Adil, jujur, sederhana dan bijaksana. Itulah ciri khas kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tak salah bila sejarah Islam menempatkannya sebagai ‘khalifah kelima’ yang bergelar Amirul Mukminin, setelah Khulafa Ar-Rasyidin. Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah mampu menorehkan tinta emas kejayaan yang mengharumkan nama Islam.
Khalifah pilihan itu begitu mencintai dan memperhatikan nasib rakyat yang dipimpinnya. Ia beserta seluruh keluarganya rela hidup sederhana dan menyerahkan harta kekayaannya ke baitulmal (kas negara), begitu diangkat menjadi khalifah. Khalifah Umar II pun dengan gagah berani serta tanpa pandang bulu memberantas segala bentuk praktik korupsi.
Tanpa ragu, Umar membersihkan harta kekayaan para pejabat dan keluarga Bani Umayyah yang diperoleh secara tak wajar. Ia lalu menyerahkannya ke kas negara. Semua pejabat korup dipecat. Langkah itu dilakukan khalifah demi menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Baginya, jabatan bukanlah alat untuk meraup kekayaan, melainkan amanah dan beban yang harus ditunaikan secara benar.
Tak seperti penguasa kebanyakan yang begitu ambisi mengincar kursi kekuasaan, Umar justru menangis ketika tahta dianugerahkan kepadanya. Meski Umar bukan berasal dari trah Bani Umayyah, keadilan dan kearifannya selama menjabat gubernur telah membuat Khalifah Sulaiman terkesan. Maka di akhir hayatnya, Sulaiman dalam surat wasiatnya memilih Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya.
Setelah Khalifah Sulaiman tutup usia, Umar dilantik sebagai khalifah pada 717 M/99 H. Seluruh umat Islam di kota Damaskus pun berkumpul di masjid menantikan pengganti khalifah. Penasihat kerajaan Raja’ bin Haiwah pun segera berdiri dan membacakan surat wasiat Khalifah Sulaiman. ‘’Bangunlah wahai Umar bin Abdul- Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini,’’ ungkap Raja’.
Umar pun terkejut mendengar keputusan itu. Ia pun segera bangkit dan dengan rendah hati berkata, ‘’Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah terlebih dulu dan tak pernah aku memintanya. Sesungguhnya aku mencabut bai’at yang ada dilehermu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki.’’ Umat Islam yang berada di masjid menolak untuk mencabut ba’iatnya.
Semua bersepakat dan meminta Umar untuk menjadi khalifah. Umar pun akhirnya menerima ba’iat itu dengan berat hati. Ia menangis karena takut kepada Sang Khalik dengan ujian yang diterimanya. Beragam fasilitas dan keistimewaan yang biasa dinikmati khalifah ditolaknya. Umar memilih untuk tinggal di rumahnya.
Meski berat hati menerima jabatan khalifah, Umar menunaikan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab. Keluarganya mendukung dan selalu mengingatkan Umar untuk bekerja keras memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Sang anak, Abdul-Malik, tak segan-segan untuk menegur dan mengingatkan ayahnya agar bekerja keras memperhatikan negara dan rakyat yang dipimpinnya.
Selepas diangkat menjadi khalifah, Umar yang kelelahan mengurus pemakaman Khalifah Sulaiman berniat untuk tidur. ‘’Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?’’ ujar Abdul Malik. ‘’Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini,’’ jawab Umar. ‘’Lalu apa yang akan engkau lakukan ayahanda?’’ tanya sang anak. ‘’Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat,’ ucap Umar.
Lalu Abdul-Malik berkata, ‘’Wahai ayah, siapa yang menjamin engkau akan masih hidup sampai waktu zuhur? Padahal sekarang engkau adalah Amirul Mukminin yang bertanggung jawab untuk mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi.’’ Umar pun segera bangkit dari peraduan sembari berkata, ‘’Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku.’’
Umar pun bekerja keras membaktikan dirinya bagi rakyat dan umat. Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah meraih puncak kejayaan. Sayang, dia hanya memimpin dalam waktu sekejap saja, yakni dua tahun. Meski bukan berasal dari keturunan Umayyah, darah kepemimpinan memang mengalir dalam tubuh Umar bin Abdul Aziz. Ia ternyata masih keturunan dari Khalifah Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz terlahir pada tahun 63 H/ 682 di Halwan sebuah perkampungan di Mesir. Namun ada pula yang menyebutkan, Umar lahir di Madinah.
Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, Gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Sedangkan ibunya bernama Ummu Asim binti Asim. Dari Ummu Asim-lah, darah Umar bin Khattab mengalir ditubuh Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Khtattab meminta anak laki-lakinya Asim untuk menikahi gadis miskin dan jujur. Dari hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak perempuan bernama Laila atau Ummu Asim.
