Subuh waktu itu seperti biasa bersama seorang sahabat saya berjalan menuju masjid memenuhi panggilan Ilahi, sebenarnya dari waktu berangkat ke masjid dan pelaksanaan sholat berjalan sebagaimana lazimnya, namun ada suatu peristiwa yang memberikan saya suatu pelajaran yang sangat berharga, yaitu ketika kami sudah selesai sholat subuh berjamaah, dan akan meninggalkan masjid untuk menuju tempat kos, di pintu keluar saya melihat sahabat saya itu sedikit kebingungan, hal yang memancing saya untuk bertanya padanya,
"kenapa bro?"
"ehm...ini, sendal saya kok ga ada ya?"
"sudah kau cari di pintu satunya?" karena masjid itu punya 2 pintu keluar yang tidak terlalu berjauhan,
"sudah, Alhamdulillah, tapi ga ada, ya udah yuk balik ke kos" jawabnya kini sembari tersenyum dan mengajak saya balik ke kos dengan dirinya tidak memakai sendal.
"kok tadi Alhamdulillah bro?"
"Ya...Alhamdulillah Fi..."
"Alhamdulillah karena Alloh hanya mengambil sepasang sandal saya, bukan sepasang kaki saya, sehingga kaki ini masih bisa terus saya langkahkan menuju masjid ketika datang panggilan itu, jadi Fi.... kita harus berusaha untuk merubah paradigma berpikir kita, ketika datang suatu cobaan maka ingatlah akan begitu banyaknya nikmat yang telah Alloh berikan kepada kita, InsyaAlloh dengan begitu kita akan lebih bisa sabar, tabah dan ridho atas cobaan yang Alloh berikan pada kita, seperti saya pagi ini, kehilangan sandal ya saya ingat saja nikmat kelengkapan fisik dalam hal ini kedua kaki saya, sembari berdoa semoga Alloh mengganti yang hilang tadi dengan yang lebih baik, intinya kita harus berusaha untuk selalu berpikir positif dan mengambil hikmah dari segala kejadian yang menimpa kita, baik itu ketika kita sedang dalam kesuksesan atau kegagalan, oke?!"
"Mantabs bro...trim's atas nasehatnya pagi ini, luar biasa" jawab saya terkagum akan sikap dan pola pikir sahabat saya ini
"Alhamdulillah" jawabnya singkat
Pelajaran yang sangat berharga bagi saya, tentang berpikir positif dan senantiasa mengambil hikmah atas segala keadaan yang menimpa kita, baik itu suatu kesuksesan atau kegagalan sekalipun, agar ketika kita sukses kita tidak lupa bahwa kita hanya seorang hamba dan sukses itu datangnya dari Alloh Subhanahu wa ta'ala, sehingga kita tidak terjebak dalam sikap takkabur yang sungguh tercela dan terlalu membanggakan diri, serta ketika kita menderita kegagalan kita tidak lantas langsung menyerah, namun kita bisa sabar dalam menghadapi kegagalan itu dan segera bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebagai suatu bahan introspeksi diri atas yang telah kita usahakan sekaligus bahan pembelajaran untuk meraih suatu kesuksesan, sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan....
TETAP SEMANGAT...!!!
kala lisan tak mampu mengucapkan... biarlah jemari yang menuliskan... agar tiada menjadi beban... agar hati tiada diliputi kebimbangan...
Rabu, 19 Agustus 2009
Kamis, 13 Agustus 2009
Sajak Rindu

menyenandungkan nyanyian sabar dan syukur diri dalam ruang hati
dengan senyum optimisme menyungging manis menghiasi
tak kan lelah diri ini menanti
menanti yang tak berarti hanya berdiam diri
hingga tiba masanya nanti
kan datang sesosok bidadari yang kan temani diri lalui hari
tempat ku merebah diri
menikmati lantunan indah sajak kemahaan sang Ilahi
biarlah ia sementara hadir dalam mimpi
walau azzam dalam diri tlah merindui
biarlah...biarlah...tetap kujalani
karena ku yakin engkau kan datang
walau tak saat masa sekarang
karena ku yakin engkau kan hadir
membawa sepoi angin kasih yang semilir
sajak rindu terpahat dalam dinding hati
bercerita tentang masa yang dinanti
Senin, 13 Juli 2009
Rembulan hati…

Kelam terasa langit malam ini,
Tiada rembulan yang menghiasi,
Begitupun adanya langit hati,
Kelam jualah yang terasai,
Inginku tersinari cahayamu rembulan hati,
Yang kan buat hidupku lebih berarti,
Haruskah kulari agar kudapat miliki cahayamu duhai rembulan hati?
