Bismillahirrohmaanirrohiim...
Alhamdulillah
Segala puji kita panjatkan kehadirat Alloh atas segala nikmat yang terhitung banyaknya yang dikaruniakan kepada kita, Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada qudwah hasanah kita Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasalam beserta para keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia berjalan diatas ajarannya hingga yaumil akhir kelak...
Istriku...
Di hari yang indah dan bahagia ini, ijinkan diri ini tuk ungkapkan rasa dalam hati melalui untaian kata yang sederhana ini.
Sungguh hanya karena kehendak Alloh, di hari ini kita disatukan dalam suatu ikatan suci, telah ku ikrarkan janji sakral nan agung ini, perjanjian yang tak hanya disaksikan oleh para manusia, namun juga oleh Ilahi Robbi. Oleh karenanya ku kan pertahankan janji ini seberapa pun besar badai ujian menghantam bahtera keluarga kita.
Semoga dengan ikatan suci ini Alloh senantiasa melindungi kita dari segala macam fitnah hati dan duniawi.
Istriku...
Begitu bahagia diri ini saat dulu kau nyatakan kesediaan dan keikhlasanmu untuk menerima pinanganku, menerimaku sebagai calon qowwammu, menerimaku dengan segala lebih dan kurangku.
Sungguh tak dapat ku pungkiri bahwa sepi yang selama ini menggelayut di langit hati hajatkan hadirmu disisi, ku akui bahwa ku hanyalah seorang lelaki biasa, dengan cinta yang biasa, oleh karenanya ku butuh hadirmu tuk jadikan cinta ini cinta yang tak lagi biasa.
Jua ku sadari padamu melekat kekurangan, namun ku ingin kau tahu bahwa ketika rembulan tak Purnama, tetap malam terhiasi teduh cahayanya, begitu pun inginku padamu, walau tak sempurna, kasih tulusmu kan tetap jadi hiasan hidupku, dengan balutan keanggunan cinta dalam indahnya taman takwa, berjalan kita bersama.
Istriku...
Ku tak dapat berjanji kan berikan dunia padamu, karena dunia ini hanyalah sementara waktu...satu yang menjadi janji dan azzamku adalah ku ingin dapat menjadi suami yang dapat buat bidadari-bidadari cemburu padamu, dengan taat dan patuhmu pada syariat Tuhanmu dan sunnah Rosulmu, dengan taat dan patuhmu padaku sebagai qowwammu, hingga hanya Barokah dan Ridho Alloh-lah yang senantiasa menaungimu dan hanya surgalah yang menjadi tempat kembalimu.
Istriku...
Lama ku mencari dan menanti, hingga Alloh takdirkan dirimu tuk menjadi belahan hati ini, Alloh jadikanmu tulang rusukku yang selama ini kucari sebagai pelengkap diri ini meniti jalan menuju keridhoan Ilahi.
Istriku...
Tahukah engkau, dalam setiap untaian doaku dalam waktu-waktu mustajabnya sebuah doa selalu kusebut namamu…
istri yang sholehah yang cantik hati dan parasnya yang mencintai dan dicintai Alloh Subhanahu wa ta’ala,
istri yang sholehah yang cantik hati dan parasnya yang bisa menerima diriku dan keluargaku apa adanya,
istri yang sholehah yang cantik hati dan parasnya yang jadikan qonaah sebagai hiasan hidupnya
istri yang sholehah yang cantik hati dan parasnya yang bersamaku membentuk rumah tangga yang kan hadirkan barokah, ridho dan ampunan Alloh Subhanahu wa ta’ala,
istri yang sholehah yang cantik hati dan parasnya yang bersamaku mendidik anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah,
istri yang cantik hati dan parasnya yang mengingatkanku ketika ku salah dan khilaf,
istri yang sholehah yang cantik hati dan parasnya yang jika dipandang membuatku semakin sayang, jika ku pergi membuatku merasa aman karena bisa menjaga kehormatannya dan hartaku sebagaimana disebutkan oleh Nabi yang mulia dalam sabdanya.
Itulah nama-namamu yang selalu kusebut dalam untaian doaku, yang dengan sebutan-sebutan itu juga doaku untuk dirimu, sehingga aku ridho padamu dan Alloh pun ridho padamu, sehingga kelak syurga-lah yang kan jadi tempat kembalimu.
Istriku...
Engkau tidaklah sebaik ibunda khadijah
tidaklah setegar ibunda khansa
tidaklah secerdas ibunda aisyah
tidaklah secantik ibunda zainab binti jahsyi
tidaklah sebijak ummu sulaim
Engkau hanyalah seorang seorang perempuan yang berusaha merajut cinta Allah
dengan segala keterbatasan
Ijinkanku menggapai dan menuntunmu mengarungi hari-hari
dalam bahtera cinta menuju keridhoan Ilahi
Istriku...
