Jumat, 06 Maret 2009

TERIMALAH AKU APA ADANYA


Di bawah naungan ajaran Islam, pernikahan sepasang insan suami istri menjalani hidup mereka dalam satu perasaan, menyatunya hati dan cita-cita. Namun adakalanya pernikahan harus berjalan di atas kerikil. Apalagi saat pandangan mulai berbeda, tujuan tak lagi sama. Mempertahankan keutuhan dan keharmonisan rumah tangga terasa tak lagi mudah. Di mata kita pasangan selalu serba salah dan penuh kekurangan.

Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan. Karenanya Islam menganjurkan, sebab nikah merupakan gharizah insaniyah. Sebagaimana Allah berfirman,“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Ar-Ruum : 30).Islam memberi penghargaan tinggi pada pernikahan dan Allah menyebutnya sebagai ikatan yang kuat. Dalam al-Quran surat An Nisaa : 21“… dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”.
Demikian agungnya ikatan pernikahan hingga sebanding dengan separuh agama. Begitulah, keputusan dua insan berbeda untuk menikah tentunya dengan pertimbangan matang, faham dan tahu tujuan dari pernikahan. Mengerti betul perbedaan akan disatukan dalam perkawinan. Hingga pemahaman-pemahaman dari ini diharapkan akan membawa pada keharmonisan dan kelangsungan pernikahan pada keabadian. Pernikahan adalah bangunan yang bertiang Adam dan Hawa yang membangun kecintaan dan kerjasama, penuh mawadah, ketenteraman, pengorbanan, dan juga hubungan rohani yang mulia dan keterikatan jasad yang disyariatkan.“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (Ar-Ruum :21). Ayat ini merupakan pondasi kehidupan yang diliputi suasana perasaan yang demikian sejuk. Istri ibarat tempat bernaung bagi suami setelah seharian bekerja keras. Penghiburnya di saat lelah. Suasana rumah yang penuh belas kasih hingga menumbuhkan ketenteraman. Sebaliknya suami yang baik akan memberikan timbal balik yang sama. Suami sebagai pemimpin rumahnya dengan bantuan dan dukungan istri akan bertindak sebijaksana mungkin mengatur rumah tangganya tanpa harus bersikap otoriter. Dan jika tugas suami istri berjalan seimbang maka akan memberi ketenteraman dan kemantapan dalam hubungan suami istri. Dan anak-anak yang tumbuh dalam “lembaga” yang bersih ini akan tumbuh dengan baik. Sebab individu yang bernaung di dalamnya tahu hak dan kewajibannya sebagaimana sabda Rasulullah n,“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.” Maka tak heran kalau keluarga harmonis yang saking penuh mawadah warahmah akan mudah diwujudkan. Insyaallah.

Hak dan kewajiban suami istri.

Kesan terbaik yang tertangkap dari rumah tangga Nabawi adalah terjaganya hak dan kewajiban dalam hubungan suami istri. Bahkan hak itu tetap diperoleh Khadijah dari Rasulullah meski Khadijah telah wafat hingga membuat Aisyah cemburu. Padahal Aisyah tak pernah berjumpa dengannya. Hal itu semua karena Rasulullah sering mengingat kebaikan dan jasanya. Keharmonisan dalam rumah tangga akan dengan sendirinya terwujud jika pihak suami atau istri tahu hak dan kewajiban masing-masing. Rasa kasih dan sayang sebagai fitrah Allah di antara pasangan suami dan istri akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan pada keduanya. Sebaliknya, akan berkurang seiring menurunnya kebaikan pada keduanya. Sebab secara alami, jiwa mencintai orang yang memperlakukannya dengan berbuat baik dan memuaskan untuknya, termasuk melaksanakan hak dan kewajiban suami istri. Suami memiliki hak yang besar atas istrinya. Di antara hak itu misalnya: Menjaga kehormatan dan harga dirinya, mengurusi anak-anak, rumah dan hartanya saat suami tak ada di sisinya. Allah berfirman :“….. wanita yang shalihah adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri saat suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara mereka…… “ (An Nisa: 34).Dalam haditsnya Rasulullah bersabda,“Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya.” (Riwayat Bukhari Muslim).Berpenampilan menyenangkan di depan suami dan bersikap manis. Sebagaimana Rasulullah bersabda,“Sebaik-baik wanita adalah yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, menaatimu saat engkau perintah dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.” (Riwayat Tabrani), Hak lain suami adalah tidak mengizinkan istri memasukan orang yang dibenci suami, menjaga rahasia suami istri termasuk dalam urusan ranjang, berusaha menjaga kelanggengan bahtera rumah tangga, tidak meminta cerai tanpa sebab syar’i. Dari Tsauban, Rasulullah berkata, “wanita manapun yang minta cerai kepada suami tanpa sebab, maka haram baginya mencium bau surga”. (Riwayat Tirmidzi, Abu Daud). Selain itu istri harus banyak bersyukur dan tidak banyak menuntut. Perintah ini sangat ditekankan Islam, bahkan ancaman Allah tak akan melihatnya pada hari kiamat kelak jika istri berbuat demikian. “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup)”

