Judul yang hiperbolis?
tidak juga, disini kita akan bicara sedikit antara teori dan praktek dalam pernikahan. Kok sedikit? ya iyalah, lha yang nulis kan belum menikah, jadi hanya bisa cerita sedikit dari sisi kalangan akademisi (maksudnya kalangan yang bergelut dengan teori-teori), ^_^.
Oke, tulisan ini terinspirasi dari sebuah topik di forum diskusi (Forum Sholahudin), salah seorang member (pak A-HA), beliau menuliskan di topik tersebut seperti ini "Dalam teori vs praktek.... nikah itu sama dengan berenang. Meskipun antum belajar berenang dengan 10 buku tebal, tetapi nggak pernah nyemplung ke air... insya Allah antum tenggelam ketika nyemplung ke air. Sebaliknya... orang desa yg tanpa teori, tetapi nyemplung duluan sambil belajar, maka dia akan bisa berenang.. meskipun akan sulit jadi perenang hebat jika belajar berhenti sampai disitu. Dalam soal nikah, terlalu banyak romansa didalamnya yang hanya bisa dirasakan, tetapi sulit diteorikan. Itulah kenapa Rasulullah sampai menyampaikan bahwa nikah adalah setengah Din"
Yup, tulisan beliau, sepertinya sudah mewakili untuk tulisan ini, tapi ijinkan saya sedikit saja berbicara mengenai hal ini dan mohon koreksi jika ada salah dari saya.
Sudah banyak buku yang mengupas hal-hal pernikahan, buku-buku tersebut tidak hanya menyampaikan hal-hal indah dalam pernikahan dan kehidupan rumah tangga tapi juga problematika yang mungkin akan muncul setelah menikah dan memulai kehidupan berumah tangga. Kalau begitu apakah teori dalam pernikahan itu perlu?
Jelas teori itu tetap diperlukan, paling tidak teori-teori dasar tentang pernikahan dan hidup berumah tangga, sehingga ketika memulai kehidupan yang baru kita tidak terlalu kaget dengan hal-hal yang menjadi problem dalam kehidupan berumah tangga. Namun jangan terlalu asyik dalam berteori sehingga lupa untuk mempraktekkan teori yang sudah dipelajari, seperti ilustrasi yang digambarkan diatas. Ketika kita belajar teori tentang berenang maka kita tidak bisa mengatakan bahwa berenang itu mengasyikkan, dan juga kita tidak dapat mengatakan berenang itu menyehatkan hanya dengan membaca teorinya, sebelum kita benar-benar mempraktekkan berenang dan merasakan manfaatnya. Oleh karena itu ketika orang sudah mengatakan siap untuk menikah salah satu kesiapannya adalah pengetahuan akan hal-hal dasar (minimal) mengenai pernikahan (teori), selain kesiapan mental akan amanah dan tanggung jawabnya sebagai suami nantinya, dan juga kesiapan dalam hal finansial. Jadi sudah seharusnya antara teori dan praktek berjalan beriringan.
kala lisan tak mampu mengucapkan... biarlah jemari yang menuliskan... agar tiada menjadi beban... agar hati tiada diliputi kebimbangan...
Senin, 29 Juni 2009
Rabu, 24 Juni 2009
Hingga ujung Usia
Waktu terus berganti
melibas segala yang terlewati
tinggalkan masa-masa penuh arti
di dalam bilik-bilik ruang hati
Kini masih di tepian dermaga ku berdiri
menatap cakrawala samudera kehidupan ini
bertemankan hembusan angin kerinduan dalam hati
ku kan tetap menanti
Ku coba bertahan lewati semua ini
dengan keikhlasan dan kesabaran diri
ku kan coba tuk menanti ,mencari dan mencari
hingga kau kutemukan duhai bidadari hati
Namun waktu tak pernah mau kompromi
perlahan tapi pasti usia menggerogoti diri
hingga ku masih bertemankan sepi dan sendiri
namun ku tak pernah merasa sepi
karena Alloh selalu di sisi
Dialah kekasih yang Sejati
Cinta-Nya adalah cinta yang hakiki
Hingga ujung usia
ku kan menanti
dengan keimanan dihati
kurasakan bahagia dalam diri
melibas segala yang terlewati
tinggalkan masa-masa penuh arti
di dalam bilik-bilik ruang hati
Kini masih di tepian dermaga ku berdiri
menatap cakrawala samudera kehidupan ini
bertemankan hembusan angin kerinduan dalam hati
ku kan tetap menanti
Ku coba bertahan lewati semua ini
dengan keikhlasan dan kesabaran diri
ku kan coba tuk menanti ,mencari dan mencari
hingga kau kutemukan duhai bidadari hati
Namun waktu tak pernah mau kompromi
perlahan tapi pasti usia menggerogoti diri
hingga ku masih bertemankan sepi dan sendiri
namun ku tak pernah merasa sepi
karena Alloh selalu di sisi
Dialah kekasih yang Sejati
Cinta-Nya adalah cinta yang hakiki
Hingga ujung usia
ku kan menanti
dengan keimanan dihati
kurasakan bahagia dalam diri
Kamis, 18 Juni 2009
Dari jalanan ku belajar....
