Tampilkan postingan dengan label My Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Diary. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Februari 2020

Kebolak balik


Terinspirasi dari tulisan pak eko novianto (lupa yg judulnya apa, ngapunten pak) yg kalau tidak salah pada intinya kita seringkali terjebak membesar-besarkan masalah yg kecil dan mengecilkan permasalahan yang besar. Sebuah nasehat yang dalem yang kalau kita cermati situasi saat ini kok ya pas sekali dg tulisan tersebut. Di level diri sendiri saja kita sering masuk dalam jebakan ini. Dibuat ribet, pusing oleh hal-hal yg kecil, hal-hal yang remeh temeh tapi kadang lupa pada penyelesaian masalah yang jauh lebih besar, yang jauh lebih penting. Dalam level berumah tangga pun sering terjadi suami istri memperdebatkan hal kecil namun lupa dengan hal yang lebih besar dan esensial. Dalam level kehidupan berbangsa dan bernegara juga tak luput dari jebakan ini. Acapkali terjebak pada kesibukan sebuah seremonial namun abai pada bahasan hal yang besar dan substansial.
.
6 atau 9?
Bisa salah satunya atau malah keduanya. Hanya tinggal mengubah posisi melihat kita, tanpa perlu gontok-gontokan apalagi sampai jotos-jotosan, tanpa perlu merasa paling benar sendiri dan yg berbeda pendapat direndahkan. Semudah itu saja karena memang 6 atau 9 hanya hal kecil yang tak perlu menjadi besar, tak perlu menjadi viral di sosial media apalagi menjadi headline di televisi maupun surat kabar.

J E N D E L A


Aku ingat saat dulu kau pinta
Pinta yang sangat sederhana
Kau ingin jendela
Ya...kau ingin jendela di rumah kita
.
Katamu tak perlu besar besar
Yang penting jendela kaca
Agar dapat memandang rintik hujan dari baliknya
Agar dapat ternikmati sinar mentari yang memancar
.
Cukup jendela kaca dan engkau disisiku
Begitu bisik lembutmu padaku
.
Jendela...
Kemudian kuingat pintamu yang sederhana

Rabu, 08 Januari 2020

Cita-Cita



Sewaktu kita kecil seringkali bahkan mungkin hampir pasti ibu bapak guru kita pernah mengajukan pertanyaan "Cita-citamu apa sayang?" atau "Kalau sudah besar mau jadi apa?"
Dan seperti sudah menjadi hal yang umum anak2 dulu (yg satu angkatan dengan saya) menjawab dengan jawaban dokter, polisi, tentara, presiden, guru, atau ingin seperti bapak/ibu atau profesi-profesi yang umum ada waktu itu. Ada yang menjaga cita-cita tersebut hingga akhirnya bisa mewujudkannya dengan segala macam upaya dan daya. Namun tak sedikit juga yang cita-cita nya kandas oleh situasi dan kondisi atau malah kandas oleh sebuah kompromi.
.
Bahkan mungkin diantara kita pada saat dulu ditanya cita-cita tidak ada yang menjawab menjadi PNS/ASN, betul? Namun nyatanya saat ini banyak yang setelah dewasa cita-citanya ingin menjadi PNS/ASN. Karena ya ada situasi kondisi dan juga kompromi yang kemudian kita mendefinisi ulang cita-cita kita. Ada yang mendefinisi ulang cita-citanya ketika memasuki gerbang SMA, ada yang mendefinisi cita-cita saat di bangku kuliahan. Pun juga ada yang mendefinisi ulang cita-citanya saat sudah beranjak tua. Cita-cita tidak selalu sama dengan profesi yang sedang kita jalani saat ini, walaupun ada yang profesi saat ini sama dengan cita-citanya.
.
Selanjutnya adalah muncul pertanyaan "apakah yang kandas cita-citanya adalah yang gagal?" Belum tentu, bahkan mungkin dengan kandasnya cita-cita tersebut menjadi jalan lain untuk menuju sukses -tentunya sukses dengan definisinya masing-masing-. Apapun cita-cita kita serta menjadi apa kita sekarang dan masa yang akan datang yang paling penting adalah kita bisa menjadi manusia yang berguna, bermanfaat bagi sekitar kita.
.
Sebagai penutup saya jadi ingat pesan kawan saya "Fi gantungkan cita-citamu setinggi-tingginya, jadi klo pun ga nyampe kamu masih ada di atas tidak dibawah."

