kala lisan tak mampu mengucapkan... biarlah jemari yang menuliskan... agar tiada menjadi beban... agar hati tiada diliputi kebimbangan...
Senin, 13 Januari 2020
Positive Think(r)ing
Pernah ga sieh kita dimarahin sama orang tua kita dulu pas masih kecil? Kayak-kayaknya sieh pernah ya. Terus sempet ga kepikiran saat itu kalau "jahat amat ya emak bapak saya" atau "tega banget ya emak bapak saya", kayak-kayaknya jg pernah sieh ini. Terus sekarang pas udah dewasa baru deh tau owh ternyata dulu emak/bapak marahin saya karena apa yang saya lakuin efeknya kedepannya ga bener to. Dan dengan dimarahin saya jad ga lakuin itu. Dan dengan dimarahin saya jadi sukses (sesuai ukuran masing2). Dan dan dan yang lain. Kata orang itulah kenapa penyesalan selalu ada di belakang, ya iya lah klo didepan namanya pendaftaran.
.
Beberapa takdir kadang juga kita buru2 ngeliat pake pikiran yang negatif, kalau udah gitu seterusnya juga bakalan negatif mulu. Padahal ya klo mau tenang bentar sambil think(r)ing (jongkok) bisa jadi kita bakalan positive thinking dah. Karena kadang dengan positive think(r)ing kita bisa tuh akhirnya positve thinking terhadap apa takdir yang menimpa kita. Bahkan kadang juga nieh positive think(r)ing itu bisa bikin kita dapet inspirasi atau malah nemu inovasi.
.
So be positive think(r)ing ya gaessss.
Rabu, 08 Januari 2020
Cita-Cita
Sewaktu kita kecil seringkali
bahkan mungkin hampir pasti ibu bapak guru kita pernah mengajukan
pertanyaan "Cita-citamu apa sayang?" atau "Kalau sudah besar mau jadi
apa?"
Dan seperti sudah menjadi hal yang umum anak2 dulu (yg satu angkatan dengan saya) menjawab dengan jawaban dokter, polisi, tentara, presiden, guru, atau ingin seperti bapak/ibu atau profesi-profesi yang umum ada waktu itu. Ada yang menjaga cita-cita tersebut hingga akhirnya bisa mewujudkannya dengan segala macam upaya dan daya. Namun tak sedikit juga yang cita-cita nya kandas oleh situasi dan kondisi atau malah kandas oleh sebuah kompromi.
.
Bahkan mungkin diantara kita pada saat dulu ditanya cita-cita tidak ada yang menjawab menjadi PNS/ASN, betul? Namun nyatanya saat ini banyak yang setelah dewasa cita-citanya ingin menjadi PNS/ASN. Karena ya ada situasi kondisi dan juga kompromi yang kemudian kita mendefinisi ulang cita-cita kita. Ada yang mendefinisi ulang cita-citanya ketika memasuki gerbang SMA, ada yang mendefinisi cita-cita saat di bangku kuliahan. Pun juga ada yang mendefinisi ulang cita-citanya saat sudah beranjak tua. Cita-cita tidak selalu sama dengan profesi yang sedang kita jalani saat ini, walaupun ada yang profesi saat ini sama dengan cita-citanya.
.
Selanjutnya adalah muncul pertanyaan "apakah yang kandas cita-citanya adalah yang gagal?" Belum tentu, bahkan mungkin dengan kandasnya cita-cita tersebut menjadi jalan lain untuk menuju sukses -tentunya sukses dengan definisinya masing-masing-. Apapun cita-cita kita serta menjadi apa kita sekarang dan masa yang akan datang yang paling penting adalah kita bisa menjadi manusia yang berguna, bermanfaat bagi sekitar kita.
.
Sebagai penutup saya jadi ingat pesan kawan saya "Fi gantungkan cita-citamu setinggi-tingginya, jadi klo pun ga nyampe kamu masih ada di atas tidak dibawah."
