Duhai Permata hati
yang selama ini kucari
kini kau telah kutemui dan ada disisi
temani diri arungi hari
Duhai Permata hati
padamu kutambatkan kerinduan ini
padamu kusemai cinta berharap barokah Ilahi
Duhai Permata hati
kini halal kupandangi indah kilaumu
dalam ikatan suci pernikahan
Duhai Permata hati
ku tak ingin buatmu nampak bercahaya dengan harta
karena harta hanya sementara saja
ijinkanku balurimu dengan ilmu dan keimanan
karena itulah yang kan terbawa hingga akhirat sana
Duhai Permata hati
kepada Ilahi kumohonkan
agar cinta ini menambah cinta kita pada-Nya
kala lisan tak mampu mengucapkan... biarlah jemari yang menuliskan... agar tiada menjadi beban... agar hati tiada diliputi kebimbangan...
Rabu, 28 Juli 2010
Jumat, 23 Juli 2010
BAB I NOVEL LASKAR PELANGI

Sudahkah sahabat membaca Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata? lalu apakah yang sahabat dapatkan dari Novel tersebut?
Beberapa nilai disana dapat kita dapati, tentang nilai-nilai perjuangan untuk meraih dan mewujudkan mimpi serta keindahan suatu persahabatan, dan pada kesempatan ini saya hanya ingin berbagi salah satu Bab dari novel tersebut. Bab I pada novel laskar pelangi menyuguhkan awal cerita perjuangan seorang Ikal yang kelak (dalam lanjutan novel tetralogi laskar pelangi) berhasil mewujudkan impiannya untuk merasakan siraman ilmu di salah satu universitas ternama didunia, yaitu Sorbone University, Prancis. Dalam Bab I tersebut diceritakan hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah, dimana hari itu merupakan hari yang sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa yang benar-benar tulus mengabdikan diri mereka dalam dunia pendidikan, yaitu Bu Muslimah dan Pak Harfan, serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah itu akan ditutup. Sebagian besar dari para calon murid tersebut didampingi oleh masing-masing orang tua mereka kecuali satu, Lintang. Ketika pagi beranjak siang dan sang mentari pun mulai meninggi, jumlah murid tidak juga bertambah dan tetap berjumlah 9 orang, raut kecemasan yang sedari tadi menghiasi wajah Bu Mus dan Pak Harfan kini mulai menyebar kepada para orang tua murid yang ada didalam kelas tersebut. Bagaimana jadinya kalau sekolah ini ditutup, akankah anak-anak mereka kehilangan kesempatan untuk mengenyam bangku pendidikan dan hanya menjadi buruh di pasar, pelabuhan atau perusahaan timah yang terdapat di Pulau Belitong, mungkin inilah yang berkecamuk dalam benak dan pikir para orang tua.
Seakan tak mau kompromi, perlahan tapi pasti sang waktu terus mengikis kesempatan bagi 9 calon murid tersebut, hingga ketika kesempatan itu mulai terlihat suram dan menggelap, secercah sinar harapan datang untuk kembali meneranginya, seorang anak berlari dengan ibunya yang kepayahan dan tergopoh-gopoh mengikuti sang anak tersebut menuju SD Muhammadiyah. Raut kecemasan dan ketegangan di wajah Bu Mus dan Pak Harfan serta para orang tua murid berganti menjadi semburat senyum kesyukuran yang menyungging di wajah mereka. Harun, itulah nama anak tersebut, seorang anak yang mempunyai keterbelakangan mental itulah yang telah menjadi penyelamat bagi 9 temannya untuk dapat menikmati pengalaman hidup menuntut ilmu di bangku sekolah dan Harun jualah yang menjadi awalan, bagaimana nantinya Ikal dapat mewujudkan mimpinya kuliah di Sorbone, Prancis. Inilah bentuk keadilan dan keseimbangan yang diperlihatkan Alloh kepada manusia.
