). Nah istri Inyonk karena tadi (coba-coba serius) akhirnya minta duit buat daftar ke website CPNS online ntu, dengan duit sekitar Rp180 rebu istri Inyonk dapet username sama password yang dipake buat login ke ntu Website. Di website ntu juga ada ajang diskusi antar member jadi member yang bisa jawab soal mbantu member lain yang ga bisa jawab. Singkatnya hari pelaksanaan ujian tiba, setelah mengikuti website ntu, ama terus-terusan berdoa and kagak lupa doa restu orang tua, akhirnya istri Inyonk lulus tes CAT. Nah CAT ini klo kagak salah masuk ke TKD (Tes Kemempuan Dasar)...
Alhamdulillah...la haula wala quwwata illa billah....

Eh tapinya perjuangannya belom rampung bro sist, ada lagi namanya TKB (Tes Kemampuan Bidang klo kagak salah) nah yang berat tuh dimari bro sist soalnye ape, bidang kesehatan kan buanyak bener cabangnya, ada farmasi, ada kedokteran, ada keperawatan, ada masalah gizi (ni bidang istri Inyonk) ada juga masalah peraturan-peraturan tentang kesehatan and many more. Disini selain baca-baca, Inyonk always alias selalu kasih masukan, banyakin doa yank...banyakin tahajud yank...banyakin sholawat yank...dan Alhamdulillah akhirnya istri Inyonk lulus and klo ga salah doi perinkat 1 di instansi yang die daptar di bagian Gizi...
Alhamdulillah....

Huft...baru nulis gini aja rasanya udah nulis panjang bener, hehehe (efek lama kagak nulis)....oke ya bro sist sementara sampai dimari dulu, masih banyak yang pingin Inyonk share and tulis sebenernye, tapi ya esok lagi ya kite sambung...sok sok-an to be continued... ^_^

Kamis, 22 Januari 2015

Sungguh Bersama Kesulitan disitu ada Kemudahan

picture taken from www.iqbalnurhadi.com

Rabu, 21 Januari 2015, sekitar jam berangkat kantor

Pagi itu, rutinitas yang biasa kulakukan setelah sholat subuh adalah menyapu lantai ruang tengah yang pada malamnya dibuat berantakan oleh my sholeh boy Farras, kemudian membangunkan istri untuk sholat subuh, sembari menunggu istri selesai sholat subuh kutunggui anak sholehku yang masih terlelap. Entah mengapa pagi itu rasa kantuk begitu gencar menyerang diri ini, sehingga ketika farras sudah bangun dan menonton kartun di TV, diriku tidur-tiduran di sebelahnya. Kemudian tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 kurang 10, "waduh belum mandi pula awak ini" batinku, sementara istri sedang memasak untuk bekalku langsung saja diri ini bergegas mandi. Ternyata selesai mandi istri meminta tolong untuk membelikan bubur ayam untuk makan Farras "wedew, udah jam 7 Yank, bisa telat nih.."ujarku, namun melihat antusias anakku makan bubur ayam yang begitu menyenangkan dan rasa cinta sang ayah (cie...cie...) maka kuputuskan untuk membelikan bubur ayam. Dengan bensin tinggal dua strip kulaju motor menuju kantor, sempat berpikir untuk mengisi bensin namun setelah kuhitung-hitung sisa waktu sepertinyab masih cukup untuk sampai kantor tanpa embel-embel terlambat dan kena potongan absen. Namun apa daya ketika diwaktu kritis ada pak polisi yang memblokir jalan yang biasa diriku lalui, sehingga mau tak mau harus memutar dulu dan taraaaaa...jari ini mendarat di mesin absen pukul 08.05 WIB, "ehm...yap kena potong absen lagi dah..." gumamku. 

Rabu, 21 Januari 2015, sekitar pukul 17.00 WIB

Karena pagi tadi tercatat absensiku pukul 08.05 WIB maka begitu jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, diriku langsung menempelkan lagi jari ini di mesin absensi. Yo, sudah dipotong 1% yowislah pulang tepat waktu, lagipula kerjaan kantor juga sudah kelar hari itu. Langsung kuturun ke Basement 2 dan melajukan motor meninggalkan kantor.