Ummu Asim lalu menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan dan lahirlah Umar bin Abdul-Aziz. Sosok pemimpin Umar bin Abdul Aziz yang adil dan bijaksana sudah sempat dilontarkan Umar bin Khattab. Sang khalifah kedua itu sempat bermimpi melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda itu kelak akan menjadi pemimpin umat Islam.
Mimpi itu akhirnya terbukti. Umar bin Abdul Aziz sewaktu kecil wajahnya memang sempat tertendang kuda, sehingga bagian keningnya mengalami luka. Umar kecil dibesarkan di Madinah. Ia dibimbing sang paman bernama Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Umar tinggal di Madinah hingga sang ayah wafat.
Umar lalu dipanggil Khalifah Abdul Malik ke Damaskus dan menikah dengan anaknya bernama Fatimah. Pada 706 H, Umar diangkat menjadi Gubernur Madinah oleh Khalifah Al- Walid. Saat memimpin Madinah, Umar sempat memugar dan memperluas bangunan Masjid Nabawi. Sejak masa kepemimpinannya, Masjid Nabawi memiliki menara dan kubah. Umar tutup usia pada tahun 101 H/720 M. Syahdan, dia meninggal karena diracun. Kejujuran, keadilan, kebijaksanaan serta kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz dalam memimpin rakyat dan umat sudah sepantasnya ditiru oleh para pemimpin Muslim.
Cermin Kesahajaan Sang Khalifah
Saat Umar II terbaring sakit menjelang kematiannya, para menteri kerajaan sempat meminta agar isteri Amirul Mukminin untuk mengganti pakaian sang khalifah. Dengan rendah hati puteri Khalifah Abdul Malik berkata, ‘’Cuma itu saja pakaian yang dimiliki khalifah.’’ Hal itu begitu kontras dengan keadaan rakyatnya yang sejahtera dan kaya raya.
Khalifah pilihan itu memilih hidup bersahaja. Menjelang akhir hayatnya khalifah ditanya, ‘’Wahai Amirul Mukminin, apa yang akan engkau wasiatkan buat anakanakmu?’’ Khalifah balik bertanya, Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa.’’ Umar melanjutkan, ‘’Jika anak-anakku orang shaleh, Allah-lah yang mengurusnya.’’ Lalu khalifah segera memanggil buah hatinya, ‘’Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama, menjadikan kalian semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka.
Kedua,kalian miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam surga. Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga.’’Umar berhasil menyejahterakan rakyat di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah. Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkat, ‘’Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai seorangpun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan.’’
Abu Ubaid mengisahkan, Khalifah Umar II mengirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak agar membayar semua gaji dan hak rutin di provinsi itu. ‘’Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun di Baitul Mal masih banyak uang. Khalifah Umar memerintahkan. ‘’Carilah orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah ia uang untuk melunasi utangnya.’’
Abdul Hamid kembali menyurati Kalifah Umar. ‘’Saya sudah membayar utang mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang.’’ Khalifah memerintah lagi. ‘’Kalau ada orang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya.’’ Abdul Hamid sekali lagi menyurati Khalifah, ‘’Saya sudah menikahkan semua yang ingin nikah. Namun, di Baitul Mal ternyata masih banyak uang.’’ Adakah pemimpin seperti itu saat ini?
copy from http://www.alkisah.web.id
--------------------------------------------------------------------------------
sungguh begitu kita merindukan sosok seperti Kalifah Umar bin Abdul Aziz...kebersahajaan dan kesederhanaannya merupakan buah dari akhlak mulia yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW....
Saudara-saudariku yang dimuliakan Alloh Subhanahu wa ta'ala mari kita ceritakan kisah para nabi dan para sahabat kepada anak-anak kita, sehingga para nabi dan para sahabat menjadi tokoh idola mereka dan tertanam dalam jiwa mereka untuk dapat meniru keteladanan yang telah dicontohkan oleh para nabi dan para sahabat....
Dan mari kita berusaha untuk bisa meniru keteladanan para nabi dan para sahabat, sehingga ketika mendapat amanah untuk memimpin kita bisa memimpin dengan arif dan bijak sebagaimana para nabi memimpin kaumnya dan para sahabat melanjutkan estafet kepemimpinan itu....
Saudara-saudariku yang dimuliakan Alloh Subhanahu wa ta'ala, cukup ajarkan dan biasakan diri, istri, anak & keluarga utk larut dalam indahnya hidup sederhana, hingga kelak ketika harta dunia datang menyapa, bisa kita sikapi dgn sikap yg arif dan bijaksana, dgn meletakkan harta dunia di tangan tidak di hati, sehingga dibalik silaunya uji harta dunia kita dpt tetap hidup dlm kesederhanaan dan kebersahajaan dgn meneladani Rosululloh dan para sahabat...