Senin, 21 Oktober 2019

LDR

Ketika takdir cinta berbicara
Kita hanya perlu tuk jalani saja
Saat jarak dan waktu memisahkan
Yakinlah ini hanya sementara

Kadang air mata menyesakkan jiwa
Mengiringi perjalanan kita
Namun kuyakin akan semua doa
Cinta kan kuatkan kita
Cinta kan satukan kita

Ada hati yang harus kujaga
Yang rela kuisi dengan cinta
Terikat oleh janji suci dan setia
Yang buat namamu kan selalu terukir dalam jiwa

Jumat, 18 Oktober 2019

Lelaki tak boleh mengeluh

Laki-laki itu tak boleh mengeluh
Mengeluh dihadapan istri
Mengeluh dihadapan anak
Mengeluh dihadapan orang tua

Seberat apapun beban yang dirasa
Seruwet apapun pikirannya
Se-bergejolak apapun batinnya
Laki-laki tak boleh mengeluh

Karena laki-laki itu pemimpin keluarga
Karena laki-laki itu pun pemimpin bagi dirinya

Laki-laki hanya boleh mengeluh kepada Tuhannya
Di sepertiga malam yg sunyi dan gelap gulita
Di dalam sujud-sujudnya yg panjang
Di dalam doa-doanya yg penuh pengharapan
Mengeluh lah wahai lelaki

Sampaikan beratnya beban hidup yg kau pikul
Sampaikan ruwetnya pikiran yg kau rasa
Sampaikan gejolak batin yg melanda

Jika perlu menangis, menangislah wahai lelaki
Menangislah dihadapan Tuhanmu Yang Maha Penyayang
Bermohonlah kepada Tuhanmu Yang Maha Pemberi
Tundukkanlah hati dan dirimu serendah-rendahnya kepada Tuhanmu Yang Maha Perkasa Yang Maha Segalanya

Agar Dia angkat dan ringankan beban hidupmu
Agar Dia jernihkan dan luruskan pikiranmu
Agar Dia tenangkan gejolak batinmu
Dengan Rahmat-Nya
Dengan Barokah-Nya
Dengan Keridhoan-Nya
Dengan Segala ke Maha Besaran-Nya

Jangan mengeluh wahai lelaki

Jumat, 09 September 2016

Edisi mudik pertama kali bawa mobil



PART I
Sebenernya udah telat banget ngeposting masalah mudik lebaran karena bentar lagi udah mau lebaran haji, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali ya, hehehe...

Oke jadi ceritanya tahun ini karena saya ma istri udah tau bahwa tiket kereta bisa dipesen 3 bulan sebelum keberangkatan, maka 3 menjelang tanggal kita mau mudik saya dah siap-siap begadang buat cari tiket kereta. Walhasil 2 hari saya begadang sama sekali ngga berhasil dapet tiket kereta, padahal saya udah online pake HP, Tab, sama Laptop, tapi tetep aja gagal pas mau booking kursi. Emang sieh tanggal mudik kami mepet banget sama libur cuti bersama, soalnya istri baru dapet libur pas tanggal 2 Juli 2016, jadi emang susah bener cari tiket kereta buat keberangkatan tanggal 1,2,3,4 Juli 2016. Akhirnya sepakat sama istri untuk menunggu kereta tambahan.