Diriku sadar, sungguh sangat sadar, ku hanyalah manusia biasa, lelaki biasa, tak seperti Nabi Muhammad SAW yang mulia dan paling baik terhadap keluarganya, tak seperti para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para ulama salafussholeh yang begitu baik ibadahnya, yang zuhud kehidupannya, yang begitu besar kecintaan mereka pada Nabi dan Rabb mereka. Aku hanyalah lelaki biasa, umat Nabi Muhammad SAW yang tengah berusaha untuk mengikuti sunnah-sunnahnya, yang sedang berusaha untuk mencontoh akhlaknya. Aku hanyalah lelaki biasa yang rindu kau hadir disisiku.
Istriku...
Ijinkanku untuk membimbing langkahmu menuju keridhoan tuhanmu
Ijinkanku tuk mensyukuri hadirmu disisi sebagai anugerah terindah dari Ilahi Robbi dalam kehidupanku
Ijinkanku jadikan bahu ini untuk kau jadikan sandaran ketika lelah dan letih menyambangimu
Ijinkanku jadikan tangan ini tuk membelaimu dengan penuh kasih sayang dan tuk usap air matamu ketika sedih menghampirimu
Ijinkanku tuk juga dapat merasai sedih dan bahagiamu
Ijinkanku tuk mencintaimu dengan sederhana
Istriku...
ku sadar dan kau pun sadari bahwa bahagia tiada selalu menyertai, terkadang jalan terjal harus bersama kita daki, aral lintang harus kita lewati, tak jarang kita harus mengusap air mata yang menetes di pipi, namun itu tiada menyurutkan kita tuk langkahkan kaki, dengan ilmu, kesabaran dan kemantapan hati, serta petunjuk Ilahi, bersama kita melayar bahtera ini.
Istriku...
Jika cinta dapat lenyap karena hilangnya sebab
maka ijinkanku untuk mencintaimu karena Alloh
karena hanya Dia-lah Dzat yang Maha Hidup
Dan diakhir surat sederhana ini, di saat kau telah halal bagiku, ijinkanku tuk berucap kata yang selama ini ku pendam dalam hati bahwa “IJINKANKU MENCINTAIMU KARENA ALLOH DUHAI ISTRIKU TERKASIH...”
Semoga Alloh senantiasa membimbing langkah kita mengarungi samudera kehidupan tuk meniti jalan Surga-Nya
Semoga Alloh jadikan rumah tangga yang kelak kan kita bina menjadi rumah tangga yang sakinnah mawaddah wa rohmah, rumah tangga yang senantiasa terlimpahi barokah, rahmat, cinta, ampunan dan ridho Alloh Subhanahu wa ta’ala
Semoga Alloh karuniakan kepada kita anak keturunan yang sholeh dan sholehah...Aamiin...
Purbalingga, 7 Maret 2011
Dari suami yang mencintaimu
kala lisan tak mampu mengucapkan... biarlah jemari yang menuliskan... agar tiada menjadi beban... agar hati tiada diliputi kebimbangan...
Senin, 18 April 2011
Selasa, 01 Maret 2011
Dear Diary...(menjelang hari H)
Diary....Tiada terasa begitu cepat sang waktu berganti dan terus berganti, seakan tak kenal kompromi melibas segala yang dilewatinya. Begitu pun yang terjadi pada diri ini, pagi tadi sejenak ku merenungi akan waktu ini...Ya Alloh, begitu cepat rasanya waktu ini bergulir, tiada terasa pekan depan ku kan berucap perjanjian yang berat, yang hanya disebut 3 kali dalam Al-qur'an. Dua perjanjian itu diantaranya adalah perjanjian Bani Israil dan perjanjian para nabi yang dengan itu Alloh angkat bukit tursina. Sedangkan satunya lagi adalah janji dua manusia untuk mengikat cinta yang telah Alloh anugerahkan dalam bingkai pernikahan.
Diary...dalam waktu-waktu menjelang hari H ini, terkadang ada rasa yang entah apa itu namanya menyelusup dalam hati, namun begitu rasa itu hadir, ku langsung mengadu pada Dzat Yang Maha Menguasai hati ini, agar ku tak terjebak dalam syak wasangka dan agar tak melenceng niatan dalam hati ini.
Diary...aku sangat bersyukur pada Alloh, karena atas kemudahannya telah kupenuhi janjiku padaNya, kini ku telah hapal 1 Juz dalam Al-qur'an, walaupun itu baru juz 30 yang ternyata berdasarkan cerita teman-teman sudah banyak anak usia SD hapal Juz 30 tersebut. Tapi tak mengapa, bagiku itu merupakan bekalku untuk menjadi imam bagi istriku kelak, agar ketika nanti Qiyamul lail berjamaah bersama istri, ku bisa sekaligus muroja'ah hapalanku itu.
Diary...kurasa cukup sekian dahulu ku tuliskan disini apa yang ingin ku ceritakan padamu...