Jalanan jakarta mengajarkanku banyak hal, darinya kutemui sosok pengemis baik tua ataupun anak-anak yang sebenarnya mereka lebih berhak untuk menghabiskan masa kecilnya untuk bermain bersama teman-temannya, dan bermanja kepada orang tuanya, di jalanan pula kutemui para pengamen, dan para tukang penjual makanan ataupun yang lain yang mendorong gerobak dagangannya, walaupun belum tentu hari itu ada dagangan mereka yang laku.
Jika sudah seperti ini maka hanya penyesalan yang timbul di hati, beribu tanya muncul pada dinding-dinding hati ini,
"Mengapa saya selama ini kurang bersyukur?"
"Mengapa dengan penghasilan yang terbilang lebih dari cukup terkadang masih merasa kurang?"
"Mengapa masih saja mengeluh akan pekerjaan sedangkan sudah pasti setiap bulan ada penghasilan, sementara di luaran sana masih banyak yang untuk makan hari itupun entah ada atau tidak walaupun sudah berpanas terik matahari berbasah kuyup oleh hujan?"
"Mengapa masih ada saja kemaksiatan dari diri ini?"
Jalanan Jakarta mengajarkanku banyak hal, mungkin terdengar berlebihan, tapi tidak kawan, aku memang banyak belajar dari jalanan. Mungkin inilah hikmah Alloh mentakdirkan ku untuk menyusun puzzle-puzzle kehidupanku di ibukota ini. Setiap malam ketika ku pulang dari kantor, ada saja di persimpangan atau perempatan jalan orang yang meminta-minta bahkan ku melihat kebanyakan mereka adalah anak-anak, aku tak tahu kemana orang tua mereka, mungkin orang tua mereka pun sedang berpeluh keringat untuk menghidupi keluarganya, dan anak-anak ini dengan kesadaran sendiri ingin membantu orang tua mereka....wallohu a'alam, kita hanya bisa berprasangka baik pada mereka. Padahal dalam Islam meminta-minta itu adalah perbuatan yang tidak baik, ada hadits dari Rasululloh tentang orang yang meminta-minta, namun tidak pas kalau dibicarakan disini karena banyak buku dan ulama yang lebih berkompeten.
Perjalanan menyusuri jalanan ibukota memberikan pengalaman dan pelajaran yang sangat berarti untuk ku. Pernah suatu kali dalam perjalanan bersama teman kantor di siang yang terik, menggunakan mobil ber-AC, dari kaca mobil kulihat bapak-bapak sudah agak tua, mendorong gerobak jualannya, dari dalam mobil lekat kunikmati pemandangan itu, kulihat wajahnya yang berpeluh, Ya Alloh, dia sedang berusaha menjemput Rizqi-Mu, teriknya mentari tak menyurutkan langkahnya mendorong gerobak yang berisi dagangannya karena ia tahu bahwa anak istrinya sedang menunggunya di rumah dengan segenggam harapan. Harapan yang mungkin bahwa mereka paling tidak bisa makan untuk hari ini....lalu ku coba untuk menilik diri ini, mencoba melihat pantulan diriku dari kaca mobil yang ku tumpangi, hingga hati pun mneyahuti, "Aku berkerja di dalam ruangan tanpa harus merasakan terik sang mentari, dengan penghasilan tetap yang setiap bulan ku dapati, mengapa aku terkadang masih mengeluh dengan beban pekerjaanku, sementara di luaran sana ada yang berpanas terik sang mentari, menyusuri jalanan ini, hingga peluh keringat membasahi, masih pantaskah aku mengeluh?" bermonolog hatiku kala itu...ternyata diri ini tidak lebih baik dari bapak itu......