Nah dalam jangka waktu nunggu kereta tambahan, tiba-tiba aja kepikiran, apa ambil kridit mobil aja ya? yang kepikir pertama adalah dengan pinjem ke koperasi kantor ditambah uang di tabungan. Okelah, akhirnya saya coba kontak koperasi kantor dan sama pihak koperasi diberitahukan klo bisa aja koperasi kasih pinjeman cuman masalahnya kapan duit pinjeman itu cair ngga tahu kapan, jadi masukin aja permohonannya. Akhirnya saya masukin dah tuh permohonan pinjeman ke Koperasi kantor. Seiring berjalannya waktu, sambil iseng-iseng liat iklan mobil di salah satu situs jual beli, saya iseng-iseng aja SMS yang pada iklan mobil disitu yang harga sesuai dengan budget. Dari 3 iklan yang saya SMS, ada 2 yang bales, yang pertama bilang masih bisa nego dan bisa dibantu proses leasing-nya, and satunya lagi bilang harga ga bisa nego. Akhirnya dengan iklan yang pertama itulah akhirnya saya dapet mobil. Nah masalahnya saya belon bisa nyetir, latihan udah cuman itu udah lama banget, udah ada setahun kali dan lagi posisi mobil ada di kampung halaman. Akhirnya kursus mobilah saya, ambil kursus yang 6 jam. Harusnya 6 jam itu dibagi menjadi 3 hari dengan latihan per hari 2 jam, saya minta ke tempat kursus karena keterbatasan waktu saya bisanya hari sabtu-minggu, bisa ngga klo 3 jam sekali latihan, dan kata pihak kursusnya bisa, Alhamdulillah.

Oh ya, saya kursus itu 3 minggu sebelom puasa, selesai kursus, minggu depannya saya pulang kampung buat ambil mobil, Alhamdulillah ada Saudara yang juga kerja di Jabodetabek yang mau berangkat lagi ke perantauan dan udah biasa nyetir Jakarta-Bumiayu dan sebaliknya. Okelah, akhirnya sama Saudara saya itulah saya bawa mobil ke Jakarta, tantangannya adalah dari Purbalingga ke Bumiayu siapa yang bawa? kan saya baru belajar mobil 2 minggu sebelumnya, dengan modal tawakal kepada Alloh dan Bismillah saya nekadkan diri dengan ditemani ibu pertama kali bawa mobil Purbalingga-Bumiayu. Mobil sempat mundur pas berhenti di tanjakan dan diklakson sama mobil dibelakang saya, namun secara keseluruhan dengan perlindungan dari Gusti Alloh saya selamat sampai di Bumiayu. dan perjalanan Bumiayu-Jakarta yang mengendarai mobil full saudara saya, saya sendiri menghapalkan jalan, karena mudik nanti saya bakalan bawa mobil. Alhamdulillah selamat sampai di Jakarta.

PART II
Masih ada waktu seminggu sebelom puasa, saya akhirnya niatkan selama seminggu sebelom puasa itu saya harus melancarkan nyetir mobil saya. Akhirnya setiap jam 4 pagi saya keluar bawa mobil cari jalan tanjakan dan latihan setengah kopling sama hand rem. Nah pas hari sabtunya saya beranikan diri buat bawa mobil sama istri and anak-anak ke Ragunan, dan alhamdulillah lancar pergi dan pulangnya. Dengan bekal itulah saya yakin saya bisa mudik bawa mobil untuk pertama kalinya.

Hari berganti hari, tanpa terasa sudah mendekati waktu mudik, Ibu mertua sudah khawatir saja, soalnya saya baru bisa nyetir mobil, beluai minta saya mencari supir atau teman yang bisa nyetir agar bisa gantian nyetir nantinya. Udah saya cari namun ga dapet juga, hingga malam sebelum keberangkatan ada teman saya yang bilang klo adiknya ga dapet itket bisa ataupun kereta buat mudik, bisa ngga klo ikut nebeng, saya sempet seneng, wah klo adiknya temen ini bisa nyetir bisa nih buat gantian, batin saya. Namun ternyata pas saya konfirmasi adiknya temen ga bisa nyetir, hehehe....