Diary...dalam waktu-waktu menjelang hari H ini, terkadang ada rasa yang entah apa itu namanya menyelusup dalam hati, namun begitu rasa itu hadir, ku langsung mengadu pada Dzat Yang Maha Menguasai hati ini, agar ku tak terjebak dalam syak wasangka dan agar tak melenceng niatan dalam hati ini.
Diary...aku sangat bersyukur pada Alloh, karena atas kemudahannya telah kupenuhi janjiku padaNya, kini ku telah hapal 1 Juz dalam Al-qur'an, walaupun itu baru juz 30 yang ternyata berdasarkan cerita teman-teman sudah banyak anak usia SD hapal Juz 30 tersebut. Tapi tak mengapa, bagiku itu merupakan bekalku untuk menjadi imam bagi istriku kelak, agar ketika nanti Qiyamul lail berjamaah bersama istri, ku bisa sekaligus muroja'ah hapalanku itu.
Diary...kurasa cukup sekian dahulu ku tuliskan disini apa yang ingin ku ceritakan padamu...
Sabtu, 12 Februari 2011
Bersama Kesulitan ada Kemudahan (3)
30 Januari 2011
Setelah kemarin dalam tulisan sebelumnya, kuceritakan bahwa ibunda sudah merestui diri ini untuk akad nikah terlebih dahulu, maka hari ini ku menuju stasiun Jatinegara untuk membeli tiket pulang sabtu depan, padahal sebelumnya tak ada rencana untuk pulang kampung, namun ternyata adik sepupu ku dari Kalimantan mendapat tugas untuk belajar di RS Harapan Kita selama sepekan dan rencanya dia akan menghabiskan sepekannya lagi untuk berkunjung ke rumahku, maka ku putuskan untuk pulang sekalian karena adik sepupuku tidak terlalu paham jika naik kereta api, oh ya atu lagi, kepulanganku kali ini juga untuk mengambil STNK motorku yang baru ku perpanjang tahun ini. Setelah mendapatkan tiket, langsung ku coba mencari uang Rp 10, hal ini berkaitan dengan mahar yang diminta oleh calon istriku, berbekal informasi dari seorang kawan di kantor, maka kususuri trotoar di sepanjang jalan dari Stasiun Jatinegara menuju Pasar Jatinegara. Dan Alhamdulillah disana ada seorang bapak yang menjual dan membeli uang lama, baik koin ataupun kertas, dan pada saat kutanyakan adakah uang pecahan Rp 10, dia langsung menyodorkan beberapa lembar uang kertas dengan nilai nominal yang kusebut tadi. Sembari memilih ku tanya harganya, dia meminta Rp 15.000 satunya, lalu kutawar dan mentok di harga Rp 10.000, pikirku, Ya sudahlah toh ini untuk calon istriku juga, Rp 10.000 masih wajar...hehehehehehehe
Alhamdulillah...syukur tiada henti kulafazkan dalam hati dan lisan ini atas kemudahan yang telah Engkau beri Ya Alloh....
5 Februari 2011
Sepekan berselang dan hari ini kembali kunikmati kebersahajaan dan segarnya udara kota kelahiranku, Purwokerto. Ternyata hari ini Keluarga Calon istri akan datang ke rumah untuk membahas tanggal akad nikah, hal ini kuketahui dari ibunda ketika ku telpon beliau kalau tak salah pada hari rabu sebelumnya. Dan dari pembicaraan tersebut, sebenarnya diriku dan ibu sudah setuju dengan tanggal yang diajukan oleh pihak calonku yaitu tanggal 5 Maret 2011 karena kebetulan hari itu merupakan hari libur nasional, namun kakekku dari pihak ayah kurang setuju dan kata beliau menurut hitungan jawa kurang bagus (walaupun aku tak setuju dengan alasan beliau), akhirnya setelah pembicaraan tersebut disetujuilah bahwa tanggal 7 Maret 2011 akad nikah akan dilaksanakan. Ehm...ku tegaskan pada ibunda, bahwa kesetujuanku atas masukan kakekku bukan karena diriku percaya dengan hitungan jawa beliau, namun lebih karena menghormati beliau sebagai sesepuh di keluarga kami.