Keadaan seperti ini selalu memunculkan tanya dalam diri, "Siapa yang bertanggung jawab ketika ada anak-anak yang seharusnya mereka menikmati masa-masa indah namun harus sudah bekerja mencari nafkah?"
Orang tuanya?
Pemimpin negeri ini?
atau kita semua?
entahlah, aku pun tak menemui jawabannya...
Ya Alloh ampuni hamba-Mu yang terkadang kufur akan nikmat-Mu,
Ya Alloh jadikanlah hamba menjadi hamba-Mu yang pandai mensyukuri nikmat-Mu...
Ya Alloh karuniakanlah kepada negeri ini pemimpin yang adil, yang amanah, yang senantiasa dalam ketaatan kepada-Mu dan mengikuti sunnah Rosul-Mu....
Aamiin...
Jalanan mengajarkan ku akan arti sebuah rasa syukur...jalanan mangajarkan ku akan arti sebuah perjuangan....
Sungguh indah cara-Mu mengingatkan ku ya Alloh......
Jika sudah seperti ini maka hanya penyesalan yang timbul di hati, beribu tanya muncul pada dinding-dinding hati ini,
"Mengapa saya selama ini kurang bersyukur?"
"Mengapa dengan penghasilan yang terbilang lebih dari cukup terkadang masih merasa kurang?"
"Mengapa masih saja mengeluh akan pekerjaan sedangkan sudah pasti setiap bulan ada penghasilan, sementara di luaran sana masih banyak yang untuk makan hari itupun entah ada atau tidak walaupun sudah berpanas terik matahari berbasah kuyup oleh hujan?"
"Mengapa masih ada saja kemaksiatan dari diri ini?"
Jalanan Jakarta mengajarkanku banyak hal, mungkin terdengar berlebihan, tapi tidak kawan, aku memang banyak belajar dari jalanan. Mungkin inilah hikmah Alloh mentakdirkan ku untuk menyusun puzzle-puzzle kehidupanku di ibukota ini. Setiap malam ketika ku pulang dari kantor, ada saja di persimpangan atau perempatan jalan orang yang meminta-minta bahkan ku melihat kebanyakan mereka adalah anak-anak, aku tak tahu kemana orang tua mereka, mungkin orang tua mereka pun sedang berpeluh keringat untuk menghidupi keluarganya, dan anak-anak ini dengan kesadaran sendiri ingin membantu orang tua mereka....wallohu a'alam, kita hanya bisa berprasangka baik pada mereka. Padahal dalam Islam meminta-minta itu adalah perbuatan yang tidak baik, ada hadits dari Rasululloh tentang orang yang meminta-minta, namun tidak pas kalau dibicarakan disini karena banyak buku dan ulama yang lebih berkompeten.
Perjalanan menyusuri jalanan ibukota memberikan pengalaman dan pelajaran yang sangat berarti untuk ku. Pernah suatu kali dalam perjalanan bersama teman kantor di siang yang terik, menggunakan mobil ber-AC, dari kaca mobil kulihat bapak-bapak sudah agak tua, mendorong gerobak jualannya, dari dalam mobil lekat kunikmati pemandangan itu, kulihat wajahnya yang berpeluh, Ya Alloh, dia sedang berusaha menjemput Rizqi-Mu, teriknya mentari tak menyurutkan langkahnya mendorong gerobak yang berisi dagangannya karena ia tahu bahwa anak istrinya sedang menunggunya di rumah dengan segenggam harapan. Harapan yang mungkin bahwa mereka paling tidak bisa makan untuk hari ini....lalu ku coba untuk menilik diri ini, mencoba melihat pantulan diriku dari kaca mobil yang ku tumpangi, hingga hati pun mneyahuti, "Aku berkerja di dalam ruangan tanpa harus merasakan terik sang mentari, dengan penghasilan tetap yang setiap bulan ku dapati, mengapa aku terkadang masih mengeluh dengan beban pekerjaanku, sementara di luaran sana ada yang berpanas terik sang mentari, menyusuri jalanan ini, hingga peluh keringat membasahi, masih pantaskah aku mengeluh?" bermonolog hatiku kala itu...ternyata diri ini tidak lebih baik dari bapak itu......
Keadaan seperti ini selalu memunculkan tanya dalam diri, "Siapa yang bertanggung jawab ketika ada anak-anak yang seharusnya mereka menikmati masa-masa indah namun harus sudah bekerja mencari nafkah?"