Saudara-saudariku yang dimuliakan Alloh Subhanahu wa ta'ala semoga Alloh tetap menyatukan hati-hati kita dengan cinta-Nya dan dalam ketaatan kepada-Nya...
kala lisan tak mampu mengucapkan... biarlah jemari yang menuliskan... agar tiada menjadi beban... agar hati tiada diliputi kebimbangan...
Kamis, 31 Desember 2009
Selasa, 01 Desember 2009
Sajak Cinta
Mendefinisikan cinta memang bukan perkara mudah...
Karena makna cinta hanya dapat dipahami oleh mereka yang merasakannya...
terkadang cinta bisa menjelma menjadi berbagai rupa...
dari sebongkah karang di laut hingga semerbak wangi sekuntum bunga...
banyak lagu tercipta, bercerita tentang cinta...
namun tetap kan sulit tuk mendefinisikannya...
karena cinta terdefinisi oleh cinta itu sendiri...
Cinta…
cintalah yang warnai dunia...
cinta tak sekedar rasa...
namun ia merupakan fitrah manusia...
Cinta hadirkan banyak cerita...
ada kalanya ia hadirkan cerita bahagia...
namun tak jarang pula ia hadirkan cerita duka lara...
Cinta bukan kata benda...
bukan juga kata sifat yang tiba-tiba ada...
namun cinta adalah kata kerja...
yang harus terus diupayakan dengan kesungguhan jiwa...
Ketika cinta datang menyapa...
janganlah engkau siakan ia...
karena bisa saja kau kan menyesal nantinya...
Cinta....ya...Cinta....
Kekuatannya tak ada yang menduga...
karenanya manusia biasa bisa menjelma bak seorang pujangga...
iringilah Cinta dengan keimanan dan rasa Cinta pada-Nya...
maka kan kau dapati dari cinta itu sebuah bahagia...
bahagia yang tak hanya sementara dan kesemuan semata...
Selasa, 24 November 2009
Senandung Rindu dalam Rinai Hujan

Dingin menyergap kala langit kan turunkan hujan
Hembusan angin kala itu seakan membawa kembali sejumput kerinduan
Kerinduan yang coba kutepiskan
Namun apalah daya, karena kuhanyalah seorang insan
Perlahan rintik hujan basahi sang bumi
Damai diri menikmati harmoni alam ini
Seiring api harapan yang senantiasa terangi ruang hati
Bersamanya terus bergelora azzam dalam diri
Hujan kini terhenti
tinggalkan tetes-tetes air diranting pepohonan
sekilas kulihat mawar merah dihalaman sana
ingin rasanya kupetik mawar merah yang indah nan menawan
dan kuberikan padamu duhai perempuanku
Namun sejenak ku berpikir…
Bukan..bukan hanya mawar merah
lebih dari itu, ingin kusertakan untukmu Al-qur’an dari mekah
yang kan iringi cinta ini kelak hingga merekah dan bersemi indah
dalam iringan ridho dan balutan barokah
apalah artinya mawar itu tanpa senyum manismu?
apalah artinya mawar itu tanpa lembut tutur katamu?
apalah artinya mawar itu tanpa indah tatap matamu?
apalah artinya mawar itu tanpa hangatnya kasih sayangmu?
Dinda.. mawar itu kan berarti dan nampak lebih indah dan mewangi
saat kau ada disisi tuk temani diri arungi hari
menggapai keridhoan dan barokah Ilahi Robbi…
Jakarta 22-11-2009
seiring dingin yang menyergap, kerinduan itu semakin meresap
seiring dingin yang menyergap, kerinduan itu semakin meresap
Rabu, 18 November 2009
Belajar ketulusan dari Ibu Warung Ijo...