Dari bab I novel laskar pelangi tersebut maka mari kita lihat kembali orang-orang di sekitar kita, orang tua kita, keluarga kita, teman kita, mungkin saja mereka merupakan salah satu faktor di balik keberhasilan kita saat ini. Sebagaimana adanya sang mentari dan rembulan yang saling melengkapi untuk memberikan sinarannya kepada sang bumi, kita memang tidaklah sempurna dan penuh kekurangan namun kehadiran orang-orang disekitar kita dapat membuat kehidupan kita akan terasa sempurna karena merekalah yang kan melengkapi kita dan meng-cover kekurangan kita. Wallohu a’lam.
Inspired by rekan satu seksi yang telah berbagi cerita….
Kamis, 08 Juli 2010
Catatan Tentang Seorang Lelaki
Seorang lelaki baik sebagai ayah atau suami tak kan ingin melihat anak istrinya menderita
karena yang ia ingin adalah anak istrinya merasa bahagia
Seorang lelaki baik sebagai ayah atau suami tak kan ingin melihat anak istrinya menangis lara
karena yang ia ingin adalah anak istrinya tersenyum ceria
Seorang lelaki baik sebagai ayah atau suami tak kan ingin melihat anak istrinya bersedih
karena jika itu terjadi maka hatinya pun kan terasa perih
Seorang lelaki baik sebagai ayah atau suami tak kan ingin anak istrinya jua merasakan lelah yang menggelayutinya
karena baginya lelah itu bentuk tanggung jawab terhadap anak istrinya
Karena bagi seorang lelaki
baik sebagai ayah atau suami
hadirnya anak istri disisi adalah sumber kekuatan tersendiri
untuknya menahkodai bahtera rumah tangga mengarungi samudera kehidupan ini
menghadapi debur ombak dan badai yang mungkin kan menghampiri
menuju bahagia yang dimimpi
Karena bagi seorang lelaki
baik sebagai ayah atau suami
hadirnya anak istri disisi adalah sumber semangat tersendiri
untuknya terus melangkahkan kaki melewati tangga-tangga ujian hidup ini
mengharap barokah dan keridhoan Ilahi
karena yang ia ingin adalah anak istrinya merasa bahagia
Seorang lelaki baik sebagai ayah atau suami tak kan ingin melihat anak istrinya menangis lara
karena yang ia ingin adalah anak istrinya tersenyum ceria
Seorang lelaki baik sebagai ayah atau suami tak kan ingin melihat anak istrinya bersedih
karena jika itu terjadi maka hatinya pun kan terasa perih
Seorang lelaki baik sebagai ayah atau suami tak kan ingin anak istrinya jua merasakan lelah yang menggelayutinya
karena baginya lelah itu bentuk tanggung jawab terhadap anak istrinya
Karena bagi seorang lelaki
baik sebagai ayah atau suami
hadirnya anak istri disisi adalah sumber kekuatan tersendiri
untuknya menahkodai bahtera rumah tangga mengarungi samudera kehidupan ini
menghadapi debur ombak dan badai yang mungkin kan menghampiri
menuju bahagia yang dimimpi
Karena bagi seorang lelaki
baik sebagai ayah atau suami
hadirnya anak istri disisi adalah sumber semangat tersendiri
untuknya terus melangkahkan kaki melewati tangga-tangga ujian hidup ini
mengharap barokah dan keridhoan Ilahi
Sabtu, 22 Mei 2010
Padamu malam ku bercerita
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang tengah wujudkan asa dan cintanya
Dengan rangkaian usaha dalam untaian doa-doanya
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Dengan tetes air wudlu dan tunduk sujud pada Tuhannya
Bertaubat dan mohon ampun atas segala khilaf dan dosa dengan linangan air mata
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Menghiba dan meminta kepada Dzat yang maha memiliki segala
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Dengan menggantungkan segala harapannya kepada Dzat yang maha kuasa
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Memohon cinta yang harapkan bahagia dan hadirkan wangi-wangi surga
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Memohon cinta yang terbingkai dalam syariat, barokah dan ridho Alloh azza wa jalla...