Ataukah kutunggui sampai kau muncul dengan binar kilaumu?
Kini ku terpenjara dalam sepi,
Dibalik jeruji kesunyian hati,
Yang entah kapan harus kuakhiri…
Namun ku tak kan berhenti bermimpi,
Tuk keluar dari sepi dan sunyi ini,
Ku tak kan lelah tuk berlari,
Agar dapat kunikmati,
Kilau cahayamu duhai rembulan hati…
(Terinspirasi dr nasyid ‘rembulan di langit hatiku’ by seismic…)
Selasa, 07 Juli 2009
Menyemai Cinta di Taman Takwa

Bismillahirrohmanirrohim.....
sebenarnya cukup sulit bagi saya untuk memulai untuk menuliskan tulisan ini, karena terus terang saya belum mempraktekan apa yang saya tuliskan disini, namun harapan saya, semoga tulisan ini kelak akan mengingatkan dan meneguhkan saya ketika nantinya saya berkeluarga dan problematika hidup berkeluarga akan menyambangi kehidupan bahtera rumah tangga yang saya kayuh. Dalam buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku" karya Dwi Budiyanto, salah satu buku yang menurut saya adalah buku yang berbobot, namun bahsanya ringan, dalam buku tersebut ada salah satu bahasan dengan judul "Tak Sekedar Cinta", bahasan yang membuka suatu pemahaman baru bagi saya, dalam bahasan tersebut disebutkan bahwa Imam Jauzi (seorang ulama irak yang alim) dalam kitabnya "Shaidul Khatir" pernah menceritakan kisah Abu Utsman an-Naisaburi yang ditanya oleh seseorang. Pertanyaan menggelitik tentang harapan Abu Utsman. "Apa yang paling anda harapkan dari amal anda?" Abu Utsman terdiam beberapa saat. Lalu, ia mulai bertutur.
"Pada saat aku masih muda, keluargaku berusaha menikahkanku. Akan tetapi aku tidak bersedia. Suatu saat ada seorang wanita yang datang kepadaku dan berkata, 'Wahai Abu Utsman, sungguh aku sangat mencintaimu. Sudilah kiranya engkau menikahiku.' Wanita itu menghadirkan ayahnya yang sangat miskin. Aku pun dinikahkan dengan wanita itu. Nah, ketika aku berkumpul dengannya dalam satu kamar, ternyata ia pincang dan sangat buruk."
"Karena kecintaannya kepadaku," kata Abu Utsman melanjutkan, "Ia melarangku keluar rumah. Aku terpaksa duduk di dalam rumah untuk menjaga hatinya. Aku sama sekali tidak menampakkan kemarahan kepadanya, padahal aku seperti di atas bara. Sungguh. Demikianlah, kejadian itu berlangsung selama lima belas tahun hingga ia meninggal."
Beitulah ketika takwa menghiasi kehidupan keluarga. Kebencian yang membara terpinggirkan oleh sabar dan tanggung jawab terhadap janji. Bahasa takwa itu terpancar dari ungkapan Abu Utsman, "Tidak ada amal yang kuharapkan, kecuali menjaga hatinya agar tidak terluka." Itulah ketika cinta tak hanya sekedar cinta, cinta yang berbungkus takwa. Kisah serupa terjadi ketika ada salah seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khatab mengeluhkan tentang istrinya. Lelaki itu mengatakan bahwa cintanya kepada istrinya telah memudar. Oleh karena itu, ia bermaksud menceraikannya.
"Sungguh jelek niatmu," kata Umar. "Apakah semua rumah tangga (hanya dapat) terbina dengan cinta? Dimana takwamu dan janjimu kepada Alloh? Di mana rasa malumu kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai sepasang suami-istri, telah saling bercampur (menyampaikan rahasia) dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat?"
Ya, ketika menikah, dan mengucapkan ijab qobul, maka itulah salah satu perjanjian besar yang dalam Al-qur'an hanya disebut 3 kali oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala. Inilah kesadaran yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim/muslimah ketika ia memutuskan untuk menikah. Maka dari itu, saya terheran-heran mengapa banyak artis yang cerai, padahal sepengetahuan saya cerai atau talak adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam islam, namun dibenci oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala. Ketika mungkin alasan perceraian itu karena cinta yang telah memudar maka sungguh naif alasan itu mengemuka, karena cinta bukan hanya sebatas kata benda cinta adalah kata kerja, kerja untuk menumbuhkan, merawat, memberi. Seharusnya ketika kesadaran akan janji yang telah terucap, yang tidak hanya disaksikan oleh manusia, namun Alloh juga menyaksikan, maka ketika ada problem dalam kehidupan berumah tangga dapat diselesaikan bersama antara suami dan istri dengan penuh kesadaran dan kedewasaan.