Rabu 18 November 2009
Siang ini ketika kubuka account Facebookku, di halaman Beranda kulihat teman Facebookku yang juga adik kelas waktu kuliah D1 STAN di jogja dulu mengupload beberapa foto, dimana di foto tersebut terpampang wajah seorang ibu yang sangat familiar bagiku, seorang ibu pemilik warung makan di dekat kampus BDK III Yogyakarta yang sangat baik kepada kami -para mahasiswa STAN-, Ibu warung Ijo begitu ku menyebut beliau, karena warung sederhananya bercat warna hijau. Banyak diantara kami yang sering sarapan dan makan siang di warung beliau, betapa tidak, sudah nasi dan lauknya boleh mengambil sendiri -yang artinya sebanyak apapun, itu terserah kita- dengan harga miring pula, ketika pertama makan disana, masih ingat saya, ketika itu, saya dan beberapa teman jogging, disekitar desa Purwomartani, Kalasan, dan sepulang jogging, kami mampir ke warung beliau yang saat itu beliau berjualan tidak di warung tetapi di depan rumahnya, yang beliau jual saat itu adalah nasi kuning, pada saat itu -saat ketika keprihatinan begitu lekat dengan saya- makan nasi kuning adalah makanan yang jarang saya konsumsi, jadi menjadi sebuah makanan yang spesial. Alangkah kagetnya ketika akan membayar, dan saya tanya ”berapa bu?” beliau menjawab “seribu mas”, lalu saya lanjutkan pertanyaan saya “klo tambah gorengan 2 berapa?” sang ibu menjawab “klo gorengannya seribu 3 mas”…Ya Alloh…murah sekali ibu ini menjual makanan, walhasil saya dan beberapa teman patungan untuk membeli gorengan, jadi pagi itu untuk sarapan saya hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 1.500 untuk satu porsi Nasi Kuning sudah sekalian orek tempe dan telur dadarnya -yang menurut saya merupakan porsi besar, karena nasinya banyak- serta 2 tempe goreng. Sejak saat itulah saya dan beberapa teman menjadi pelanggan warungnya. Bahkan kalau untuk sarapan saya dan beberapa teman harus cepat-cepat menuju warungnya karena ada rombongan teman kami -yang kosnya jauh dari warung ibu ini- juga yang bungkus, dan bungkusnya tidak hanya untuk dirinya tetapi untuk teman satu kos, jadi sekali beli bisa 9-10 bungkus. Ah…kenangan itu, sungguh indah terasa. Sekedar informasi bahwa makan di warung Ibu warung Ijo dengan menu Nasi, sayur, 2 tempe, kita hanya merogoh kocek sekitar Rp 1.500 -itu nasi dan sayurnya ambil sendiri lho- ditambah jeruk anget atau es jeruk seharga Rp 500 -sudah kondisi tahun 2006-, bahkan yang mencengangkan lagi ketika ada Pendaftaran Ujian Saringan Masuk STAN di BDK III Jogja, ketika warung lain meniakkan harga, ibu warung ijo ini masih member harga miring kepada kami -mahasiswa STAN-.
Dan berdasarkan hasil wawancara singkat adik kelas saya dengan beliau, ketika ditanya kenapa jualannya kok murah banget, beliau menjawab (dalam bahasa jawa tentunya) “Oh,gini,kita semua kan bersaudara ,saudara seiman,emak cuma pingin bantu anak2 STAN,cuma itu yang bisa emak lakuin buat bantuin kalian,kalo ke anak2 non STAN ya harga normal mbak..he he”…Ya Alloh…begitu mulianya hati ibu ini, memang orang yang dimuliakan dengan harta yang melimpah belum tentau dikaruniai kemuliaan dan ketulusan hati seperti beliau ini yang hanya Ibu penjual nasi. Beliau sudah membantu kami meraih cita kami dengan menyediakan makanan untuk kami di pagi, siang dan malam hari dengan harga yang miring. Senyum selalu menghiasi wajahnya ketika menyambut kami yang akan makan diwarungnya, walaupun entah mungkin ada kegundahan dalam hatinya karena anak perempuannya (maaf) mempunyai penyakit keterbelakangan mental. Beliau mengajarkan kami arti sebuah ketulusan dan kesederhanaan…
Oh ya satu lagi, saya dan beberapa teman sering pinjam sepeda beliau untuk menuju ATM mengambil uang dan pernah sekali kami tanya mangga jenis apa yang ada disamping warungnya eh malah beliau memberi kami beberapa buah mangga itu (mangga bagi saya anak kos merupakan buah yang mewah dulu)…..^_^
terima kasih kepada adik kelas yang telah mengupload foto Ibu warung Ijo
dan untuk Ibu warung Ijo terima kasih jua atas ketulusannya....