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang tengah wujudkan asa dan cintanya
Dengan rangkaian usaha dalam untaian doa-doanya
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Dengan tetes air wudlu dan tunduk sujud pada Tuhannya
Bertaubat dan mohon ampun atas segala khilaf dan dosa dengan linangan air mata
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Menghiba dan meminta kepada Dzat yang maha memiliki segala
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Dengan menggantungkan segala harapannya kepada Dzat yang maha kuasa
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Memohon cinta yang harapkan bahagia dan hadirkan wangi-wangi surga
Pada pekatnya malam ku bercerita
Tentang kisah seorang anak manusia
Yang menghabiskan sepertiga akhir malamnya
Memohon cinta yang terbingkai dalam syariat, barokah dan ridho Alloh azza wa jalla...
Menjadi Manusia yang bermanfaat
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Hadits ini dishahihkan oleh al Albani didalam “ash Shahihah” nya.
Sudahkah kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan Seberapa manfaatkah diri kita saat ini bagi orang lain di sekeliling kita? Mungkin itulah pertanyaan yang seharusnya menjadi pengisi benak kita setiap hari, agar menjadikan kita memiliki motivasi lebih dari hari ke hari untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan menjadi pribadi yang menjadi paling baik yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain seperti disebutkan Rosululloh dalam hadits diatas. Jikalau diibaratkan sebagai suatu benda, semakin tinggi nilai manfaat benda tersebut maka semakin berharga untuk kita miliki dan kita akan merasa sangat kehilangan jika benda itu hilang dari kita, begitu juga dengan manusia, semakin tinggi nilai manfaat dirinya bagi orang lain maka akan semakin bernilai dirinya dihadapan manusia yang lain, jangan sampai adanya kita di dalam keluarga atau dalam hidup bermasyarakat tidak mempunyai nilai apa-apa sehingga ketika kita meninggal mereka tidak merasa kehilangan kita. Dan manusia dengan anugerah akal dari Alloh Azza wa jalla masih terus dan selalu mempunyai kesempatan serta waktu untuk meninggikan nilai manfaatnya bagi manusia yang lain entah itu dalam lingkup yang paling kecil yaitu dalam sebuah keluarga sampai lingkup yang besar yaitu ummat, bangsa dan negara.
-terinspirasi oleh perkataan seorang Direktur baru pada saat Ceramah Pengarahan beliau kepadaku dan teman yang lain-
Sudahkah kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan Seberapa manfaatkah diri kita saat ini bagi orang lain di sekeliling kita? Mungkin itulah pertanyaan yang seharusnya menjadi pengisi benak kita setiap hari, agar menjadikan kita memiliki motivasi lebih dari hari ke hari untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan menjadi pribadi yang menjadi paling baik yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain seperti disebutkan Rosululloh dalam hadits diatas. Jikalau diibaratkan sebagai suatu benda, semakin tinggi nilai manfaat benda tersebut maka semakin berharga untuk kita miliki dan kita akan merasa sangat kehilangan jika benda itu hilang dari kita, begitu juga dengan manusia, semakin tinggi nilai manfaat dirinya bagi orang lain maka akan semakin bernilai dirinya dihadapan manusia yang lain, jangan sampai adanya kita di dalam keluarga atau dalam hidup bermasyarakat tidak mempunyai nilai apa-apa sehingga ketika kita meninggal mereka tidak merasa kehilangan kita. Dan manusia dengan anugerah akal dari Alloh Azza wa jalla masih terus dan selalu mempunyai kesempatan serta waktu untuk meninggikan nilai manfaatnya bagi manusia yang lain entah itu dalam lingkup yang paling kecil yaitu dalam sebuah keluarga sampai lingkup yang besar yaitu ummat, bangsa dan negara.
-terinspirasi oleh perkataan seorang Direktur baru pada saat Ceramah Pengarahan beliau kepadaku dan teman yang lain-
Kisah Seorang Penjual Tempe
Cerita singkat nan sederhana yang akan saya bagi pada kesempatan ini saya dapatkan dari seorang senior di kantor dimana pada waktu itu ada acara internalisasi nilai-nilai organisasi kami. Karena menurut saya cerita ini inspiratif maka saya bagikan disini untuk dapat sama-sama kita ambil hikmah dari cerita ini. Bagi yang sudah pernah dengar semoga postingan ini menjadi sarana untuk mengingat kembali dan bagi yang belum semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Seperti biasa, sebelum mulai mebacanya mari kita lafadzkan "Bismillahirrohmanirrohim" agar Alloh memberikan barokah-Nya kepada kita semua. Selamat menikmati.....
