Selasa, 25 Januari 2011

Doa seorang (calon) suami


Ya Alloh, Wahai Dzat Yang Maha Menguasai Hati, luruskan niatan dalam hatiku menujunya agar mampu ku sempurnakan agamaku...

Wahai Tuhan seru sekalian alam, bimbinglah hatiku agar mampu ku tunjukkan padanya betapa nikmatnya kehidupan berumah tangga dalam tali aqidah dan syariah...

Ya Alloh, bimbinglah kami untuk selalu bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan...

Ya Rohmaan, Ya Rohiim, Ya Kariim, jadikanlah diriku kenangan yang baik bagi istriku jika Engkau mencabut nyawaku terlebih dahulu...Dan jadikanlah pula istriku kenangan yang baik bagiku jika Engkau mencabut nyawanya terlebih dahulu...

Ampunilah kami Ya Alloh, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kebangkitan kelak, hari dimana harta, suami-istri, dan anak-anak keturunan tiada berharga...Aamiin...


sumber : Buku "Bismillah...Jadilah Isteriku" karya Masnur Marzuki

Sabtu, 22 Januari 2011

Amalan Unggulan

Suatu hari, Rasulullah dan para sahabat berkumpul dengan Rasulullah disebuah majelis, di masjid. Ketika itu, tiba-tiba Rasulullah berkata, sebentar lagi, akan ada seorang sahabatku datang, dia adalah calon ahli surga". Para sahabatpun penasaran. Gimana lagi, masuk surga itu susah, makanya para sahabat berburu orang-orang yang diberi stempel "DIJAMIN MASUK SURGA", untuk dikorek tips dan kiat-kiatnya. Pada saat itu, para sahabat bertanya-tanya: siapakah gerangan orang itu? di majelis itu, sudah lengkap orang-orang hebat yang amalannya luar biasa, Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan orang-orang luar biasa perjuangannya disis Rosululloh, lengkap sudah, tidak ada yang absen. Siapakah orang yang dimaksud Rasulullah itu??

Beberapa menit kemudian, datanglah seorang sahabat yang berpenampilan sederhana. Sebut saja, si Fulan. Orang-orang terheran-heran, kok bisa dia jadi calon ahli surga?? Padahal, kalau dilihat-lihat, amalan kesehariannya rata-rata kok dengan para sahabat yang lain?

Hari berikutnya, dan berikutnya, Rasulullah pun berkata sama, dan orang yang sama juga yang dimaksud oleh Rasulullah. Akhirnya, salah satu sahabat, yakni Abdullah bin Umar bin Khattab rupanya tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya. Dia meminta izin pada sahabat tersebut untuk menginap beberapa hari di rumahnya. Misi Abdullah bin Umar satu: untuk menjawab pertanyaan tentang amal apa yang dilakukn oleh si fulan hingga dia mendapat "stempel" ahli surga. Setelah beberapa hari Ibnu Umar memperhatikan tentang amalan si Fulan..hasilnya, amalan tersebut merupakan amalan yang juga tidak ditinggalkan oleh para sahabat lain. Lalu, apakah yang spesial yang lain daripada yang lain?? Pertanyaan itu tidak terjawab. Akhirnya, Ibnu Umar mengakui misinya itu kepada si fulan, dan langsung meminta jawaban atas pertanyaan di atas. si fulan pun menjawab,"Wahai Ibnu Umar, sesuai dengan yang engkau lihat, amalanku kurang lebih sama dengan amalan kalian. namun, ada satu hal..setiap malam, sebelum aku tidur, di atas ranjangku aku berkata 'Ya Allah, aku maafkan semua kesalahan dari saudara-saudaraku yang mereka lakukan padaku hari ini baik yang disengaja maupun tidak'. mungkin itu yang menyebabkan Rasulullah berkata seperti itu". Ibnu Umar berkata,"Ya, itulah yang menyebabkanmu menjadi ahli surga. karena amalan itu sangat berat sekali pelaksanaannya.."
(sumber: http://maryamsmeer.blog.com/3428345/)

Beda lagi dengan kisah Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat rosul yang suara terompahnya terdengar di surga, dalam suatu riwayat bahwa suara terompahnya terdengar di surga karena Bilal selalu setelah menunaikan wudhu dia akan sholat sunnah wudhu, Subhanalloh...