Setelah makan siang bersama, calon ibu mertua memberi tahuku, kalau nanti setelah acara ini untuk ikut ke toko untuk mengepaskan Jas yang akan kupakai ketika akad kelak. Terus terang ada rasa tak menentu ketika mengukur Jas tersebut, mengapa? Karena inilah pertama kali ku pergi dan berbelanja bersama calon bapak dan ibu mertua, calon adik ipar dan calon istriku. Namun sepertinya rasa itu bolehlah kusebut BAHAGIA....^_^
Setelah kemarin dalam tulisan sebelumnya, kuceritakan bahwa ibunda sudah merestui diri ini untuk akad nikah terlebih dahulu, maka hari ini ku menuju stasiun Jatinegara untuk membeli tiket pulang sabtu depan, padahal sebelumnya tak ada rencana untuk pulang kampung, namun ternyata adik sepupu ku dari Kalimantan mendapat tugas untuk belajar di RS Harapan Kita selama sepekan dan rencanya dia akan menghabiskan sepekannya lagi untuk berkunjung ke rumahku, maka ku putuskan untuk pulang sekalian karena adik sepupuku tidak terlalu paham jika naik kereta api, oh ya atu lagi, kepulanganku kali ini juga untuk mengambil STNK motorku yang baru ku perpanjang tahun ini. Setelah mendapatkan tiket, langsung ku coba mencari uang Rp 10, hal ini berkaitan dengan mahar yang diminta oleh calon istriku, berbekal informasi dari seorang kawan di kantor, maka kususuri trotoar di sepanjang jalan dari Stasiun Jatinegara menuju Pasar Jatinegara. Dan Alhamdulillah disana ada seorang bapak yang menjual dan membeli uang lama, baik koin ataupun kertas, dan pada saat kutanyakan adakah uang pecahan Rp 10, dia langsung menyodorkan beberapa lembar uang kertas dengan nilai nominal yang kusebut tadi. Sembari memilih ku tanya harganya, dia meminta Rp 15.000 satunya, lalu kutawar dan mentok di harga Rp 10.000, pikirku, Ya sudahlah toh ini untuk calon istriku juga, Rp 10.000 masih wajar...hehehehehehehe
Alhamdulillah...syukur tiada henti kulafazkan dalam hati dan lisan ini atas kemudahan yang telah Engkau beri Ya Alloh....
5 Februari 2011
Sepekan berselang dan hari ini kembali kunikmati kebersahajaan dan segarnya udara kota kelahiranku, Purwokerto. Ternyata hari ini Keluarga Calon istri akan datang ke rumah untuk membahas tanggal akad nikah, hal ini kuketahui dari ibunda ketika ku telpon beliau kalau tak salah pada hari rabu sebelumnya. Dan dari pembicaraan tersebut, sebenarnya diriku dan ibu sudah setuju dengan tanggal yang diajukan oleh pihak calonku yaitu tanggal 5 Maret 2011 karena kebetulan hari itu merupakan hari libur nasional, namun kakekku dari pihak ayah kurang setuju dan kata beliau menurut hitungan jawa kurang bagus (walaupun aku tak setuju dengan alasan beliau), akhirnya setelah pembicaraan tersebut disetujuilah bahwa tanggal 7 Maret 2011 akad nikah akan dilaksanakan. Ehm...ku tegaskan pada ibunda, bahwa kesetujuanku atas masukan kakekku bukan karena diriku percaya dengan hitungan jawa beliau, namun lebih karena menghormati beliau sebagai sesepuh di keluarga kami.
Setelah makan siang bersama, calon ibu mertua memberi tahuku, kalau nanti setelah acara ini untuk ikut ke toko untuk mengepaskan Jas yang akan kupakai ketika akad kelak. Terus terang ada rasa tak menentu ketika mengukur Jas tersebut, mengapa? Karena inilah pertama kali ku pergi dan berbelanja bersama calon bapak dan ibu mertua, calon adik ipar dan calon istriku. Namun sepertinya rasa itu bolehlah kusebut BAHAGIA....^_^
Senin, 31 Januari 2011
Bersama Kesulitan ada Kemudahan (2)
28 Januari 2011
Oh ya, sebelum jauh ku bercerita disini sedikit mengingatkan kalau tulisan ini berhubungan dengan tulisanku sebelumnya yaitu Bersama Kesulitan ada Kemudahan. DI tulisan sebelumnya ibundaku masih berkeberatan jikalau diriku dan dirinya melaksanakan akad nikah dahulu, namun setelah ku meminta pendapat kepada salah seorang rekan kerja, beliau menyarankan diriku untuk mencoba kembali melobi ibundaku, bukan berarti menentang ibundaku namun ketika hal yang memang harus disegerakan ternyata ditunda bukan karena alasan yang syar'i maka melobi ibunda adalah jalan ikhtiarku untuk menyegerakan apa yang seharusnya disegerakan. Oleh karenanya, ba'da sholat isya ku telpon Paklik-ku yang selama ini menjadi tempat ibu untuk sharing atau merundingkan sesuatu dalam keluarga besar kami. Pembicaraan dengan Paklik-ku langsung ke inti permasalahan, kusampaikan keberatan ibundaku juga kusampaikan bahwa hal ini (menikah) merupakan salah satu urusan yang tak boleh ditunda-tunda jika memang sudah siap, walaupun akad dahulu kukatakan bahwa itulah sebenarnya substansi dari pernikahan, karena setelah akad itulah ku telah halal bagi istriku dan istriku pun telah halal bagiku masalah resepsi walaupun memang dianjurkan bisa dikatakan sebagai pelengkap saja. Alhamdulillah Paklik-ku sependapat denganku dan ketika ku minta bantuannya untuk melobi ibundaku, beliau bersedia, "Baiklah Fi, besok mungkin akan Paklik telpon ibumu" begitu kata beliau.