Orang tuanya?
Pemimpin negeri ini?
atau kita semua?
entahlah, aku pun tak menemui jawabannya...
Ya Alloh ampuni hamba-Mu yang terkadang kufur akan nikmat-Mu,
Ya Alloh jadikanlah hamba menjadi hamba-Mu yang pandai mensyukuri nikmat-Mu...
Ya Alloh karuniakanlah kepada negeri ini pemimpin yang adil, yang amanah, yang senantiasa dalam ketaatan kepada-Mu dan mengikuti sunnah Rosul-Mu....
Aamiin...
Jalanan mengajarkan ku akan arti sebuah rasa syukur...jalanan mangajarkan ku akan arti sebuah perjuangan....
Sungguh indah cara-Mu mengingatkan ku ya Alloh......
Selasa, 07 April 2009
Cinta dan Rindu
ketika cinta merasuk kedalam jiwa
tak perlu kau tanya mengapa ada bahagia
kala rindu sambangi raga
jangan kau tanya mengapa ingin bersama
Adanya Cinta menyebabkan timbulnya rindu
Dengan Cinta hidup kian bermakna
Suka dan duka berpadu menjadi satu
Hadirnya Rindu buat diri ingin bersama
Jangan kau tanyakan rasa pada orang yang merindu
Karena ia sudah mejelma laksana candu
Pertemuan dan kebersamaan dihajatkannya selalu
walaupun hanya sepenggal waktu
Cinta dan Rindu, tidak hanya sekedar rasa
Cinta dan Rindu, buat hidup kian berwarna
Cinta dan Rindu, munculkan gelora di dalam dada
Cinta dan rindu, mengisi celah-celah hati manusia
Jakarta 07-04-09
tak perlu kau tanya mengapa ada bahagia
kala rindu sambangi raga
jangan kau tanya mengapa ingin bersama
Adanya Cinta menyebabkan timbulnya rindu
Dengan Cinta hidup kian bermakna
Suka dan duka berpadu menjadi satu
Hadirnya Rindu buat diri ingin bersama
Jangan kau tanyakan rasa pada orang yang merindu
Karena ia sudah mejelma laksana candu
Pertemuan dan kebersamaan dihajatkannya selalu
walaupun hanya sepenggal waktu
Cinta dan Rindu, tidak hanya sekedar rasa
Cinta dan Rindu, buat hidup kian berwarna
Cinta dan Rindu, munculkan gelora di dalam dada
Cinta dan rindu, mengisi celah-celah hati manusia
Jakarta 07-04-09
Rabu, 11 Maret 2009
Rehat sejenak....

Kawan, pernahkah engkau merasa begitu semangat pada suatu waktu?
pasti, karena memang kita harus lalui hidup ini dengan penuh semangat,
Dan pernahkah engkau merasa semangat itu lama kelamaan mengendur, dan menyisakan suatu keletihan dan kelelahan?
pernah, sebagaimana iman, yang bisa naik dan turun, begitu pula dengan semangat,
Adakah lalu kita mengutuki keletihan dan kelelahan itu?
tidak kawan, karena memang inilah kita -manusia- makhluk yang lemah...
Adakah lalu kita menyalahkan keletihan dan kelelahan yang menghinggapi diri kita?
Kawan, seorang teman berujar...
Keletihan pun merupakan nikmat dari-Nya,
karena dengan letih itulah istirahat menjadi indah....
Kawan...
Rehatlah sejenak dari rutinitas mu
sesekali rasakanlah harmoni alam ini
rasakan semilir angin, merdunya kicauan burung, dan gemericik air
nikmati canda tawamu bersama keluarga
pejamkan matamu
rasakan kesegaran itu
biarkan ia merasuk dalam dirimu
ucapkanlah takbir, tahmid, dan tahlil akan kebesaran Alloh dari kedalaman hatimu
Rehatlah sejenak kawan,
Karena hatimu pun perlu suatu kesegaran
Dzikir adalah kesegaran bagi hati
sholat 5 waktu pun rehat bagi diri dari kesibukan sehar-hari
Ketika dirimu diliputi kekecewaan
rehatlah sejenak
carilah bahagia tuk gantikan kecewa
Ketika dirimu dihinggapi penyesalan
rehatlah sejenak
temukan keikhlasan tuk mengganti sesal yang ada
Ketika hatimu disusupi oleh kesedihan
rehatlah sejenak
ajaklah ketabahan tuk hilangkan sedih itu
Ketika amarah mulai merasuk dalam dirimu
rehatlah sejenak
temui kesabaran tuk menghilangkannya
Ketika ketidakpuasan menyambangimu
rehatlah sejenak
biarlah kesyukuran berkunjung dan menetap di hatimu
Rehatlah sejenak kawan...