Dan masih banyak lagi kisah para sahabat rosul yang dengan amalan-amalannya walaupun mungkin terdengar sederhana namun dapat membuat mereka menjadi ahli surga. Lalu apakah yang dapat kita ambil hikmahnya dari kisah para sahabat rosul itu?
Salah satunya adalah bahwa kita sebagai seorang muslim minimal harus mempunyai satu amalan unggulan yang walalupun nampaknya merupakan hal yang sederhana namun bisa jadi amalan unggulan yang sederhana itulah yang menjadi jalan kita menjadi ahli surganya Alloh Subhanahu wa ta'ala...amalan unggulan sederhana yang diamalkan dengan istiqomah, bisa saja setiap hari kita melaksanakan sholat dhuha walaupun mungkin hanya 2 rokaat, atau setiap senin-kamis kita shoum sunnah atau mungkin yang lebih sederhana lagi, kita niatkan setiap pagi bahwa senyum salam dan sapa yang akan kita bagi kepada sesama pada hari itu sebagai bentuk ibadah kita kepada Alloh, niat lillahi ta'ala...sebuah amalan sederhana namun bisa jadi mengantarkan kita ke surga yang didamba...tentunya keistiqomahan dalam melakukan amalan unggulan kita itu harus didasari keimanan dan aqidah yang kuat terhadap AllohSubhanahu wa ta'ala, karena sebagaimana dalam sebuah hadits bahwa bukan amalan kita yang kan mengantar kita ke surga, namun ridho Alloh-lah yang kan membuat kita menjadi ahli surga-Nya, dan untuk meraih keridhoan Alloh maka salah satunya adalah kita harus dapat istiqomah dan niat lillahi ta'ala dalam beramal sholeh...

Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"...Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)


wallohu a'lam...

Kamis, 20 Januari 2011

"Hukum di Jaman Umar"

Umar sedang duduk beralas surban di bebayang pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Sahabat di sekelilingnya bersyuraa bahas aneka soal. Tiga orang muda datang menghadap, dua bersaudara berwajah marah yang mengapit pemuda lusuh nan tertunduk dalam belengguan mereka.

“Tegakkan keadilan untuk kami hai Amiral Mukminin”, ujar seorang pemuda. “Qishash-lah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatannya!”.

Umar bangkit. “Bertaqwalah pada Allah”, serunya pada semua. “Benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?”, selidiknya.

Pemuda itu menunduk sesal. “Benar wahai Amiral Mukminin!”, jawabnya ksatria.

“Ceritakanlah pada kami kejadiannya!”, tukas Umar.

“Aku datang dari pedalaman yang jauh”, ungkapnya, ” Kaumku mempercayakan berbagi urusan muamalah untuk kuselesaikan di kota ini. “, ” Saat sampai …”, lanjutnya, ” Kutambatkan untaku di satu tunggul kurma, lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku terkejut & terpana ” . “Tampak olehku seorang lelaki tua sedang menyembelih untaku di lahan kebunnya yang tampak rusak terinjak & ragas-rigis tanamannya”. “Sungguh aku sangat marah & dengan murka kucabut pedang hingga terbunuhlah si bapak itu. Dialah rupanya ayah kedua saudaraku ini.”

“Wahai Amiral Mukminin”, ujar seorang penggugat, “Kau telah dengar pengakuannya, dan kami bisa hadirkan banyak saksi untuk itu.”

“Tegakkanlah had Allah atasnya!”, timpal nan lain.

Umar galau & bimbang setelah mendengar lebih jauh kisah pemuda terdakwa itu. “Tegakkanlah had Allah atasnya!”, timpal nan lain. “Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih & baik”, ujar Umar, “Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”, “Izinkan aku ..” ujar Umar, “..Meminta kalian berdua untuk memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan Diyat atas kematian ayahmu.”

“Maaf hai Amiral Mukminin”, potong kedua pemuda dengan mata masih nyala memerah; sedih & marah, “Kami sangat sayangi ayah kami.” “Bahkan andai harta sepenuh bumi dikumpulkan tuk buat kami kaya”, ujar salah satu, “Hati kami hanya kan ridha jiwa dibalas jiwa!”

Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilainya amanah, jujur, & bertanggungjawab; tetap kehabisan akal yakinkan penggugat.

“Wahai Amiral Mukminin”, ujar pemuda tergugat itu dengan anggun & gagah, “Tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah Qishash atasku.” “Aku ridha pada ketentuan Allah”, lanjutnya, “Hanya saja izinkan aku menunaikan semua amanah & kewajiban yang tertanggung ini.”

“Apa maksudmu?”, tanya hadirin. “Urusan muamalah kaumku”, ujar pemuda itu, “Berilah aku tangguh 3 hari untuk selesaikan semua. Aku berjanji dengan nama Allah yang menetapkan Qishash dalam Al Quran, aku kan kembali 3 hari dari sekarang tuk serahkan jiwaku”

” Mana bisa begitu!”, teriak penggugat.

” Nak..”, ujar ‘Umar, ” Tak punyakah kau kerabat & kenalan yang bisa kau limpahi urusan ini? “

“Sayangnya tidak hai Amiral Mukminin. Dan bagaimana pendapatmu jika kematianku masih menanggung hutang & tanggungan amanah lain?”

” Baik”, sahut ‘Umar, ”Aku memberimu tangguh 3 hari; tapi harus ada seseorang yang menjaminmu bahwa kau tepat janji tuk kembali.”

“Aku tak memiliki seorangpun. Hanya Allah, hanya Allah, yang jadi penjaminku wahai orang-orang yang beriman padaNya”, rajuknya.

“Harus orang yang menjaminnya!”, ujar penggugat, “Andai pemuda ini ingkar janji, dia yang kan gantikan tempatnya tuk di-Qishash!”

“Jadikan aku penjaminnya hai Amiral Mukminin!”, sebuah suara berat & berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Itu Salman Al Farisi.

” Salman?”, hardik Umar, ” Demi Allah engkau belum mengenalnya! Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu! “

” Pengenalanku padanya tak beda dengan pengenalanmu ya Umar”, ujar Salman, “Aku percaya padanya sebagaimana engkau mempercayainya” Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu & menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman baginya.

Tiga hari berlalu sudah.

Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul. Umar gelisah mondar-mandir. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat khawatirkan Salman. Sahabat perantau negeri-pengembara iman itu mulia & tercinta di hati Rasul & sahabatnya. Mentari di hari batas nyaris terbenam; Salman dengan tenang & tawakkal melangkah siap ke tempat Qishash.

Isak pilu tertahan.

Tetapi sesosok bayang berlari terengah dalam temaram, terseok terjerembab lalu bangkit & nyaris merangkak. “Itu dia!”, pekik Umar . Pemuda itu dengan tubuh berkuah peluh & nafas putus-putus ambruk ke pangkuan Umar. ” Maafkan aku!”, ujarnya. “Hampir terlambat. Urusan kaumku makan waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat di gurun & terpaksa kutinggalkan, lalu kuberlari..”

” Demi Allah”, ujar Umar sambil menenangkan & memberi minum, “Bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?”

” Supaya jangan sampai ada yang katakan”, ujar terdakwa itu dalam senyum, “Di kalangan muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji.”

” Lalu kau hai Salman”, ujar Umar berkaca-kaca, “Mengapa mau-maunya kau jadi penjamin seseorang yang tak kau kenal sama-sekali?”

” Agar jangan sampai dikatakan”, jawab Salman teguh, “Di kalangan muslimin tak ada lagi saling percaya & menanggung beban saudara”

” Allahu Akbar!”, pekik dua pemuda penggugat sambil memeluk terdakwanya, ” Allah & kaum muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya “

” Kalian.. “, kata Umar makin haru, “Apa maksudnya? Jadi kalian memaafkannya? Jadi dia tak jadi di-Qishash ? Allahu Akbar! Mengapa?”

“Agar jangan ada yang merasa”, sahut keduanya masih terisak, “Di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan & kasih sayang.”