Ada seorang pedagang tempe yang setiap harinya bangun di pagi hari jam 3 pagi menyiapkan tempe yang telah dibuatnya untuk dibawa ke pasar di hari itu. Sebagaimana biasanya setelah sholat tahajud mulai di packing mneyiapkan dagangannya untuk dibawa ke pasar dan setelah siap dia pergi di pagi buta menuju pasar dimana biasa dia berjualan yang mempunyai jarak cukup jauh, dan ketika subuh datang maka dia mampir ke masjid untuk melakukan sholat subuh, setelah itu kembali dia melanjutkan perjalanan agar tidak kesiangan sampai di pasar untuk menjual tempenya. Pukul 6 pagi dia sampai di pasar dan mulai menggelar dagangannya sampai sekira pukul 10 pagi dagangannya habis dan dia pun pulang kembali ke rumahnya dengan membawa uang hasil berjualan untuk membeli bahan makanan untuk hari itu. Pada suatu ketika tempe yang dia buat tidak jadi-jadi, jam 3 pagi dia lihat belum jadi tempenya, ditunggunya sembari dia menunaikan sholat tahajud dan berdoa semoga tempenya jadi sehingga dia dapat berjualan dan memberi makan pada keluarganya hari itu. Namun setelah sholat dan berdoa dia kembali tengok tempenya, belum juga jadi, sembari tetap berprasangka baik dan jika dia tidak berjualan maka entah akan makan apa keluarganya hari itu maka tetap dia berangkat menuju pasar dengan membawa tempe yang belum jadi sambil terus berharap semoga tempenya jadi nanti setelah sampai di pasar. Setelah mampir sholat subuh kembali dia melihat tempe dagangannya, masih juga belum jadi, dan dengan terus berharap bahwa tempenya akan jadi di pasar nanti, kembali dia melanjutkan perjalanannya, sesampainya di pasar digelarlah dagangan tempenya seperti biasa, walaupun tempenya belum jadi, hingga jam 10 tidak ada yang membeli tempe yang belum jadi itu, akhirnya dia putuskan untuk membawa kembali tempenya itu pulang ke rumah, namun ketika bersiap-siap akan pulang dan membereskan dagangannya datanglah seorang ibu sedang mencari tempe yang belum jadi karena anaknya sangat suka sekali tempe namun akan pergi ke luar negeri malam nanti, sehingga harapannya jika besok sampai di luar negeri, tempe itu jadi dan bisa dimasak untuk dinikmati. Maka diboronglah semua tempenya itu oleh ibu tersebut dan ketika dia ceritakan yang dia alami pada hari itu sang ibu memberikan uang tambahan kepadanya.
Hikmah dari cerita di atas adalah setiap kejadian yang menimpa kita entah itu yang membuat kita bahagia atau mengundang duka lara pasti ada hikmahnya, walaupun mungkin kita tidak dapat melihat dan merasakan hikmah itu secara langsung ketika kejadian itu terjadi, dan juga boleh jadi kita anggap bahwa kejadian itu tidak baik bagi kita, namun dengan terus berdoa dan berprasangka baik pada Alloh maka hikmah dari kejadian itu adalah sesuatu yang sangat baik bagi kita, sebagaimana kisah seorang penjual tempe diatas. Dan hal ini disebutkan dalam Al-qur’an “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqoroh : 216). Oleh karenanya setiap kejadian yang menimpa diri kita mari kita sikapi dari sudut pandang yang paling positif dan tetap berprasangka baik pada Alloh Subhanahu wa ta’ala, karena bahkan dalam suatu uji/coba disana akan selalu ada alasan untuk kita senantiasa bersyukur yang dengan begitu kan kita dapati hikmah positif dan tiada uji/coba tersebut melemahkan diri melainkan akan menguatkan dan menjadikan kita lebih bijak serta lebih dewasa dalam menjalani setiap peran kita dalam kehidupan fana di dunia ini. Wallohu a’lam.