Masih banyak hak-hak suami atas istrinya. Di samping itu suami pun harus memberikan hak istrinya serta menjalankan kewajibannya. Di antaranya adalah memberi makan pada istri apabila ia makan, memberikannya pakaian, tidak memukul wajah istri, tidak menjelek-jelekkan kekurangannya, tidak meninggalkan istri melainkan di dalam rumah, memperlakukan dengan lembut dan menggaulinya dengan baik. Selain suami memiliki kewajiban memberi nafkah lahir batin, suami berkewajiban mengajarkan ilmu agama apalagi ia memegang kepemimpinan dalam rumah tangga. Hingga ia pun wajib membekali diri dengan ilmu yang syar’i, dengan demikian ia akan mampu membawa keluarganya, istri dan anaknya dalam kebaikan. Jika ia tidak sanggup, mengajar mereka, suami harus mengajak mereka menuntut ilmu syar’i bersama ataupun menghadiri majelis-majelis ilmu. Suami pun harus memberi teladan baik dalam mengemban tanggung jawabnya dan atas apa yang dipimpinnya.

Menerima Kekurangan dan Kelebihan

Kita melihat bagaimana al-Qur’an membangkitkan pada diri masing-masing pasangan suami istri suatu perasaan bahwa masing-masing mereka saling membutuhkan satu sama lain dan saling menyempurnakan kekurangan. Ibaratnya wanita laksana ranting dari laki-laki dan laki-laki adalah akar bagi wanita. Karena itu akar selalu membutuhkan ranting dan ranting selalu membutuhkan akar. Sebagaimana firman Allah dalam al-A’raf 189, “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.”Karena itu, pernikahan tak hanya menyatukan dua manusia berbeda tapi juga menyatukan dua perbedaan, kelebihan dan kekurangan sepasang anak manusia. Dimana masing-masing akan saling mengisi dan melengkapi kekurangan satu dengan yang lain. Sementara menjadikan kelebihan masing-masing untuk merealisasikan cita-cita pernikahan sesungguhnya.“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al Baqarah : 187). Dengan memahami hal ini, kehidupan rumah tangga akan tenteram. Dan tenang berlayar, sangat mustahil ditemukan sepasang suami istri yang sempurna segala sesuatunya. Yang bisa dilakukan adalah dengan jalan saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Menerima apa adanya kekurangan atau kelebihan pasangan. Tidak membandingkan pasangan kita dengan yang lain. Karena hal-hal seperti ini tidak akan membuat nyaman hubungan namun hanya akan menjadikan kita makin sensitif dengan segala perbedaan. Dan sekali lagi memaafkan semua kekurangan pasangan adalah lebih baik. Hargailah segala kelebihannya. Dan berterima kasihlah atas semua yang telah dikerjakan dan diberikan pasangan pada kita. Insyaallah ini akan membuat makin manisnya hubungan dengan pasangan. Mungkin ada hal-hal yang tak kita sukai pada pasangan kita, namun bukanlah masih ada hal-hal baik yang kita sukai dan lihat ada padanya? Kita harus bijaksana menyikapi hal ini. Kita tak perlu berpura-pura dan menutupi kekurangan kita hanya karena takut tak sempurna di hadapan si dia. Karena bisa saja justru hal ini akan menyeret kita pada hal-hal berbahaya. Moralnya saja dengan berbohong menjanjikan ini dan itu serta janji setinggi langit. Padahal kita tahu tak akan bisa memenuhinya. Jika pasangan tahu tentu ia akan marah dan jengkel hingga membuahkan pertengkaran dan hal-hal buruk lain. Bukanlah lebih baik kita selalu tampil apa adanya, karena itu tak akan membebani kita ?