Siang ini ketika kubuka account Facebookku, di halaman Beranda kulihat teman Facebookku yang juga adik kelas waktu kuliah D1 STAN di jogja dulu mengupload beberapa foto, dimana di foto tersebut terpampang wajah seorang ibu yang sangat familiar bagiku, seorang ibu pemilik warung makan di dekat kampus BDK III Yogyakarta yang sangat baik kepada kami -para mahasiswa STAN-, Ibu warung Ijo begitu ku menyebut beliau, karena warung sederhananya bercat warna hijau. Banyak diantara kami yang sering sarapan dan makan siang di warung beliau, betapa tidak, sudah nasi dan lauknya boleh mengambil sendiri -yang artinya sebanyak apapun, itu terserah kita- dengan harga miring pula, ketika pertama makan disana, masih ingat saya, ketika itu, saya dan beberapa teman jogging, disekitar desa Purwomartani, Kalasan, dan sepulang jogging, kami mampir ke warung beliau yang saat itu beliau berjualan tidak di warung tetapi di depan rumahnya, yang beliau jual saat itu adalah nasi kuning, pada saat itu -saat ketika keprihatinan begitu lekat dengan saya- makan nasi kuning adalah makanan yang jarang saya konsumsi, jadi menjadi sebuah makanan yang spesial. Alangkah kagetnya ketika akan membayar, dan saya tanya ”berapa bu?” beliau menjawab “seribu mas”, lalu saya lanjutkan pertanyaan saya “klo tambah gorengan 2 berapa?” sang ibu menjawab “klo gorengannya seribu 3 mas”…Ya Alloh…murah sekali ibu ini menjual makanan, walhasil saya dan beberapa teman patungan untuk membeli gorengan, jadi pagi itu untuk sarapan saya hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 1.500 untuk satu porsi Nasi Kuning sudah sekalian orek tempe dan telur dadarnya -yang menurut saya merupakan porsi besar, karena nasinya banyak- serta 2 tempe goreng. Sejak saat itulah saya dan beberapa teman menjadi pelanggan warungnya. Bahkan kalau untuk sarapan saya dan beberapa teman harus cepat-cepat menuju warungnya karena ada rombongan teman kami -yang kosnya jauh dari warung ibu ini- juga yang bungkus, dan bungkusnya tidak hanya untuk dirinya tetapi untuk teman satu kos, jadi sekali beli bisa 9-10 bungkus. Ah…kenangan itu, sungguh indah terasa. Sekedar informasi bahwa makan di warung Ibu warung Ijo dengan menu Nasi, sayur, 2 tempe, kita hanya merogoh kocek sekitar Rp 1.500 -itu nasi dan sayurnya ambil sendiri lho- ditambah jeruk anget atau es jeruk seharga Rp 500 -sudah kondisi tahun 2006-, bahkan yang mencengangkan lagi ketika ada Pendaftaran Ujian Saringan Masuk STAN di BDK III Jogja, ketika warung lain meniakkan harga, ibu warung ijo ini masih member harga miring kepada kami -mahasiswa STAN-.
Dan berdasarkan hasil wawancara singkat adik kelas saya dengan beliau, ketika ditanya kenapa jualannya kok murah banget, beliau menjawab (dalam bahasa jawa tentunya) “Oh,gini,kita semua kan bersaudara ,saudara seiman,emak cuma pingin bantu anak2 STAN,cuma itu yang bisa emak lakuin buat bantuin kalian,kalo ke anak2 non STAN ya harga normal mbak..he he”…Ya Alloh…begitu mulianya hati ibu ini, memang orang yang dimuliakan dengan harta yang melimpah belum tentau dikaruniai kemuliaan dan ketulusan hati seperti beliau ini yang hanya Ibu penjual nasi. Beliau sudah membantu kami meraih cita kami dengan menyediakan makanan untuk kami di pagi, siang dan malam hari dengan harga yang miring. Senyum selalu menghiasi wajahnya ketika menyambut kami yang akan makan diwarungnya, walaupun entah mungkin ada kegundahan dalam hatinya karena anak perempuannya (maaf) mempunyai penyakit keterbelakangan mental. Beliau mengajarkan kami arti sebuah ketulusan dan kesederhanaan…
Oh ya satu lagi, saya dan beberapa teman sering pinjam sepeda beliau untuk menuju ATM mengambil uang dan pernah sekali kami tanya mangga jenis apa yang ada disamping warungnya eh malah beliau memberi kami beberapa buah mangga itu (mangga bagi saya anak kos merupakan buah yang mewah dulu)…..^_^
terima kasih kepada adik kelas yang telah mengupload foto Ibu warung Ijo
dan untuk Ibu warung Ijo terima kasih jua atas ketulusannya....

Jumat, 13 November 2009
Muhasabah Pagi -Tentang sebuah Kesyukuran-
Pagi ini sungguh Alloh telah memberiku pelajaran yang amat sangat berharga akan arti sebuah kesyukuran.
Sebagaimana biasanya perjalanan menuju kantor harus melalui komplek perumahan polri di daerah pangadegan Jakarta selatan, dengan motor berplat warna merah yang artinya adalah pinjaman dari kantor kususuri jalanan pagi itu, awal ketika memasuki gerbang komplek perumahan polri tidak ada hal istimewa yang menarik perhatianku, hanya terlihat beberapa ibu-ibu mengerubuti tukang sayuran di pinggir jalan. Dengan santai kukendarai motor pinjaman ini, karena hari ini keberangkatanku ke kantor agak lebih pagi, hingga ketika keluar dari belokan kedua di komplek perumahan itu sebuah pemandangan yang mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang biasa namun tidak bagi diriku, didepanku terlihat seorang bapak yang sudah tua mendorong gerobak berjualan -yang mungkin Bubur Kacang Hijau- , dengan perlahan ia dorong gerobak dagangannya sembari sesekali memukulkan sendok ke mangkok kosong untuk menarik perhatian para calon pembelinya. Setelah melaluinya -karena beliau menuju kearah kebalikan denganku- hati ini langsung tersentak, dan lirih lisan ini berbisik “mengapa terkadang diri masih saja mengeluh, sedangkan diluran sana banyak orang bekerja sampai berpeluh?”