29 Januari 2011
Alhamdulillah akhirnya hari yang dinanti datang juga, sabtu, saatnya untuk sejenak merehatkan tubuh ini setelah penat yang menggelantungi diri selama senin-jum'at. Seperti biasa jadwal yang kurancang untuk sabtu ini adalah mencuci pakaian. Sempat bermalas-malasan akhirnya agenda mencuci terlaksana juga (maklum anak kos, hehehehe). Seusai mencuci ku kembali ke kamar, sembari ingin mengetahui jam berapa saat itu kulirik HPku, dan ternyata ada 2 misscall dari Paklik-ku, "Wah pasti Paklik sudah menelpon ibu nieh" batinku. Langsung saja ku telpon balik beliau, dan ternyata benar dugaanku, Paklik telah menelpon ibunda dan menyampaikan seperti apa yang kusampaikan kemarin kepada beliau, kata Paklik-ku setelah beliau menjelaskan kepada ibundaku, sepertinya ibunda sudah menyetujui dan tidak berkeberatan lagi, "Alhamdulillah" batinku.
Ketika pagi beranjak meninggi menuju siang hari satu SMS dari ibundaku masuk ke HP ini, "Fi sudah dapat belum maharnya" begitu isi SMS ibundaku. "Wah, benar nieh kata Paklik, ibu bertanya seperti ini berarti ibu sudah setuju" batinku, lalu kubalas "Belum bu, InsyaAlloh besok baru saya cari".
Dan saat malam datang mengganti siang yang telah tenggelam oleh gelap, ku telpon ibundaku ba'da sholat isya, sembari membicarakan tentang mahar yang baru besok kucari kutanyakan jua bagaimana jadinya kalau akad dahulu, dan ibundaku berkata "ya sudah ndak apa-apa kalau akad dahulu..." Alhamdulillah...berulang kali ku puji nama-Mu Ya Alloh....
Kemarin saat kesulitan datang menyapa ku yakinkan diri bahwa pasti di ujung jalannya Alloh telah memarkir Kemudahan, dan Alhamdulillah kemudahan itu akhirnya Alloh berikan padaku dalam urusan ini. Karena dalam ayat cinta-Nya yang begitu indah, Alloh telah tegaskan dua kali "Fa Innama'al 'usri yusro. Innama'al 'usri yusro." (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan) Q.S 94 : 5-6.
Sedikit saja membahas dua ayat diatas (jadi biar ngga cuman curhat doank, tapi nambah ilmu juga...hehehehehehehehe), saya ambilkan pembahasan dari tafsir Juz 'amma karya Syaikh Utsaimin disebutkan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallohu anhu tentang ayat ini berkata, "Tidak akan mungkin satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan".*
menurut ahli balaghah, "Arah perkataanya adalah bahwa kesulitan tidak disebut melainkan satu kali". Lho kok bisa?
Jadi Kesulitan yang pertama diulang dalam kesulitan yang kedua dalam bentuk ma'rifah** sedangkan kemudahan disebut dalam bentuk nakirah. Kaidahnya, jika ism disebut dua kali dengan bentuk ma'rifah, maka yang kedua sesungguhnya adalah yang pertama, kecuali sangat sedikit yang tidak demikian. Sedangkan jika ism disebut dua kali dalam bentuk nakirah, maka dia bukan yang pertama. Jadi di dalam dua ayat yang mulia diatas, dua kemudahan dan satu kesulitan. Karena kesulitan disebutkan dua kali dengan bentuk ma'rifah.
Perkataan ini adalah berita dari Alloh Azza Wa Jalla dan berita-Nya adalah berita yang paling sempurna kebenarannya. Janji-Nya tidak pernah diingkari.
Setiap kali suatu perkara sulit bagi anda, maka tunggulah Kemudahannya.
* : Al-Muwaththa', (2/446); Ibnu Abi Syaibah, (5/335, 13/308); Al-baihaqi, Syu'ab Al-Iman, (7/205-206); dan Al-hakim, (2/301).