Sungguh, jika si dia benar-benar mencintai kita tentu dia akan menerima kita apa adanya. Mau menerima kekurangan dan kelebihan kita. Tanpa basa-basi. Yang perlu diingat kita selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, semampu kita. Insyaallah di rumah kita.

ummu fatimah ahmad
www.majalah-nikah.com

Rabu, 25 Februari 2009

Muhasabah Diri....

Ya Alloh....
entah kenapa hari ini ada perasaan tak menentu dihati, ada perasaan yang tak mengenakkan di hati ini. Pikiranku langsung menuju ke rumah di kampung, apakah ada sesuatu yang terjadi disana? Kucoba menelpon HP ibuku, namun ta ada jawaban, lalu kucoba menelpon adik pertamaku, sama, tidak ada jawaban, begitu juga dengan adik kedua, sampai akhirnya ku telpon ke nomor rumah, Alhamdulillah diangkat dan setelah kutanyakan apakah semuanya sehat, ibuku menjawab semua dalam keadaan sehat.
Alhamdulillah Ya Alloh....

Namun apa yang menjadikan hati ini serasa berbeda suasananya dengan hari-hari kemarin?
Ku hanya bisa berdzikir menyebut nama-Nya, yang membuatku lebih tenang dari sebelumnya...
Ya Alloh....
Ada apa ini...
serasa ingin tertumpah air mata ini dengan kondisiku kini.
sejenak kuhela nafas panjang, lantas rasa syukur muncul di hati, bahwa Alloh masih memberiku kesempatan untuk bernafas, dan artinya masih ada kesempatan buatku untuk bertobat dan memperbaiki diri. Lalu sepintas melintas dalam pikirku, bagaimana kalau jatah hidupku hanya sampai hari ini?
Ya Alloh...
dosaku masih terlalu banyak dibanding amalku, penghambaanku pada-Mu,
masih banyak amanah yang belum tertunaikan...
ijinkan ku Ya Alloh tuk meminta maaf kepada orang yang pernah kudzolimi
ampuni aku Ya Alloh, berikan kesempatan padaku untuk bertobat....

Mengapa ada rasa yang ku pun tak tahu apa namanya menyelinap di hati?
Sendiri di kota besar, jauh dari keluarga, apakah itu yang buat suasana hatiku jadi tak menentu?
Ataukah ku sedang berada pada titik jemu dengan rutinitas harianku?

Ya Alloh...
saat kuliah kutemukan kedekatanku dengan-Mu, masih terngiang dalam ingatanku, begitu syahdunya malam-malam ketika itu, di masjid yang sederhana, yang menjadi bagian dalam kisah hidupku, dalam kesunyian malam, ku bersimpuh memohon ampunan-Mu, meleleh air mata ini mengingat begitu banyak nikmat dari-Mu, namun banyak juga ku bermaksiat terhadap-Mu. Namun kini ketika kehidupanku menjadi lebih baik, diri ini justru merasa menjauh dari-Mu, malam-malamku kini tak syahdu seperti dulu, rasa capek dan kantuk mendominasi malam-malamku, mengalahkan keinginan untuk bersimpuh memohon ampunan-Mu.
bukankah memang dunia inilah tempat kita capek, tempat kita berjuang?
kalau ingin santai, nanti di surga, begitu bukan?
Ehm...
sudah tahu seperti itu namun mengapa diri ini masih seperti ini, gerutuku dalam hati.