Ternyata pelajaran berharga ini tidak hanya disitu saja, ketika kupacu kuda besi pinjaman ini melewati belokan kekiri setelah stasiun cawang, kulihat seorang ibu bersama anaknya yang masih kecil dalam gendongannya berharap uluran para pengendara mobil atau motor yang lewat, kembali miris hati ini, dan bisikan hati kembali bergaung “Ya Alloh ampuni aku, jadikanku hamba-Mu yang bisa memberikan manfaat dan guna bagi orang lain”. Dan yang terakhir ketika akan melewati taman tebet kulihat seorang pak tua yang berjualan balon dipinggir jalan, dengan senyum menghiasi wajahnya ia terduduk di halte dekat situ -yang kutahu bahwa ia semalaman berjualan balon di pinggir jalan taman tebet- dan mungkin pagi ini ia akan pulang menemui keluarganya yang sedang menanti dirumah. Satu lagi hal yang membuatku merenung, setelah ku lewati ibu bersama anaknya yang berharap uluran tangan para pengendara dan sebelum kulihat pak tua yang sedang terduduk di halte taman tebet, perjalananku terhiasi oleh rumah yang boleh dikatakan mewah dengan pagar yang mungkin harganya sudah jutaan rupiah lengkap dengan mobil yang tidak hanya satu, itupun mobil yang termasuk golongan mobil mewah. Sungguh, miris hati ini, begitu njomplang kehidupan di ibukota ini, ketika berdiri rumah mewah ternyata dipinggiran kali ciliwung masih banyak rumah yang hanya berdinding kardus atau triplek tipis dengan atap seng bekas….Ah….sungguh naïf diri ini ketika masih saja merasa kurang, masih saja terdongak kepala ini melihat keatas. Ya Alloh ampuni hamba-Mu ini…
Pagi ini Alloh Subhanahu wa ta’ala memberikan pelajaran dengan cara yang sangat indah kepadaku, bukan lewat pendidikan di sebuah ruangan bernama kelas, bukan jua dalam halaqoh pengajian, namun dari sebuah perjalanan, Alloh menyuguhiku pemandangan yang kembali mengingatkanku dan menjadi sebuah pelajaran berharga akan arti sebuah kesyukuran. Bukankah dengan bersyukur Alloh akan menambahkan nikmat kepada kita? Dan nikmat itu tidak selalu berwujud materi, bisa nikmat sehat, keluarga yang harmonis, teman kantor yang baik, dan lain sebagainya, itu yang saya ketahui. Dan satu yang harus selalu dalam ingat dan pikiran kita, bahwa dalam hidup ini, segalanya adalah kepunyaan Alloh, kita hanya dititipi, diamanahi, untuk menjaga dan menggunakan apa yang telah Alloh titipkan kepada kita sesuai dengan yang telah disyariatkan-Nya.
Ya Alloh, Ya Rohman, Ya Rohim, ampuni hamba yang dhoif ini yang seringkali lupa untuk mensyukuri nikmat-Mu, jadikanlah hamba yang berlumuran dosa ini menjadi hamba-Mu yang pandai dalam mensyukuri nikmat-Mu….
Ya Alloh, Ya Ghoffar, Ya Kariim, pagi ini kuakui semua nikmat-Mu, begitu juga kuakui semua dosa-dosaku, ampunilah aku karena tiada yang dapat mengampuni kecuali Engkau…
Ya Alloh, Ya Dzaljalali wal ikrom angkatlah kekacauan yang melanda negeri ini, tunjukan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, karuniakanlah kepada negeri ini pemimpin yang amanah, yang adil, yang Engkau Cintai dan yang mencintai-Mu, yang senantiasa berpegang kepada Al-quran dan sunnah Rosul-Mu…Ya Alloh berkahilah dan ridhoilah setiap langkahku…mudahkanlah segala urusanku, karena tiada yang mudah kecuali Engkaulah yang memudahkan dan tiada yang susah kecuali Engkau pulalah yang memudahkan…Aamiin…
Jum'at, 13 November 2009
Pelajaran indah pada suatu pagi yang cerah
Sebagaimana biasanya perjalanan menuju kantor harus melalui komplek perumahan polri di daerah pangadegan Jakarta selatan, dengan motor berplat warna merah yang artinya adalah pinjaman dari kantor kususuri jalanan pagi itu, awal ketika memasuki gerbang komplek perumahan polri tidak ada hal istimewa yang menarik perhatianku, hanya terlihat beberapa ibu-ibu mengerubuti tukang sayuran di pinggir jalan. Dengan santai kukendarai motor pinjaman ini, karena hari ini keberangkatanku ke kantor agak lebih pagi, hingga ketika keluar dari belokan kedua di komplek perumahan itu sebuah pemandangan yang mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang biasa namun tidak bagi diriku, didepanku terlihat seorang bapak yang sudah tua mendorong gerobak berjualan -yang mungkin Bubur Kacang Hijau- , dengan perlahan ia dorong gerobak dagangannya sembari sesekali memukulkan sendok ke mangkok kosong untuk menarik perhatian para calon pembelinya. Setelah melaluinya -karena beliau menuju kearah kebalikan denganku- hati ini langsung tersentak, dan lirih lisan ini berbisik “mengapa terkadang diri masih saja mengeluh, sedangkan diluran sana banyak orang bekerja sampai berpeluh?”