Ada seorang pedagang tempe yang setiap harinya bangun di pagi hari jam 3 pagi menyiapkan tempe yang telah dibuatnya untuk dibawa ke pasar di hari itu. Sebagaimana biasanya setelah sholat tahajud mulai di packing mneyiapkan dagangannya untuk dibawa ke pasar dan setelah siap dia pergi di pagi buta menuju pasar dimana biasa dia berjualan yang mempunyai jarak cukup jauh, dan ketika subuh datang maka dia mampir ke masjid untuk melakukan sholat subuh, setelah itu kembali dia melanjutkan perjalanan agar tidak kesiangan sampai di pasar untuk menjual tempenya. Pukul 6 pagi dia sampai di pasar dan mulai menggelar dagangannya sampai sekira pukul 10 pagi dagangannya habis dan dia pun pulang kembali ke rumahnya dengan membawa uang hasil berjualan untuk membeli bahan makanan untuk hari itu. Pada suatu ketika tempe yang dia buat tidak jadi-jadi, jam 3 pagi dia lihat belum jadi tempenya, ditunggunya sembari dia menunaikan sholat tahajud dan berdoa semoga tempenya jadi sehingga dia dapat berjualan dan memberi makan pada keluarganya hari itu. Namun setelah sholat dan berdoa dia kembali tengok tempenya, belum juga jadi, sembari tetap berprasangka baik dan jika dia tidak berjualan maka entah akan makan apa keluarganya hari itu maka tetap dia berangkat menuju pasar dengan membawa tempe yang belum jadi sambil terus berharap semoga tempenya jadi nanti setelah sampai di pasar. Setelah mampir sholat subuh kembali dia melihat tempe dagangannya, masih juga belum jadi, dan dengan terus berharap bahwa tempenya akan jadi di pasar nanti, kembali dia melanjutkan perjalanannya, sesampainya di pasar digelarlah dagangan tempenya seperti biasa, walaupun tempenya belum jadi, hingga jam 10 tidak ada yang membeli tempe yang belum jadi itu, akhirnya dia putuskan untuk membawa kembali tempenya itu pulang ke rumah, namun ketika bersiap-siap akan pulang dan membereskan dagangannya datanglah seorang ibu sedang mencari tempe yang belum jadi karena anaknya sangat suka sekali tempe namun akan pergi ke luar negeri malam nanti, sehingga harapannya jika besok sampai di luar negeri, tempe itu jadi dan bisa dimasak untuk dinikmati. Maka diboronglah semua tempenya itu oleh ibu tersebut dan ketika dia ceritakan yang dia alami pada hari itu sang ibu memberikan uang tambahan kepadanya.
Hikmah dari cerita di atas adalah setiap kejadian yang menimpa kita entah itu yang membuat kita bahagia atau mengundang duka lara pasti ada hikmahnya, walaupun mungkin kita tidak dapat melihat dan merasakan hikmah itu secara langsung ketika kejadian itu terjadi, dan juga boleh jadi kita anggap bahwa kejadian itu tidak baik bagi kita, namun dengan terus berdoa dan berprasangka baik pada Alloh maka hikmah dari kejadian itu adalah sesuatu yang sangat baik bagi kita, sebagaimana kisah seorang penjual tempe diatas. Dan hal ini disebutkan dalam Al-qur’an “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqoroh : 216). Oleh karenanya setiap kejadian yang menimpa diri kita mari kita sikapi dari sudut pandang yang paling positif dan tetap berprasangka baik pada Alloh Subhanahu wa ta’ala, karena bahkan dalam suatu uji/coba disana akan selalu ada alasan untuk kita senantiasa bersyukur yang dengan begitu kan kita dapati hikmah positif dan tiada uji/coba tersebut melemahkan diri melainkan akan menguatkan dan menjadikan kita lebih bijak serta lebih dewasa dalam menjalani setiap peran kita dalam kehidupan fana di dunia ini. Wallohu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)