Rabu, 21 Januari 2015, sekitar pukul 18.05 WIB

Rintik hujan membasahi bumi sejak diri ini meninggalkan kantor untuk pulang kerumah kembali kepada istri dan anak tercinta. Kuputuskan untuk tidak mengenakan jas hujan karena kulihat diseberang sana awan masih terlihat cerah walaupun didaerah sekitar kantorku rintik hujan ini terasa semakin deras dan awan mendung semakin bergelayut diatas sana. "Sepertinya didaerah Pakubuwono hujan ini akan berhenti" batinku. Terus kulajukan motor palt R ku ini melewati padatnya jalanan Sudirman dan kemudian ketika sampai di Pakubuwono eh gerimisnya awet ternyata, "mau minggir make jas hujan kok tanggung ya" batinku, yasudahlah walhasil gerimis pun sedikit demi sedikit membasahi jaket, celana, tas dan motor ini... :D Sebetulnya sejak meninggalkan kantor ban belakang motor terasa ada yang tidak beres, namun tetep aja ngacirrrr, dah pingin ketemu anak istri soalnya, hehehe...dan ternyata benar, ketika perjalanan menyisakan sekira 5-6 Km dari rumah terdengar bunyi "duorrr!!!", celingak-celinguk "darimana suara itu ya? apa yang meletus" batinku, ternyata baru 2 meter jalan terasa bagian belakang geal-geol, ternyato eh ternyata bunyi dor tadi itu bunyi ban belakangku yang meletus. Akhirnya kutuntun motor sambil celingak-celinguk mencari tukang tambal ban, tak jauh ternyata terlihat kompresor yang biasa digunakan untuk tambal ban atawa isi angin, "Alhamdulillah..." gumamku sambil tersenyum, eh...ketika sudah sampai ditempatnya dan kuminta untuk menambal ban, si empunya kompresor bilang kalau tidak melayani tambal ban "What!!!" ehm yawislah disebelahnya persis juga nampak kompresor juga, namun lagi-lagi ketika kuminta untuk tambal ban jawabannya sama dengan sebelahnya..."ehm...ni orang mau ta kasih rejeki kok malah ga mau sieh!" gerutuku. Kulanjut menuntun motorku dan karena duit di dompet tinggal satu lembar kertas berwarna biru dengan gambar I Gusti Ngurah Rai alias 50 rebu maka ketika kulihat ada papan penunjuk ATM salah satu bank yang ATMnya setia berada dalam dompetku kuputuskan untuk mengambil uang dulu, karena pasti ganti ban dalem dan ban luar. Singkat cerita setelah jalan 200 meter dipertemukanlah saya dengan seorang yang berjasa pada sore gerimis itu "Tukang Tambal Ban". dan bener juga setelah dilihat ban dalem sama ban luar udah bolong, walhasil harus ganti dua-duanya, namun karena si Mas Tambal Ban ga punya ban luar yang baru maka ditawarkanlah kepadaku ban luar bekas, "daripada harus nyari ban baru lagi, ga papalah buat sementara pake ban bekas aja" pikirku.

Singkat cerita selesailah permasalahanku pada sore itu berkat pertolongan Alloh melalui Si Mas Tambal Ban, dengan biaya Rp 40 rebu buat ban dalem dan Rp 25 rebu buat ban luar bekas (padahal itungan saya ban luar bekas sekitar 40 rebu). Selesai tambal ban dan mampir di mushola terdekat untuk sholat maghrib, kulaju lagi motor supraku dan ternyata ada lagi kesulitan, sekitar 2 Km dari rumah ternyato motor mogok karena kehabisan bensin (nyambung sama yang pas pagi tadi...), yowis akhirnya dorong motor lagi...eh lha baru dorong 50 meter tau-tau ada orang dari belakang nyapa "Mas, kenapa motornya? bocor?" tanyanya 
"nggak mas, ini kehabisan bensin" jawabku sambil nyengir 
"ya udah yuk saya bantu dorong" tawarnya 
"owh, boleh mas" 