Ternyata pelajaran berharga ini tidak hanya disitu saja, ketika kupacu kuda besi pinjaman ini melewati belokan kekiri setelah stasiun cawang, kulihat seorang ibu bersama anaknya yang masih kecil dalam gendongannya berharap uluran para pengendara mobil atau motor yang lewat, kembali miris hati ini, dan bisikan hati kembali bergaung “Ya Alloh ampuni aku, jadikanku hamba-Mu yang bisa memberikan manfaat dan guna bagi orang lain”. Dan yang terakhir ketika akan melewati taman tebet kulihat seorang pak tua yang berjualan balon dipinggir jalan, dengan senyum menghiasi wajahnya ia terduduk di halte dekat situ -yang kutahu bahwa ia semalaman berjualan balon di pinggir jalan taman tebet- dan mungkin pagi ini ia akan pulang menemui keluarganya yang sedang menanti dirumah. Satu lagi hal yang membuatku merenung, setelah ku lewati ibu bersama anaknya yang berharap uluran tangan para pengendara dan sebelum kulihat pak tua yang sedang terduduk di halte taman tebet, perjalananku terhiasi oleh rumah yang boleh dikatakan mewah dengan pagar yang mungkin harganya sudah jutaan rupiah lengkap dengan mobil yang tidak hanya satu, itupun mobil yang termasuk golongan mobil mewah. Sungguh, miris hati ini, begitu njomplang kehidupan di ibukota ini, ketika berdiri rumah mewah ternyata dipinggiran kali ciliwung masih banyak rumah yang hanya berdinding kardus atau triplek tipis dengan atap seng bekas….Ah….sungguh naïf diri ini ketika masih saja merasa kurang, masih saja terdongak kepala ini melihat keatas. Ya Alloh ampuni hamba-Mu ini…
Pagi ini Alloh Subhanahu wa ta’ala memberikan pelajaran dengan cara yang sangat indah kepadaku, bukan lewat pendidikan di sebuah ruangan bernama kelas, bukan jua dalam halaqoh pengajian, namun dari sebuah perjalanan, Alloh menyuguhiku pemandangan yang kembali mengingatkanku dan menjadi sebuah pelajaran berharga akan arti sebuah kesyukuran. Bukankah dengan bersyukur Alloh akan menambahkan nikmat kepada kita? Dan nikmat itu tidak selalu berwujud materi, bisa nikmat sehat, keluarga yang harmonis, teman kantor yang baik, dan lain sebagainya, itu yang saya ketahui. Dan satu yang harus selalu dalam ingat dan pikiran kita, bahwa dalam hidup ini, segalanya adalah kepunyaan Alloh, kita hanya dititipi, diamanahi, untuk menjaga dan menggunakan apa yang telah Alloh titipkan kepada kita sesuai dengan yang telah disyariatkan-Nya.
Ya Alloh, Ya Rohman, Ya Rohim, ampuni hamba yang dhoif ini yang seringkali lupa untuk mensyukuri nikmat-Mu, jadikanlah hamba yang berlumuran dosa ini menjadi hamba-Mu yang pandai dalam mensyukuri nikmat-Mu….