Sepanjang hari ini memang tawa dan canda menghiasi, namun entah kenapa menjelang ashar tadi hatiku seperti ini....
Apakah titik noda maksiat di hatiku telah menutupi cahaya lentera hati?
Lama ku merenung, mencari tahu apa yang sedang terjadi pada diriku, sampai-sampai pekerjaanku agak terbengkalai....

Ya Alloh....
Ampuni hamba-Mu yang hina ini
Ampuni dosa-dosaku
baik yang kusengaja ataupu yang tak kusengaja
baik yang terang-terangan ataupun yang tersembunyi
baik yang kuketahui ataupun yang tak kuketahui

Ya Alloh...
kepada siapa ku kan mengadu selain kepada-Mu
ketika jauh dari keluarga
ketika teman-temanku sudah hidup dalam dunia mereka....

ku coba menyunggingkan senyum tuk mengurangi kegalauan di hati ini...
namun senyum ku terasa hambar....

Alhamdulillah sedikit ada rasa lega ketika kesejukan air wudhu membasuh tubuh ini, dan ketika ku bertakbir, melakukan kewajibanku sebagai hamba, kurasakan memanas mata ini, ingin rasanya menunmpakan air mata yang telah lama tertahan, namun entah mengapa sulit meluncur air mata ini, apakah karena egoku? rasa malu ku? atau kemunafikan ku?

Ehm...
kembali kuhela nafas panjang....
kubiarkan sinergi jemari dan pikir ini bekerja, mencari dan menyusun kata yang melukiskan suasana hatiku ini....
perlahan menyusuri barisan kata-kata, menyeleksi kata yang menggambarkan suasana hati,
ingin ku menangis dan berteriak untuk menghempaskan beban di jiwa, namun tak kuasa ku lakukannya...
tulisan adalah cara lain untuk menghempaskan beban ini, terlalu panjang jika kulukiskan suasana hati ini dengan tulisan, namun paling tidak dengan tulisan sederhana ini kuharap bisa mengurangi beban ini...
Ya Alloh Dzat Yang Maha Perkasa
kuatkanlah hamba-Mu dalam menempuh jalan menuju ampunan, ridho dan surga-Mu
Ya Alloh Ya Rohman Ya Rohiim...
nikmat-Mu terus kurasa, walaupun banyak ku berdosa....
Ya Alloh jadikan ku hamba-Mu yang pandai bersyukur.....
Matikanlah hamba dalam keadaan muslim...
Karuniakanlah kepadaku khusnul khotimah...

Aamiin...



Jakarta, 25022009, 17.30....

Untukmu Bidadari Hatiku....

Aku adalah aku…
Aku hanyalah insan biasa
Aku hanyalah manusia yang lemah dan hina
Yang tak pernah luput dari salah dan dosa
Tak terhitung tebalnya daki-daki dosa yang melumuri diri
Adakah cukup airmata ini
Tertumpah menyesali khilaf diri
Namun ku tak kan lelah memohon ampunan-Mu ilahi robbi

Aku bukanlah seorang penyair…
Yang dapat menyusun kata menjadi indahnya puisi
Ku hanyalah seorang insan yang sedang mencari arti
Di balik puisi kehidupan ini
Aku suka bermimpi…
Namun ku tak mau hanya menjadi seorang pemimpi
Ku ingin impian mewujud nyata
Dengan rahmat-Mu ya Alloh, doa dan usaha
Aku bukanlah seorang pujangga…
Yang dapat melukiskan indahnya cinta dengan kata
Ku hanya ingin berikan keindahan cinta
Kepada Bidadari hati yang bersedia menerima
Dalam ikatan suci kita hidup bersama