Rehat sejenak pada koma,
bukan titik, karena kita harus melanjutkan cerita kehidupan dan perjuangan ini...
Semarang 070309
ehm....setelah kemaren-kemaren jalan-jalan ke Ciwidey, yang murni buat rekreasi, tanggal 07 Maret 2009 kemaren saya, masruf, mas dodi, dan saiful yogi wibowo berangkat ke Semarang, tapi kali ini tidak murni jalan-jalan melainkan kami akan menyaksikan 2 insan mengikat diri mereka dengan Perjanjian yang berat -Pernikahan- ya, nama yang saya sebut terakhir dalam rombongan kami tadi adalah sang calon pengantin. Karena kerata berangkat pukul 07.30 maka ba'da subuh saya dah siap-siap, apa aja yang perlu dibawa karena kita bakalan nginep semalem di Semarang.
Mohon maaf, tidak seperti ketika ke Ciwidey, untuk kali ini saya tidak menenkankan pada perjalananya tetapi pada suatu prosesi yang dengannya menjadi bersatu dua insan manusia dalam ikatan cinta yang suci dan menjadikan yang tadinya haram menjadi halal, Akad Pernikahan, ya....inilah yang ingin saya ceritakan disini sekilas.
Sudah 3 kali ini saya menghadiri akad nikah temen saya, dan sungguh setiap kali kesempatan itu maka benar-benar hati ini merasa senang, gembira, suka ria, pokoknya bahagia lah....
ketika melihat sang calon pengantin dengan lantang mengucapkan "Saya terima nikahnya fulanah binti fulan dengan mas kawin........dibayar tunai", ikut lega rasanya, dan yang terlihat oleh saya adalah binar kebahagiaan di raut muka kedua mempelai tersebut....
Ehm...
satu per satu teman kuliah yang seangkatan dengan saya melepas masa lajang mereka, menjemput sang bidadari hati, menambah peran mereka menjadi seorang suami....
senang rasanya, walaupun usia mereka yang masih relaitf muda, mereka berani melangkah menuju gerbang pernikahan, dan memang usia tidak dapat dijadikan patokan untuk menilai seseorang apakah ia sudah dewasa dan siap mengayuh bahtera Rumah tangga.
Miris rasanya hati ini ketika ada orang yang berkata,"jangan karena kamu sudah punya penghasilan, kamu putuskan untuk menikah, nikmati dulu hasil kerjamu",benar-benar miris hati ini, lha wong penghasilan sudah punya, mau menjaga diri dari kemaksiatan dengan menyegerakan menikah kok malah di bilangin kayak gitu, bukannya didukung....
memang sekarang jamannya sudah edan, ketika orang menyegerakan menikah dibilangin inilah, itulah, ya memang perlu kita nasehat orang, namun terkadang apa yang orang bilang jika kita menikah muda tidak rasional, sementara orang pacaran, malam minggu jalan berdua menuju tempat sepi, berasyik masyuk, terlihat sebagai suatu hal yang biasa saja.....
Ya Alloh.....
lho kok malah ngomong kayak gini ya....
wah dasar darah muda nieh, masih cepet meledak-ledak, hehehehehehe...
By the way untuk akh Yogi, Akh Pani, dan Akh Heru serta teman-temanku yang telah mengikat ikrar suci , untuk kalian terangkai kata beriring doa :
Sahabat...
telah kau masuki mahligai tempat berlabuh hati
Berpancar binar bahagia pada diri
Sahabat...
Ku tahu sadarmu tiada selalu bahagia menyertai
Terkadang jalan terjal harus kau daki
Aral lintang harus kau lalui
Itulah yang buatmu maju mundur tuk masuki mahligai suci
Sahabat...
Namun tetap kau langkahkan kaki
Dengan ilmu dan kemantapan hati, serta petunjuk Ilahi
kau jemput permaisuri hati
yang telah lama kau nanti
Doaku semoga keberkahan selalu menyertai...
Barokallohu laka wa baroka 'alayka wa jama'a bainakuma fii khoiri....
Langganan:
Postingan (Atom)