- Rangkuman kultwit #Hukum by Salim A. Fillah 19 Jan 2011-

Kamis, 06 Januari 2011

Episode Cinta (1) : Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

31 Desember 2010

Jum'at ini sebenarnya hampir sama saja dengan jum'at yang telah lalu, hingga ketika hari beranjak siang ada suatu peristiwa yang sungguh peristiwa itu kurasa begitu lembut dan penuh cinta Alloh menegurku.
Siang itu seperti biasa salah seorang Satpam di Lantai dimana ruanganku berada bersiap untuk mengganti shift rekannya yang telah sedari pagi bertugas menjaga keamanan lantai ini. Sempat ku bertemu dengannya di depan lift dengan mengenakan jaketnya dan dia pun tersenyum kepadaku dengan senyum khasnya yang selalu kudapati ketika ku akan memasuki ruangan, namun senyumnya siang itu kurasa hanya sekedar senyum yang ia paksakan, yang kulihat disana ada sebuah beban yang mengiringi senyumannya. Begitu kondisinya sampai ku selesai sholat ashar, dia masih di depan lift dengan jaket masih melekat pada tubuhnya dan tidak duduk di meja Satpam, dan satu hal lagi bahwa Satpam yang sedari pagi menjaga sejak pagi masih terduduk disana, kulihat dia masih mencoba untuk tersenyum kepada orang-orang di lantai itu yang lewat di depan lift. Firasatku mengatakan ada yang tak beres dengan sang Satpam, pasti ada sesuatu yang membuatnya nampak bingung. Dan benar saja, saat sore menjelang selesainya jam kantor, saat itu diriku baru saja selesai berdiskusi dengan atasanku, dan ketika ku masuki ruanganku beberapa teman sedang membicarakan sesuatu tentang sang Satpam, langsung saja diriku bergabung dalam pembicaraan tersebut. Dari Pembicaraan tersebut ternyata, benar firasatku, bahwa ada sesuatu yang membuat sang Satpam terlihat bingung dan linglung. Ternyata siang itu adalah siang terakhir dia datang ke gedung dimana tempatku bekerja, karena di hari inilah, ketika dia dengan optimisme datang ke gedung ini untuk bekerja dalam rangka mencari nafkah untuk keluarganya, namun ternyata begitu dia akan bekerja yang ia dapati adalah SURAT PEMUTUSAN KONTRAK. Dan dalam pembicaraanku dengan teman-temanku sore itu salah seorang teman berujar "Alhamdulillah, kita harus banyak bersyukur ya, karena Senin depan kita masih dapat bekerja dan masih mendapatkan penhasilan sementara satpam tadi senin depan malah kehilangan pekerjaannya, dia mengawali tahun baru dengan hilangnya pekerjaan..."

Langsung saja setelah temanku berujar seperti itu yang terngiang dalam telinga dan hatiku adalah sebuah ayat cinta dari Sang Maha Cinta "Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"
Sebuah teguran yang begitu lembut, begitu indah kepada kita hamba-hambaNya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Dia karuniakan kepada kita. Dan inilah salah satu episode cinta dalam hidup kita ketika Alloh menegur dengan begitu lembut dan indah agar kita senantiasa bersyukur atas segala nikmatNya, bukankah dalam ayat yang lain Alloh juga mengabarkan Jika kita bersyukur maka Dia akan menambahkan nikmatNya kepada kita? Jadi tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak senantiasa bersyukur sepanjang hari...fabi ayyi alaa irobbikuma tukadzdziban....

Selasa, 14 Desember 2010

Lomba Menulis Surat Inspiratif

Lomba Menulis Surat Inspiratif


Dalam rangka menyambut Milad Esa Panama pada tanggal 18 Desember nanti, serta kedatangan penulis/novelis bestseller Habiburrahman El-Shirazzy di Hong Kong minggu pertama Desember 2010, secara pribadi Esa Panama mengadakan syukuran dan berbagi kasih dalam bentuk ungkapan kata hati berupa Lomba Menulis Surat Inspiratif.


Punya tokoh yang jadi inspirasi dalam hidupmu? Mungkin pacar, teman, orang tua atau orang terkenal lainnya? Buatlah surat yang inspiratif untuknya, ekspresikan kata hatimu lewat Lomba Menulis Surat Inspiratif.