** : lafazh yang menunjukkan benda tertentu
Sumber : Pengalaman Pribadi dan Tafsir Juz 'Amma karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darul Falah
Oh ya, sebelum jauh ku bercerita disini sedikit mengingatkan kalau tulisan ini berhubungan dengan tulisanku sebelumnya yaitu Bersama Kesulitan ada Kemudahan. DI tulisan sebelumnya ibundaku masih berkeberatan jikalau diriku dan dirinya melaksanakan akad nikah dahulu, namun setelah ku meminta pendapat kepada salah seorang rekan kerja, beliau menyarankan diriku untuk mencoba kembali melobi ibundaku, bukan berarti menentang ibundaku namun ketika hal yang memang harus disegerakan ternyata ditunda bukan karena alasan yang syar'i maka melobi ibunda adalah jalan ikhtiarku untuk menyegerakan apa yang seharusnya disegerakan. Oleh karenanya, ba'da sholat isya ku telpon Paklik-ku yang selama ini menjadi tempat ibu untuk sharing atau merundingkan sesuatu dalam keluarga besar kami. Pembicaraan dengan Paklik-ku langsung ke inti permasalahan, kusampaikan keberatan ibundaku juga kusampaikan bahwa hal ini (menikah) merupakan salah satu urusan yang tak boleh ditunda-tunda jika memang sudah siap, walaupun akad dahulu kukatakan bahwa itulah sebenarnya substansi dari pernikahan, karena setelah akad itulah ku telah halal bagi istriku dan istriku pun telah halal bagiku masalah resepsi walaupun memang dianjurkan bisa dikatakan sebagai pelengkap saja. Alhamdulillah Paklik-ku sependapat denganku dan ketika ku minta bantuannya untuk melobi ibundaku, beliau bersedia, "Baiklah Fi, besok mungkin akan Paklik telpon ibumu" begitu kata beliau.
29 Januari 2011
Alhamdulillah akhirnya hari yang dinanti datang juga, sabtu, saatnya untuk sejenak merehatkan tubuh ini setelah penat yang menggelantungi diri selama senin-jum'at. Seperti biasa jadwal yang kurancang untuk sabtu ini adalah mencuci pakaian. Sempat bermalas-malasan akhirnya agenda mencuci terlaksana juga (maklum anak kos, hehehehe). Seusai mencuci ku kembali ke kamar, sembari ingin mengetahui jam berapa saat itu kulirik HPku, dan ternyata ada 2 misscall dari Paklik-ku, "Wah pasti Paklik sudah menelpon ibu nieh" batinku. Langsung saja ku telpon balik beliau, dan ternyata benar dugaanku, Paklik telah menelpon ibunda dan menyampaikan seperti apa yang kusampaikan kemarin kepada beliau, kata Paklik-ku setelah beliau menjelaskan kepada ibundaku, sepertinya ibunda sudah menyetujui dan tidak berkeberatan lagi, "Alhamdulillah" batinku.
Ketika pagi beranjak meninggi menuju siang hari satu SMS dari ibundaku masuk ke HP ini, "Fi sudah dapat belum maharnya" begitu isi SMS ibundaku. "Wah, benar nieh kata Paklik, ibu bertanya seperti ini berarti ibu sudah setuju" batinku, lalu kubalas "Belum bu, InsyaAlloh besok baru saya cari".
Dan saat malam datang mengganti siang yang telah tenggelam oleh gelap, ku telpon ibundaku ba'da sholat isya, sembari membicarakan tentang mahar yang baru besok kucari kutanyakan jua bagaimana jadinya kalau akad dahulu, dan ibundaku berkata "ya sudah ndak apa-apa kalau akad dahulu..." Alhamdulillah...berulang kali ku puji nama-Mu Ya Alloh....
Kemarin saat kesulitan datang menyapa ku yakinkan diri bahwa pasti di ujung jalannya Alloh telah memarkir Kemudahan, dan Alhamdulillah kemudahan itu akhirnya Alloh berikan padaku dalam urusan ini. Karena dalam ayat cinta-Nya yang begitu indah, Alloh telah tegaskan dua kali "Fa Innama'al 'usri yusro. Innama'al 'usri yusro." (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan) Q.S 94 : 5-6.
Sedikit saja membahas dua ayat diatas (jadi biar ngga cuman curhat doank, tapi nambah ilmu juga...hehehehehehehehe), saya ambilkan pembahasan dari tafsir Juz 'amma karya Syaikh Utsaimin disebutkan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallohu anhu tentang ayat ini berkata, "Tidak akan mungkin satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan".*
menurut ahli balaghah, "Arah perkataanya adalah bahwa kesulitan tidak disebut melainkan satu kali". Lho kok bisa?
Jadi Kesulitan yang pertama diulang dalam kesulitan yang kedua dalam bentuk ma'rifah** sedangkan kemudahan disebut dalam bentuk nakirah. Kaidahnya, jika ism disebut dua kali dengan bentuk ma'rifah, maka yang kedua sesungguhnya adalah yang pertama, kecuali sangat sedikit yang tidak demikian. Sedangkan jika ism disebut dua kali dalam bentuk nakirah, maka dia bukan yang pertama. Jadi di dalam dua ayat yang mulia diatas, dua kemudahan dan satu kesulitan. Karena kesulitan disebutkan dua kali dengan bentuk ma'rifah.
Perkataan ini adalah berita dari Alloh Azza Wa Jalla dan berita-Nya adalah berita yang paling sempurna kebenarannya. Janji-Nya tidak pernah diingkari.
Setiap kali suatu perkara sulit bagi anda, maka tunggulah Kemudahannya.