Sempat bingung berangkat tanggal 1 Juli 2016 sepulang kantor atau tanggal 2 Juli 2016 pagi, namun akhirnya saya dan istri putuskan untuk pulang tanggal 1 Juli 2016 sepulang kantor. Semua pekerjaan saya selesaikan sebelum tanggal 1 Juli, sehingga pas tanggal 1 Juli siang harinya saya bisa manfaatkan buat tidur dulu, persiapan mudik malamnya. Oh iya, 2 minggu sebelum mudik anak-anak sudah saya pulangin ke kampung soalnya takut kena macet, dan kasihan sama anak-anak masih batita dua-duanya soalnya.

PART III
Perjalanan dimulai dari Widya Chandra, tol dalam kota agak tersendat tapi masih bisa jalan, begitu masuk ke toll cikampek lalu lintas mulai tersendat terkadang, dan ketika akan masuk ke gerbang toll Cikopo mulai lancar, karena baru pertama kali nyetir pas mudik, saya cuman berani injek gas sampe kecepatan 100 km/jam dan rata2 jalan 80 km/jam, soalnya tol Cipali lancar pada saat itu, tidak seperti prediksi sebagian orang klo tanggal 1 mlaem bakalan terjadi arus mudik. Kemacetan terjadi menjelang gerbang tol Palimanan dan gerbang tol Pejagan, selain itu lancar perjalanan di tol.

Selepas tol, memasuki jalur biasa, jalanan dari pejagan ke jalur alternatif cirebon lancar, dan baru mulai macet di jalur alternatif Cirebon dekat klonengan, padahal saya keluar tol pejagan jam 11 malem, perkiraan saya bisalah sahur di rumah karena palingan sampai di Purwokerto jam 3 atau jam 4 pagi, eh ternyata dari jalur alternatif cirebon sampai ke pertigaan klonengan waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam, jadi sampai pertigaan klonengan jam 1 dini hari, saya pikir udah lancar eh macet juga di ketanggungan, sampai pintu kereta ketanggungan sudah jam 3 pagi, ya sudah akhirnya sahur di jalan, untungnya dari ketanggungan ke bumiayu lancar. Sampai jalan lingkar Bumiayu jam 5 pagi, dan sampai SPBU patuguran saya berhenti untuk sholat subuh dan melemaskan kaki, hehehe

Alhamdulillah perjalanan berikutnya lancar, dan jam 7 pagi saya sampai di rumah di purwokerto, Alhamdulillah saya putuskan untuk mudik tanggal 1 malam, hanya bertambah waktu tempuh sekitar 6 jam dari waktu tempuh normal, ada kawan saya yang berangkat sabtu pagi tanggal 2, baru sampai minggu sore, atau Saudara saya yang berangkat Senin tanggal 4 akhirnya menginap di jalan selama 2 hari sampai oleh orang tuanya diantarkan bensin dan makanan....sebenernya masih banyak kejadian dan cerita dari mudik pertama pakai mobil dan nyetir sendiri ini, namun mungkin kita ceritain di lain waktu aja ya, hehehehe

oh ya salah satu komentar kawan saya "gila lu Fi, baru bisa nyetir mobil udah bawa mobil pas mudik aja..."

Hehehe, klo ga gitu ga bisa2 saya nyetir mobil, yang penting tetep tawakal dan berdoa serta minta doa restu orang tua and mertua, InsyaAlloh diberi kelancaran dan keselamatan oleh Alloh.

Rabu, 10 Agustus 2016

Ada Masa Dimana

Ada masa dimana kan kuucap Selamat Tinggal Jakarta...
Ada masa dimana kan kuucap Terima Kasih Jakarta...
Ada masa dimana kan kuucap Maaf Jakarta...
Ada masa dimana kau menjadi cerita bagi anak cucuku, Jakarta...
Ada masa dimana kan kukenang engkau Jakarta...
dengan segala hiruk pikuknya...
dengan segala suka dukanya...
dan segala hal yang ada didalamnya...

Ada masa namun entah kapan datangnya...