Dan seperti sudah menjadi hal yang umum anak2 dulu (yg satu angkatan dengan saya) menjawab dengan jawaban dokter, polisi, tentara, presiden, guru, atau ingin seperti bapak/ibu atau profesi-profesi yang umum ada waktu itu. Ada yang menjaga cita-cita tersebut hingga akhirnya bisa mewujudkannya dengan segala macam upaya dan daya. Namun tak sedikit juga yang cita-cita nya kandas oleh situasi dan kondisi atau malah kandas oleh sebuah kompromi.
.
Bahkan mungkin diantara kita pada saat dulu ditanya cita-cita tidak ada yang menjawab menjadi PNS/ASN, betul? Namun nyatanya saat ini banyak yang setelah dewasa cita-citanya ingin menjadi PNS/ASN. Karena ya ada situasi kondisi dan juga kompromi yang kemudian kita mendefinisi ulang cita-cita kita. Ada yang mendefinisi ulang cita-citanya ketika memasuki gerbang SMA, ada yang mendefinisi cita-cita saat di bangku kuliahan. Pun juga ada yang mendefinisi ulang cita-citanya saat sudah beranjak tua. Cita-cita tidak selalu sama dengan profesi yang sedang kita jalani saat ini, walaupun ada yang profesi saat ini sama dengan cita-citanya.
.
Selanjutnya adalah muncul pertanyaan "apakah yang kandas cita-citanya adalah yang gagal?" Belum tentu, bahkan mungkin dengan kandasnya cita-cita tersebut menjadi jalan lain untuk menuju sukses -tentunya sukses dengan definisinya masing-masing-. Apapun cita-cita kita serta menjadi apa kita sekarang dan masa yang akan datang yang paling penting adalah kita bisa menjadi manusia yang berguna, bermanfaat bagi sekitar kita.
.
Sebagai penutup saya jadi ingat pesan kawan saya "Fi gantungkan cita-citamu setinggi-tingginya, jadi klo pun ga nyampe kamu masih ada di atas tidak dibawah."
Aku kalah Aku Pilih Menyerah, Jakarta
Jakarta sebuah kota dimana aku pernah hidup didalamnya, kota yang begitu banyak memberi diri ini pelajaran berharga, kota dimana aku bertemu sekumpulan keluarga baru, kota yang menempa diri menjadi lebih dewasa, dan kota dimana tersimpan banyak kenangan suka maupun duka.
Jakarta itu ibukota yang kata orang dulu lebih kejam dari ibu tiri. Namun aku bersyukur bahwa yang kujumpai dari kota ini adalah keramah-tamahannya. Kesempatan dan hingar bingar Jakarta bagai gula yg membuat semut-semut datang berebut.
.
Sekitar 4 tahun hidup di jakarta dengan status jomblo buatku tak terlalu masalah dengan kompleksitas permasalahan jakarta. Ku mencoba menikmati. Namun saat anak-anakku lahir aku berpikir ulang tentang kota ini. Benar kata orang, prioritas kita akan perlahan-lahan bergeser ketika kita sudah mempunyai anak. Begitu jg denganku. Pola pikir anak desa masih melekat di pikranku walaupun hampir satu dekade tinggal dijakarta.
.
Dan pada akhirnya aku memilih bahwa:
Aku telah menyerah dengan hingar bingar Jakarta,
Aku telah kalah dengan hiruk pikuknya Jakarta,
Aku telah kalah dengan ego anak desa,
Aku tak sekuat dan setegar orang-orang yang mengadu nasib dan peruntungannya di Jakarta.
Namun aku bersyukur pernah hidup di Jakarta.
.
Mereka yang masih hidup dijakarta adalah orang-orang yang menurut saya lebih tangguh, lebih tegar, lebih kuat dari rata-rata orang dalam segi mental, daya juang dan pikiran.