* : Al-Muwaththa', (2/446); Ibnu Abi Syaibah, (5/335, 13/308); Al-baihaqi, Syu'ab Al-Iman, (7/205-206); dan Al-hakim, (2/301).
** : lafazh yang menunjukkan benda tertentu
Sumber : Pengalaman Pribadi dan Tafsir Juz 'Amma karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darul Falah
Jumat, 28 Januari 2011
Bersama Kesulitan ada Kemudahan
Kali ini saya hanya ingin berbagi cerita dengan para pengunjung blog ini (baca : CURHAT)...^_^
23 Januari 2011
Hari ini kupacu motorku menuju sebuah kota tentangga yang beberapa kali sudah kukunjungi. Agak tidak sesuai dengan rencana awal, karena awalnya hari ini saya dan ibu tercinta berencana mengunjungi rumah calon mertua, dengan maksud menanyakan kelanjutan kapan hubungan saya dan anaknya dapat resmi dan hahal dalam ikatan pernikahan, karena sudah berselang satu bulan saya melamar anaknya. Semakin mendekati rumahnya entah mengapa perasaan dag dig dug alias grogi masih saja ada dalam hati, sembari melafazkan doa dari lisan ini sepanjang perjalanan semoga nanti tidak ada salah ucap yang menyinggung calon mertua.
Sekitar pukul 10 lebih pagi itu sampailah diri ini dirumahnya, calon ibu mertua yang membukakan pintu, dan setelah duduk dia keluar ikut duduk bersamaku dan ibunya (duduknya berseberangan lho ya....) dan dari obrolan pembuka kuketahui bapaknya sedang pergi memancing bersama adiknya yang kebetulan sedang libur semesteran. Singkat cerita menjelang pulang kusampaikanlah maksud kedatanganku pada hari itu (bapaknya sudah bergabung). Di hadapan kedua orang tuanya kutanyakan bagaimana kelanjutan dari lamaranku kemarin, kapan ku bisa menikahi anak gadisnya itu, lalu oleh bapaknya dijawab bahwa prinsipnya untuk hal baik seperti ini haruslah disegerakan, lebih cepat lebih baik, kata beliau, namun dengan berbagai pertimbangan bagaimana kalau akad nikah saja dahulu dan untuk resepsi menyusul kemudian...."Yes, Alhamdulillah, cocok klo begitu" teriak girang dalam batin saya.
"Jadi bagaimana kalau akhir bulan ****** atau awal bulan ******? mas Luthfi setuju?"
"Baik pak kalau memang seperti itu jalan tengahnya, saya setuju, nanti saya sampaikan ke ibu saya" jawabku
Walhasil perjalan pulangku kulantunkan salah satu nasyid berjudul hari bahaia sembari tak henti hati ini bersyukur pada Alloh...padahal sebelum berangkat sudah kusiapkan kalimat negosiasi jika pihak sana mengetengahkan pilihan yang terlalu lama waktunya, tapi qodarulloh dimudahkan oleh Alloh.
Sesampainya di rumah ku ceritakan hasil kunjunganku tadi, dan ibu sepertinya masih keberatan jika harus akad dahulu, kenapa ndak dibarengin sama resepsi sekalian? begitu tanya ibu, namun sebelum keberangkatanku kembali ke ibukota beliau bilang "ya sudah klo maunya seperti itu"...plong...agak tenang sekarang...^_^
27 Januari 2011
Sepulang dari masjid setelah menunaikan sholat isya, ku telpon ibu, menanyakan kabar dan menyapanya serta menanyakan masalah rencana pernikahanku dan ternyata ibu masih keberatan, beliau mau mencoba mebicarakan lagi dengan pihak calonku bagaimana kalau akad dan resepsi dijadikan satu namun waktunya diundur lagi...langsung saja kembali hati ini gelisah, bunga bahagia yang kemarin-kemarin memenuhi hati ini tiba-tiba saja layu....ku coba memberi pengertian kepada ibu, bahwa tak masalah kalau akad dulu, agar diriku jadi lebih tenang, namun ibu masih saja berkeras...walhasil perjuanganku melobi ibundaku masih harus berlanjut....dan sebagaimana kemaren Alloh beriku Kemudahan berupa jalan tengah dari keluarga sang calon, kini Alloh beriku lagi ujian, namun kembali aku yakin bahwa dibalik ujian ini pasti akan ada Kemudahan...yakin...
oleh karenanya, mohon doa dari blogger-blogger semua ya, semoga Alloh mudahkanku untuk melobi ibunda, agar tak ku tergesa-gesa namun juga tak menunda-nunda untuk menyempurnakan separuh agama...lanjutan ceritanya ada di sini
23 Januari 2011
Hari ini kupacu motorku menuju sebuah kota tentangga yang beberapa kali sudah kukunjungi. Agak tidak sesuai dengan rencana awal, karena awalnya hari ini saya dan ibu tercinta berencana mengunjungi rumah calon mertua, dengan maksud menanyakan kelanjutan kapan hubungan saya dan anaknya dapat resmi dan hahal dalam ikatan pernikahan, karena sudah berselang satu bulan saya melamar anaknya. Semakin mendekati rumahnya entah mengapa perasaan dag dig dug alias grogi masih saja ada dalam hati, sembari melafazkan doa dari lisan ini sepanjang perjalanan semoga nanti tidak ada salah ucap yang menyinggung calon mertua.