Selasa, 16 Desember 2014

melihat hujan


Lama tidak menulis di blog ini lagi, ada saja yang membuat jemari ini tidak menari diatas keyboard untuk menulis disini, ditempat dimana apa yang ada dalam pikiran ini dapat tertuliskan. Memasuki musim penghujan ingatan ini berkelana dalam labirin-labirin mimpi dan cita, hingga akhirnya berhenti pada suatu masa dimana ada mimpi dan cita diri ini yang berhubungan dengan hujan.
Mimpi dan cita yang ada ketika awal diri ini merantau ke kota jogja...
Mimpi dan cita yang ada ketika pertama kali dalam sejarah hidup ini terpisah dari orang tua...
Mimpi dan cita yang ada seiring dengan membuncahnya keinginan untuk hidup berumah tangga...
Mimpi dan cita yang ada ketika awal diri ini menjadi kepala keluarga...
Mimpi dan cita yang ada hingga kini dan mungkin baru akan hilang jika telah terwujud nyata...

Ya...hujan memang menghadirkan mimpi dan cita diri yang hingga kini masih bersemanyam dalam pikiran ini. Ketika hujan saya selalu bermimpi dan bercita-cita dapat menikmati pemandangan dimana air hujan membasahi bumi ini dari balik kaca jendela rumah di desa, melihat tanah yang terbasuh oleh air hujan, melihat tanaman yang terbasahi olehnya. Ada rasa damai dan tentram ketika dapat mewujudkannya.

Sederhana? Ya, memang sesederhana itu mimpi diri ini yang hingga kini belum terwujud. Melihat hujan yang turun membasahi bumi ini dari balik jendela rumah di desa dengan ditemani oleh sang istri dan si buah hati sembari berucap doa, doa yang berharap diijabah oleh-Nya kerena terlantun di salah satu waktu dimana Alloh kan mengijabah doa hamba-Nya yaitu di waktu hujan turun. Semoga kelak Alloh akan mewujudkan mimpi sederhana ini...Aamiin.

*) picture taken from:  http://lemongrass16.wordpress.com/2013/07/09/pertengahan-tahun-dan-hujan/

Selasa, 01 Maret 2011

Dear Diary...(menjelang hari H)

Diary....Tiada terasa begitu cepat sang waktu berganti dan terus berganti, seakan tak kenal kompromi melibas segala yang dilewatinya. Begitu pun yang terjadi pada diri ini, pagi tadi sejenak ku merenungi akan waktu ini...Ya Alloh, begitu cepat rasanya waktu ini bergulir, tiada terasa pekan depan ku kan berucap perjanjian yang berat, yang hanya disebut 3 kali dalam Al-qur'an. Dua perjanjian itu diantaranya adalah perjanjian Bani Israil dan perjanjian para nabi yang dengan itu Alloh angkat bukit tursina. Sedangkan satunya lagi adalah janji dua manusia untuk mengikat cinta yang telah Alloh anugerahkan dalam bingkai pernikahan.

Diary...dalam waktu-waktu menjelang hari H ini, terkadang ada rasa yang entah apa itu namanya menyelusup dalam hati, namun begitu rasa itu hadir, ku langsung mengadu pada Dzat Yang Maha Menguasai hati ini, agar ku tak terjebak dalam syak wasangka dan agar tak melenceng niatan dalam hati ini.

Diary...aku sangat bersyukur pada Alloh, karena atas kemudahannya telah kupenuhi janjiku padaNya, kini ku telah hapal 1 Juz dalam Al-qur'an, walaupun itu baru juz 30 yang ternyata berdasarkan cerita teman-teman sudah banyak anak usia SD hapal Juz 30 tersebut. Tapi tak mengapa, bagiku itu merupakan bekalku untuk menjadi imam bagi istriku kelak, agar ketika nanti Qiyamul lail berjamaah bersama istri, ku bisa sekaligus muroja'ah hapalanku itu.

Diary...kurasa cukup sekian dahulu ku tuliskan disini apa yang ingin ku ceritakan padamu...