Dan Ketika kau semai benih cintamu di taman ketakwaan, maka pupuklah ia dengan kasih sayang, siramilah dengan perhatian, sinarilah dengan cahaya ketulusan, hingga kelak kau kan jumpai cinta itu menguncup kemudian mekar menjadi bunga, yang keharumannya memenuhi ruang hatimu dalam taman ketakwaan.
Jakarta, 7 Juli 2009...
(Referensi : Segenggam Rindu Untuk Istriku karya Dwi Budiyanto)
Senin, 29 Juni 2009
Menikah : Teori vs Praktek
Judul yang hiperbolis?
tidak juga, disini kita akan bicara sedikit antara teori dan praktek dalam pernikahan. Kok sedikit? ya iyalah, lha yang nulis kan belum menikah, jadi hanya bisa cerita sedikit dari sisi kalangan akademisi (maksudnya kalangan yang bergelut dengan teori-teori), ^_^.
Oke, tulisan ini terinspirasi dari sebuah topik di forum diskusi (Forum Sholahudin), salah seorang member (pak A-HA), beliau menuliskan di topik tersebut seperti ini "Dalam teori vs praktek.... nikah itu sama dengan berenang. Meskipun antum belajar berenang dengan 10 buku tebal, tetapi nggak pernah nyemplung ke air... insya Allah antum tenggelam ketika nyemplung ke air. Sebaliknya... orang desa yg tanpa teori, tetapi nyemplung duluan sambil belajar, maka dia akan bisa berenang.. meskipun akan sulit jadi perenang hebat jika belajar berhenti sampai disitu. Dalam soal nikah, terlalu banyak romansa didalamnya yang hanya bisa dirasakan, tetapi sulit diteorikan. Itulah kenapa Rasulullah sampai menyampaikan bahwa nikah adalah setengah Din"
Yup, tulisan beliau, sepertinya sudah mewakili untuk tulisan ini, tapi ijinkan saya sedikit saja berbicara mengenai hal ini dan mohon koreksi jika ada salah dari saya.
Sudah banyak buku yang mengupas hal-hal pernikahan, buku-buku tersebut tidak hanya menyampaikan hal-hal indah dalam pernikahan dan kehidupan rumah tangga tapi juga problematika yang mungkin akan muncul setelah menikah dan memulai kehidupan berumah tangga. Kalau begitu apakah teori dalam pernikahan itu perlu?
Jelas teori itu tetap diperlukan, paling tidak teori-teori dasar tentang pernikahan dan hidup berumah tangga, sehingga ketika memulai kehidupan yang baru kita tidak terlalu kaget dengan hal-hal yang menjadi problem dalam kehidupan berumah tangga. Namun jangan terlalu asyik dalam berteori sehingga lupa untuk mempraktekkan teori yang sudah dipelajari, seperti ilustrasi yang digambarkan diatas. Ketika kita belajar teori tentang berenang maka kita tidak bisa mengatakan bahwa berenang itu mengasyikkan, dan juga kita tidak dapat mengatakan berenang itu menyehatkan hanya dengan membaca teorinya, sebelum kita benar-benar mempraktekkan berenang dan merasakan manfaatnya. Oleh karena itu ketika orang sudah mengatakan siap untuk menikah salah satu kesiapannya adalah pengetahuan akan hal-hal dasar (minimal) mengenai pernikahan (teori), selain kesiapan mental akan amanah dan tanggung jawabnya sebagai suami nantinya, dan juga kesiapan dalam hal finansial. Jadi sudah seharusnya antara teori dan praktek berjalan beriringan.
tidak juga, disini kita akan bicara sedikit antara teori dan praktek dalam pernikahan. Kok sedikit? ya iyalah, lha yang nulis kan belum menikah, jadi hanya bisa cerita sedikit dari sisi kalangan akademisi (maksudnya kalangan yang bergelut dengan teori-teori), ^_^.