Ku sadar…
Ku tak seperti yang kau harap duhai bidadari hatiku
Namun ku kan berusaha tetap menjaga dan melindungimu
Ku kan berusaha tuk terus membahagiakanmu
Karena kaulah tulang rusukku yang selama ini kucari
Yang kan lengkapi diri ini
Kaulah yang kelak kan temaniku nahkodai bahtera ini
Dengan layar cinta dan hembusan angin kasih sayang
Kita arungi luasnya samudera kehidupan menuju keridhoan ilahi robbi

Ku sadar…
Kan kita jumpai riak-riak, gelombang dan tak jarang badai kehidupan menghantam bahtera ini
Itulah kehidupan duhai bidadariku, akan ada ujian yang kan selalu mengiringi
Namun dengan keteguhan cinta, kesabaran dan kelapangan dada
Yang bernaung dibawah barokah dan ridho ilahi
Harapku kan dapat kita lalui ujian ini…

Ujian bukanlah musuh kehidupan,
Ujian membawa hidup menuju kedewasaan…
Duhai bidadari hatiku
Tunggulah diri ini melabuhkan cinta di dermaga hatimu…

Selasa, 24 Februari 2009

Rembulan hati...

Kelam terasa langit malam ini,
Tiada rembulan yang menghiasi,
Begitupun adanya langit hati,
Kelam jualah yang terasai,
Inginku tersinari cahayamu rembulan hati,
Yang kan buat hidupku lebih berarti,


Haruskah kulari agar kudapat miliki cahayamu duhai rembulan hati?
Ataukah kutunggui sampai kau muncul dengan binar kilaumu?
Kini ku terpenjara dalam sepi,
Dibalik jeruji kesunyian hati,
Yang entah kapan harus kuakhiri…


Namun ku tak kan berhenti bermimpi,
Tuk keluar dari sepi dan sunyi ini,
Ku tak kan lelah tuk berlari,
Agar dapat kunikmati,
Kilau cahayamu duhai rembulan hati…

(Terinspirasi dr nasyid ‘rembulan di langit hatiku’ by seismic…)

Senin, 23 Februari 2009

Ketika sepi menyapa diri...

Kala senja menyapa sore itu
terasa sesuatu bergejolak di dalam jiwa
suasana hati jadi tak menentu
ku bertanya mengapa, namun tak kutemui jawabannya

Kupandang langit diluaran sana
mendung dan rintik hujan menghiasi
Kucoba meraba sisi dalam hati
berhiaskah mendung didalamnya?
tetap tak kutemui jawabannya

Kala lelah ku bertanya
muncul di lubuk hati
kesepian dan kesendirian telah menghuni
menghadirkan kerinduan yang tak terperi

dan kusadari kini
kesepian dan kesendirian
membuat ku masih terduduk menanti disini
entah bertahan sampai kapan

Merindu ku...
akan rasamu
Menanti ku...
akan hadirmu
Mengharap ku...
akan kasihmu

Kemanakah harus kucari
Cintamu duhai bidadari hati
Yang terus menggelayut dalam pikir ini
yang kan mengisi salah satu sudut ruang hati

Ingin ku berlari
mengejar cahaya cintamu
namun kemana harus kulangkahkan kaki
kala nampak samar bayangmu

dengan kesabaran dalam hati
ku kan terus menanti
hadirmu bidadari hati
bersama kita gapai keridhoan ilahi rabbi....

Ni die hasil jepretan di kawah putih...

ni die kawah putihnye, sayang pas nyampe sono kabutnya dah mulai turun, so kagak bisa melihat keindahan seluruh kawah...
Disana ada tempat buat duduk-duduk juga lho....
mejeng dulu dah, di lokasi kawah hehehe (narsis mode on)....
kawah yang tertutup kabut....
ni area parkir di deket kawah, ternyata kagak cuman plat B doank, plat D juga banyak lho....

ketika anda akan ke Situ Patenggang akan disuguhi pemandangan kebun teh yang manteb abis....
cakep coy....
Subhanalloh....