Syarat dan ketentuan :

1. Surat dibuat dalam bentuk file Words huruf Times New Romans ukuran 12. Spasi 1,5. Maksimal 3 halaman.

2. Kirim surat karya mu ke alamat email : esa_subang@yahoo.com dan cc kan ke utomo_susie@yahoo.co.id
dengan subjek : Surat Inspiratif

3. Sertakan pula biodata pada bagian akhir surat terdiri dari : nama asli, nama pena, nama blog/fb, nomor tlp yang bisa dihubungi dan alamat lengkap peserta.

4. Batas pengiriman surat tgl 15 Desember 2010. Pkl 12.00 waktu Hong Kong.

5.Peserta wajib memposting informasi lomba ini di blog atau fb masing-masing dengan mentag Esakura Cinta, serta 25 teman lainnya. Yang memposting di blog dipersilahkan memberikan link/tautan postingan tema lombanya pada wall facebook Esakura Cinta. Buat setingan postingan untuk umum/everyone.


H a d i a h

Juara 1. mendapat novel Bumi Cinta (insya Allah di-ttd langsung oleh Kang Abik) + Kumpulan Cerpen FLP Hong Kong (juga di ttd oleh penulis) +pulsa Rp. 50 ribu

Juara 2. mendapat novel Bumi Cinta (insya Allah di-ttd langsung oleh Kang Abik) + Kumpulan Cerpen FLP Hong Kong (juga di ttd oleh penulis) + pulsa Rp. 20 ribu

juara 3. mendapat novel Bumi Cinta (insya Allah di-ttd langsung oleh Kang Abik) + Kumpulan Cerpen FLP Hong Kong (juga di-ttd oleh penulis)


Tulisan yang masuk ke panitia dan dianggap menarik akan mendapat kenangan/souvenir dari Hong Kong.

Hadiah akan dikirim langsung ke alamat pemenang termasuk pulsa.

Dewan Juri :

1. Esakura Cinta

2. Susi Utomo

3. Okti Li

Surat yang masuk menjadi milik penyelenggara. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Kamis, 02 Desember 2010

Mimpi malam itu

Kamis, 2 Desember 2010 Pukul 02.29 WIB

Alarm dari HP yang kuletakkan di samping bantal masih punya waktu sekitar 45 menit untuk berbunyi namun entah mengapa tiba-tiba saja diri ini terbangun, padahal malam harinya mata ini terlelap pada pukul 22.50, dan jika jam segitu baru tidur maka bangun jam 02.29 merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Bukan mimpi buruk yang membuat diri ini terbangun dini hari tersebut, setelah berucap hamdalah ku coba mengingat lagi bunga tidur yang menghiasi isitirahat malamku sebelum akhirnya terbangun...sebuah mimpi yang membuatku tersenyum namun sedikit aneh juga menurutku.

Dalam mimpi tersebut diri ini baru saja sampai di kantor, dan ketika masuk ke ruangan, diriku dibuat terkejut oleh rekan-rekan satu ruangan yang langsung menyalami dan memberiku selamat, dengan tetap meladeni mereka pandanganku tertuju pada meja salah satu rekan, disana ada sebuah undangan...sederhana...didepannya terdapat inisial L dan * dengan kertas berwarna kuning lembut dan berukuran sekitar 20 cm x 20 cm. Setelah selesai menanggapi salaman dan ucapan selamat dari rekan-rekan, lalu kuambil undangan tersebut dari meja rekanku, perlahan kubuka, ternyata disana terpampang namaku dan nama seorang wanita, namun yang anehnya ternyata waktu dan tanggal tidak terpampang disana, yang kulihat hanyalah tulisan "Turut mengundang Sdr/Sdri pada tasyakuran akad nikah putra dan putri kami"....???

Walaupun kulihat keanehan dalam undangan tersebut namun entah mengapa undangan sederhana itu begitu indah terlihat, begitu elegan dipandang mataku...

Dan sebelum kujalani episode mimpi itu selanjutnya ternyata tiba-tiba saja ku terbangun, kusunggingkan senyum di bibirku mengingat mimpi tersebut....

Entahlah itu pertanda apa, atau mungkin karena azzam yang begitu menggelora untuk menggenapkan separuh agama ini yang membuatku mengalami mimpi seperti itu....huft...

wallohu a'lam...tapi yang pasti mimpi itu telah membuatku merasa bahagia pada Kamis 2 Desember 2010.....^_^


ket : * merupakan inisial yang masih dirahasiakan...^_^