Oke, tulisan ini terinspirasi dari sebuah topik di forum diskusi (Forum Sholahudin), salah seorang member (pak A-HA), beliau menuliskan di topik tersebut seperti ini "Dalam teori vs praktek.... nikah itu sama dengan berenang. Meskipun antum belajar berenang dengan 10 buku tebal, tetapi nggak pernah nyemplung ke air... insya Allah antum tenggelam ketika nyemplung ke air. Sebaliknya... orang desa yg tanpa teori, tetapi nyemplung duluan sambil belajar, maka dia akan bisa berenang.. meskipun akan sulit jadi perenang hebat jika belajar berhenti sampai disitu. Dalam soal nikah, terlalu banyak romansa didalamnya yang hanya bisa dirasakan, tetapi sulit diteorikan. Itulah kenapa Rasulullah sampai menyampaikan bahwa nikah adalah setengah Din"
Yup, tulisan beliau, sepertinya sudah mewakili untuk tulisan ini, tapi ijinkan saya sedikit saja berbicara mengenai hal ini dan mohon koreksi jika ada salah dari saya.
Sudah banyak buku yang mengupas hal-hal pernikahan, buku-buku tersebut tidak hanya menyampaikan hal-hal indah dalam pernikahan dan kehidupan rumah tangga tapi juga problematika yang mungkin akan muncul setelah menikah dan memulai kehidupan berumah tangga. Kalau begitu apakah teori dalam pernikahan itu perlu?
Jelas teori itu tetap diperlukan, paling tidak teori-teori dasar tentang pernikahan dan hidup berumah tangga, sehingga ketika memulai kehidupan yang baru kita tidak terlalu kaget dengan hal-hal yang menjadi problem dalam kehidupan berumah tangga. Namun jangan terlalu asyik dalam berteori sehingga lupa untuk mempraktekkan teori yang sudah dipelajari, seperti ilustrasi yang digambarkan diatas. Ketika kita belajar teori tentang berenang maka kita tidak bisa mengatakan bahwa berenang itu mengasyikkan, dan juga kita tidak dapat mengatakan berenang itu menyehatkan hanya dengan membaca teorinya, sebelum kita benar-benar mempraktekkan berenang dan merasakan manfaatnya. Oleh karena itu ketika orang sudah mengatakan siap untuk menikah salah satu kesiapannya adalah pengetahuan akan hal-hal dasar (minimal) mengenai pernikahan (teori), selain kesiapan mental akan amanah dan tanggung jawabnya sebagai suami nantinya, dan juga kesiapan dalam hal finansial. Jadi sudah seharusnya antara teori dan praktek berjalan beriringan.
Rabu, 24 Juni 2009
Hingga ujung Usia
Waktu terus berganti
melibas segala yang terlewati
tinggalkan masa-masa penuh arti
di dalam bilik-bilik ruang hati
Kini masih di tepian dermaga ku berdiri
menatap cakrawala samudera kehidupan ini
bertemankan hembusan angin kerinduan dalam hati
ku kan tetap menanti
Ku coba bertahan lewati semua ini
dengan keikhlasan dan kesabaran diri
ku kan coba tuk menanti ,mencari dan mencari
hingga kau kutemukan duhai bidadari hati
Namun waktu tak pernah mau kompromi
perlahan tapi pasti usia menggerogoti diri
hingga ku masih bertemankan sepi dan sendiri
namun ku tak pernah merasa sepi
karena Alloh selalu di sisi
Dialah kekasih yang Sejati
Cinta-Nya adalah cinta yang hakiki
Hingga ujung usia
ku kan menanti
dengan keimanan dihati
kurasakan bahagia dalam diri
melibas segala yang terlewati
tinggalkan masa-masa penuh arti
di dalam bilik-bilik ruang hati
Kini masih di tepian dermaga ku berdiri
menatap cakrawala samudera kehidupan ini
bertemankan hembusan angin kerinduan dalam hati
ku kan tetap menanti
Ku coba bertahan lewati semua ini
dengan keikhlasan dan kesabaran diri
ku kan coba tuk menanti ,mencari dan mencari
hingga kau kutemukan duhai bidadari hati
Namun waktu tak pernah mau kompromi
perlahan tapi pasti usia menggerogoti diri
hingga ku masih bertemankan sepi dan sendiri
namun ku tak pernah merasa sepi
karena Alloh selalu di sisi
Dialah kekasih yang Sejati
Cinta-Nya adalah cinta yang hakiki
Hingga ujung usia
ku kan menanti
dengan keimanan dihati
kurasakan bahagia dalam diri
Langganan:
Postingan (Atom)