Ya Alloh, Ya Ghoffar, Ya Kariim, pagi ini kuakui semua nikmat-Mu, begitu juga kuakui semua dosa-dosaku, ampunilah aku karena tiada yang dapat mengampuni kecuali Engkau…
Ya Alloh, Ya Dzaljalali wal ikrom angkatlah kekacauan yang melanda negeri ini, tunjukan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, karuniakanlah kepada negeri ini pemimpin yang amanah, yang adil, yang Engkau Cintai dan yang mencintai-Mu, yang senantiasa berpegang kepada Al-quran dan sunnah Rosul-Mu…Ya Alloh berkahilah dan ridhoilah setiap langkahku…mudahkanlah segala urusanku, karena tiada yang mudah kecuali Engkaulah yang memudahkan dan tiada yang susah kecuali Engkau pulalah yang memudahkan…Aamiin…
Jum'at, 13 November 2009
Pelajaran indah pada suatu pagi yang cerah
Jumat, 23 Oktober 2009
Karenamu dan Untukmu (sebuah sajak kerinduan)
Puitis???
ah...akupun tak tahu dan tak yakin mengapa orang berkata begitu padaku
Apa karena susunan kata-kataku?
yang meloncat kesana kemari mencoba membentuk suatu harmoni?
Harmoni yang gambarkan suasana diri
Harmoni atas gejolak yang ada dihati
Romantis???
ini lagi...sungguh inipun ku tak tahu
yang kutahu sekarang ini kata-kata mudah saja terangkai
entah menjadi sajak ataupun puisi
walau kau katakan tiada punya arti
namun tidak begitu bagiku
ia akan selalu menyimpan suatu arti yang tersirat ataupun tersurat
dan kusadari cinta dan rindulah yang buatku begini
Cinta?
Rindu?
ya...ya...itu rasa...
rasa yang akhir-akhir ini menyelusup dalam hati
Hati...ya...Hati...
engkau tak bisa kubohongi
walau kuberusaha tuk mengenyampingkan rasa ini
Apakah itu semua sebuah kesalahan?
tidak!!! tidak!!! tegas hati ini seakan berucap
tidak!!! karena ku hanyalah manusia biasa
manusia yang butuh cinta
manusia yang terkadang terselimuti kabut kerinduan
Cinta yang mengharap ridho-Nya
Rindu yang ada karena rinduku pada-Nya
Ehm...
dengan helaan nafas yang terasa berat
berat karena masih menggelayut beban di hati
sudahlah...biarlah kuadukan masalahku ini pada-Nya
di syahdunya sepertiga malam kupanjatkan doa-doaku
dan kini yang kuingin hanyalah menulis dan terus menulis
menyusun kata yang berloncatan dalam pikir ini
menangkapnya satu persatu
lalu kususun dan kutaruh dalam sebuah wadah cerita
Cerita???
ya...cerita...
Cerita yang kelak kan ku bagi dengannya
dengan seorang insan yang bersamanya kunikmati keagungan cinta
seorang insan yang menghilangkan kabut kerinduan dihati
laksana cahya hangat sang mentari di pagi hari
Puitis? Romantis?
ada karenamu duhai Permata hatiku
ah...akupun tak tahu dan tak yakin mengapa orang berkata begitu padaku
Apa karena susunan kata-kataku?
yang meloncat kesana kemari mencoba membentuk suatu harmoni?
Harmoni yang gambarkan suasana diri
Harmoni atas gejolak yang ada dihati
Romantis???
ini lagi...sungguh inipun ku tak tahu
yang kutahu sekarang ini kata-kata mudah saja terangkai
entah menjadi sajak ataupun puisi
walau kau katakan tiada punya arti
namun tidak begitu bagiku
ia akan selalu menyimpan suatu arti yang tersirat ataupun tersurat
dan kusadari cinta dan rindulah yang buatku begini
Cinta?
Rindu?
ya...ya...itu rasa...
rasa yang akhir-akhir ini menyelusup dalam hati
Hati...ya...Hati...
engkau tak bisa kubohongi
walau kuberusaha tuk mengenyampingkan rasa ini
Apakah itu semua sebuah kesalahan?
tidak!!! tidak!!! tegas hati ini seakan berucap
tidak!!! karena ku hanyalah manusia biasa
manusia yang butuh cinta
manusia yang terkadang terselimuti kabut kerinduan
Cinta yang mengharap ridho-Nya
Rindu yang ada karena rinduku pada-Nya
Ehm...
dengan helaan nafas yang terasa berat
berat karena masih menggelayut beban di hati
sudahlah...biarlah kuadukan masalahku ini pada-Nya
di syahdunya sepertiga malam kupanjatkan doa-doaku
dan kini yang kuingin hanyalah menulis dan terus menulis
menyusun kata yang berloncatan dalam pikir ini
menangkapnya satu persatu
lalu kususun dan kutaruh dalam sebuah wadah cerita
Cerita???
ya...cerita...
Cerita yang kelak kan ku bagi dengannya
dengan seorang insan yang bersamanya kunikmati keagungan cinta
seorang insan yang menghilangkan kabut kerinduan dihati
laksana cahya hangat sang mentari di pagi hari
Puitis? Romantis?
ada karenamu duhai Permata hatiku
(saat gejolak itu hadir kembali)
Langganan:
Postingan (Atom)