Walhasil dengan pertolongan Alloh melalui Si Mas baik hati, saya terhindar dari ngos-ngosan dan baju basah keringat karena menuntun motor ke SPBU, setelah mengucap terima kasih kepada Si Mas baik hati itu, kubelokkan motor ke SPBU untuk isi bensin. Lha ini kesulitan sama kemudahannya dimana woiiii...hehehehe sabar mas/mbak bro ini mau saya hubung-hubungin, hehehe jadi habis isi bensin dan melanjutkan perjalanan saya mikir, 

Ya Alloh bener-bener dah bersama kesulitan ada kemudahan... 

yang pertama
Kesulitan : terlambat masuk kantor dan tunjangan dipotong 
Kemudahan : bisa pulang tepat waktu :D 

yang kedua
Kesulitan : Ban motor jebol Kemudahan : tukang tambal ban ga terlalu jauh dari TKP (walau sempet ngedumel sama yang ga mau nambal), terus deket ATM juga jadi bisa ambil duit dulu dan terhindar dari kurang membayar jasa Si MAs Tukang Tambal Ban
yang ketiga
Kesulitan : motor kehabisan bensin
Kemudahan : ada orang yang berbaik hati mendorong saya sampai SPBU

sederhana sieh ya...tapi sebenernya banyak hal-hal sederhana dan kecil yang kalau dipikir direnungkan dihayati ternyata hal sederhana dan kecil itu salah satu bukti ke Maha Besaran Alloh SWT...
End of story....at 7 pm i arrived at home...with smile of my son and my wife i back to the harm of love (maap klo bahasa inggrisnya acak adul, still on learning proccess.. :D)

Selasa, 16 Desember 2014

melihat hujan


Lama tidak menulis di blog ini lagi, ada saja yang membuat jemari ini tidak menari diatas keyboard untuk menulis disini, ditempat dimana apa yang ada dalam pikiran ini dapat tertuliskan. Memasuki musim penghujan ingatan ini berkelana dalam labirin-labirin mimpi dan cita, hingga akhirnya berhenti pada suatu masa dimana ada mimpi dan cita diri ini yang berhubungan dengan hujan.
Mimpi dan cita yang ada ketika awal diri ini merantau ke kota jogja...
Mimpi dan cita yang ada ketika pertama kali dalam sejarah hidup ini terpisah dari orang tua...
Mimpi dan cita yang ada seiring dengan membuncahnya keinginan untuk hidup berumah tangga...
Mimpi dan cita yang ada ketika awal diri ini menjadi kepala keluarga...
Mimpi dan cita yang ada hingga kini dan mungkin baru akan hilang jika telah terwujud nyata...

Ya...hujan memang menghadirkan mimpi dan cita diri yang hingga kini masih bersemanyam dalam pikiran ini. Ketika hujan saya selalu bermimpi dan bercita-cita dapat menikmati pemandangan dimana air hujan membasahi bumi ini dari balik kaca jendela rumah di desa, melihat tanah yang terbasuh oleh air hujan, melihat tanaman yang terbasahi olehnya. Ada rasa damai dan tentram ketika dapat mewujudkannya.

Sederhana? Ya, memang sesederhana itu mimpi diri ini yang hingga kini belum terwujud. Melihat hujan yang turun membasahi bumi ini dari balik jendela rumah di desa dengan ditemani oleh sang istri dan si buah hati sembari berucap doa, doa yang berharap diijabah oleh-Nya kerena terlantun di salah satu waktu dimana Alloh kan mengijabah doa hamba-Nya yaitu di waktu hujan turun. Semoga kelak Alloh akan mewujudkan mimpi sederhana ini...Aamiin.

*) picture taken from:  http://lemongrass16.wordpress.com/2013/07/09/pertengahan-tahun-dan-hujan/