Sekitar pukul 10 lebih pagi itu sampailah diri ini dirumahnya, calon ibu mertua yang membukakan pintu, dan setelah duduk dia keluar ikut duduk bersamaku dan ibunya (duduknya berseberangan lho ya....) dan dari obrolan pembuka kuketahui bapaknya sedang pergi memancing bersama adiknya yang kebetulan sedang libur semesteran. Singkat cerita menjelang pulang kusampaikanlah maksud kedatanganku pada hari itu (bapaknya sudah bergabung). Di hadapan kedua orang tuanya kutanyakan bagaimana kelanjutan dari lamaranku kemarin, kapan ku bisa menikahi anak gadisnya itu, lalu oleh bapaknya dijawab bahwa prinsipnya untuk hal baik seperti ini haruslah disegerakan, lebih cepat lebih baik, kata beliau, namun dengan berbagai pertimbangan bagaimana kalau akad nikah saja dahulu dan untuk resepsi menyusul kemudian...."Yes, Alhamdulillah, cocok klo begitu" teriak girang dalam batin saya.
"Jadi bagaimana kalau akhir bulan ****** atau awal bulan ******? mas Luthfi setuju?"
"Baik pak kalau memang seperti itu jalan tengahnya, saya setuju, nanti saya sampaikan ke ibu saya" jawabku
Walhasil perjalan pulangku kulantunkan salah satu nasyid berjudul hari bahaia sembari tak henti hati ini bersyukur pada Alloh...padahal sebelum berangkat sudah kusiapkan kalimat negosiasi jika pihak sana mengetengahkan pilihan yang terlalu lama waktunya, tapi qodarulloh dimudahkan oleh Alloh.
Sesampainya di rumah ku ceritakan hasil kunjunganku tadi, dan ibu sepertinya masih keberatan jika harus akad dahulu, kenapa ndak dibarengin sama resepsi sekalian? begitu tanya ibu, namun sebelum keberangkatanku kembali ke ibukota beliau bilang "ya sudah klo maunya seperti itu"...plong...agak tenang sekarang...^_^
27 Januari 2011
Sepulang dari masjid setelah menunaikan sholat isya, ku telpon ibu, menanyakan kabar dan menyapanya serta menanyakan masalah rencana pernikahanku dan ternyata ibu masih keberatan, beliau mau mencoba mebicarakan lagi dengan pihak calonku bagaimana kalau akad dan resepsi dijadikan satu namun waktunya diundur lagi...langsung saja kembali hati ini gelisah, bunga bahagia yang kemarin-kemarin memenuhi hati ini tiba-tiba saja layu....ku coba memberi pengertian kepada ibu, bahwa tak masalah kalau akad dulu, agar diriku jadi lebih tenang, namun ibu masih saja berkeras...walhasil perjuanganku melobi ibundaku masih harus berlanjut....dan sebagaimana kemaren Alloh beriku Kemudahan berupa jalan tengah dari keluarga sang calon, kini Alloh beriku lagi ujian, namun kembali aku yakin bahwa dibalik ujian ini pasti akan ada Kemudahan...yakin...
oleh karenanya, mohon doa dari blogger-blogger semua ya, semoga Alloh mudahkanku untuk melobi ibunda, agar tak ku tergesa-gesa namun juga tak menunda-nunda untuk menyempurnakan separuh agama...lanjutan ceritanya ada di sini
Selasa, 25 Januari 2011
Doa seorang (calon) suami

Ya Alloh, Wahai Dzat Yang Maha Menguasai Hati, luruskan niatan dalam hatiku menujunya agar mampu ku sempurnakan agamaku...
Wahai Tuhan seru sekalian alam, bimbinglah hatiku agar mampu ku tunjukkan padanya betapa nikmatnya kehidupan berumah tangga dalam tali aqidah dan syariah...
Ya Alloh, bimbinglah kami untuk selalu bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan...
Ya Rohmaan, Ya Rohiim, Ya Kariim, jadikanlah diriku kenangan yang baik bagi istriku jika Engkau mencabut nyawaku terlebih dahulu...Dan jadikanlah pula istriku kenangan yang baik bagiku jika Engkau mencabut nyawanya terlebih dahulu...
Ampunilah kami Ya Alloh, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kebangkitan kelak, hari dimana harta, suami-istri, dan anak-anak keturunan tiada berharga...Aamiin...
sumber : Buku "Bismillah...Jadilah Isteriku" karya Masnur Marzuki
Langganan:
Postingan (Atom)