.
Dan kini jakarta dan daerah sekitarnya terendam banjir, mari kita sama-sama doakan agar banjir segera surut dan warganya kembali bangkit serta menjalani hidup seperti sedia kala dan menjadi lebih bahagia. Karena jakarta milik kita bersama, seluruh warganya adalah saudara kita.
R E S O L U S I
Kata yg sering dan nyaring terdengar di akhir atau awal tahun, menggambarkan apa yg jadi harapan di tahun mendatang. Namun menurut saya agak sedikit kurang pas kalau resolusi harus menunggu akhir atau awal tahun, lagi-lagi menurut saya. Kalau resolusi diartikan/digambarkan sebagai sebuah harapan yg harus atau paling tidak berusaha diwujudkan di masa datang maka lebih pas kalau resolusi itu kita tetapkan setiap hari.
.
Di malam penghujung hari kita kontemplasi apa yg sudah kita lakukan seharian, apa yg kurang tepat, apa saja keliru kita dan kemudian setelah itu kita susun resolusi utk hari esok. Apa saja harapan yg harus (berusaha) kita wujudkan, apa saja keliru yang harus kita luruskan. Yang tentunya outcome dari resolusi itu adalah hari ini menjadi lebih baik dari hari yang lalu.
.
Kata orang hari kemarin telah terlalui, hari ini sedang kita jalani dan hari esok adalah misteri. Pertanyaannya adalah jika esok hari itu sebuah misteri, apakah akan berakhir baik jika kita jalani tanpa ada rencana atau resolusi?
Engkau Utuh Aku Separuh
Tak perlu kau jadi mawar
Tuk tunjukkan arti indah merekah
Tak perlu kau jadi tulip
Tuk tunjukkan arti keanggunan
Tak perlu kau jadi rembulan
Tuk tunjukkan arti kelembutan
Tak perlu kau jadi pelangi
Tuk tunjukkan sebuah jati diri
Cukup jadi dirimu sendiri
Dengan kurang dan lebih yg ada
Tak perlu jua kau jadi bidadari
Cukup jadikan bidadari cemburu padamu
Dengan taat dan patuhmu
Pada Tuhanmu
Pada Rasulmu
Pada belahan hatimu
Pada orang tuamu
Cukup...cukup...
Cukup engkau dengan utuhmu
Karena Engkau Utuh adalah aku separuh
Tuk tunjukkan arti indah merekah
Tak perlu kau jadi tulip
Tuk tunjukkan arti keanggunan
Tak perlu kau jadi rembulan
Tuk tunjukkan arti kelembutan
Tak perlu kau jadi pelangi
Tuk tunjukkan sebuah jati diri
Cukup jadi dirimu sendiri
Dengan kurang dan lebih yg ada
Tak perlu jua kau jadi bidadari
Cukup jadikan bidadari cemburu padamu
Dengan taat dan patuhmu
Pada Tuhanmu
Pada Rasulmu
Pada belahan hatimu
Pada orang tuamu
Cukup...cukup...
Cukup engkau dengan utuhmu
Karena Engkau Utuh adalah aku separuh
G A D U H
Gaduh tak selalu mengaduh
Tak juga selalu tentang keluh
Gaduh jua tak selalu gemuruh
Tak juga harus berpeluh
Sewaktu...gaduh itu perlu
Untuk memecah pikir yang keras membatu
Untuk menyentuh hati yang dingin membeku
Gaduh itu keniscayaan
Agar muncul perbaikan
Agar timbul kesyukuran
Agar membuka sumbat dalam ingatan
Gaduh tak selalu rusuh
Kadang gaduh buka mata yang terlanjur menatap separuh
Agar kemudian menatap seluruh
Karena setiap sisi tatap itu ada pengaruh
Separuh separuh mula gaduh
Atau gaduh yang buat separuh separuh?
Langganan:
Postingan (Atom)





