Kapan nikah?
Pertanyaan yang tak jarang keluar dari orang-orang terdekat. Saya akui langsung ataupun tak langsung kondisi lingkungan dan pergaulan sangat berpengaruh kepada timbulnya keinginan untuk menikah, seperti misalnya, diri yang sudah berpenghasilan dan cukup untuk menghidupi keluarga nantinya, teman sejawat yang satu per satu melepas masa lajangnya, teman kantor yang sebagian besar sudah berkeluarga sehingga klo ngobrolin masalah keluarga mau ta mau kita ikutan nimbrung, dan "kompor" yang apinya ta henti-henti terus berkobar, dan masih banyak lagi kondisi yang memicu timbulnya keinginan kuat untuk segera menggenapkan setengah Agama ini"
Ketika kita sudah siap untuk menikah, dan ada orang yang bilang "kamu masih terlalu muda untuk menikah", maka umur bukanlah standar baku dalam memandang seseorang apakah sudah layak dan siap menikah atau belum, karena ada orang yang umurnya masih muda namun dia berpikiran dewasa, begitu juga sebaliknya ada orang yang sudah bisa dikatakan berumur namun pola pikirnya masih kekanak-kanakan. Tak hanya itu, tak jarang juga ada ungkapan di masyrakat kita bahwa, kalau menikah itu dapat menghambat studi, juga perhatian terhadap orang tua bisa berkurang dan nikah itu jangan hanya dilihat enaknya saja, akan ada timbul masalah ketika sudah menikah. Mari kita coba telisik satu per satu apa yang dikhawatirkan sebagian orang sebagaimana tersebut di atas tadi.
Pertama, menikah dapat menghambat studi, Ustadz Fauzil Adhim dalam taushiyahnya mengatakan, bahwa berapa banyak orang yang menunda menikah padahal ia sudah mampu untuk menikah dan mendahulukan studi, prestasinya tidak begitu luar biasa,cenderung biasa-bisa saja dan banyak juga orang yang mendahulukan menikah dan melanjutkan studi prestasi mereka malah luar biasa. Jadi studi bukanlah alasan untuk menunda pernikahan jika memang kita sudah mampu untuk menikah. Semua tergantung kepada orang yang menjalaninya, namun bagi saya dan beberapa orang, ini adalah merupakan tantangan untuk menunjukkan bahwa dengan mendahulukan menikah prestasi studi kita pun dapat menjadi luar biasa.
Kedua, perhatian kepada orang tua akan berkurang, untuk hal ini, tak dipungkiri ketika menikah maka akan ada istri dan anak-anak kita nantinya yang menuntut perhatian dari kita, namun birul walidain tetap akan berlaku sampai kapanpun, tidak ada seorang anakpun yang tak ingin membahagiakan orang tuanya, bahkan ketika menikah saya yakin kita akan terus berusaha untuk membahagiakan orang tua kita, karena ridho merekalah salah satu tiket kita menuju surga-Nya Alloh Subhanahu wa ta’ala. Untuk masalah ini, yang terpenting adalah komunikasi kita dengan anak, istri dan orang tua kita, yang dibarengi dengan sikap saling menghormati dan pengertian satu sama lain, InsyaAlloh hal ini tidak akan menjadi masalah yang besar.
Ketiga, akan timbul masalah ketika menikah, hal ini pun merupakan hal yang akan terjadi dalam suatu kehidupan rumah tangga, namun sekali lagi, masalah didepan bukanlah hambatan kita untuk melangkah menuju mahligai suci pernikahan. Ada teman berucap “Soal masalah, adakah pilihan tanpa masalah di dunia ini? Pilihannya adalah pilihan mana yg masalahnya paling ringan”, ya hidup adalah pilihan, antara yang baik atau yang buruk, taat ataupun maksiat. Begitu juga dengan masalah, ada masalah yang ringan atau berat. Ketika kita memutuskan untuk menunda pernikahan padahal kita sudah mampu dan siap, sedangkan kita hidup di tengah gelombang hidup yang sekarang semakin dahsyat dengan fitnah-fitnah, dan diumbarnya aurat seperti sekarang ini, maka masalahnya akan semakin besar jika kita tetap menunda pernikahan. Namun jika kita menyegerakan untuk menikah maka sebagimana yang disabdakan Rasululloh SAW bahwa “menikah itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan”, sekarang tergantung kita kan memilih pilihan yang mana dengan memperhatikan resiko permasalahan paling ringan ataukah paling berat.
Pembicaraan kita tentang hal ini tidak berhenti hanya disitu, yang berikutnya adalah soal kesiapan untuk menikah, seperti apa sebenarnya seseorang siap untuk menikah? Berhubungan dengan hal ini seorang teman pernah berujarSiap itu, jika ada kesiapan dari hati menerima segala resiko pernikahan , manis maupun pahit getirnya yang akan dihadapi, ada kesiapan diri untuk memikul segala resiko pernikahan dengan amanah-amanah dan tanggung jawab jika sudah berkeluarga, toh nikah nanti atau nikah sekarang kita juga tetep mau nikah kan, dan tanggung jawab itupun mau tak mau akan menggelayut di pundak kita”
. Ya, keisapan hati, dan kemantapan langkah yang didapat dari istikhoroh kita memohon dan bermunajat di sepertiga malam yang terakhir agar ditunjukan yang terbaik oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala. Namun begitu kesiapan fisik dan finasial juga tak dapat dikesampingkan, kesiapan ini pun perlu kita pikirkan. Untuk kesiapan fisik saya yakin banyak diantara kita sudah siap untuk menikah, sedangkan untuk kesiapan finansial, ustadz Fauzil Adhim pernah menyinggung masalah ini, menurut beliau yang terpenting bukanlah kita mendapatkan pekerjaan tetap, namun bagaimana kita tetap bekerja. Okelah itu jika kita sudah menikah, lalu jika ada masalah finansial ketika akan menikah bagaimana? Untuk hal ini tergantung kita, apakah ingin menyelenggarakan pernikahan secara sedehana atau mewah. Ingatlah ketika Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Q.S An-Nur 32 mengenai hal ini :
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui."
InsyaAlloh jika azzam kita sudah kuat, dan niat sudah kita luruskan, serta ikhtiar kita maksimalkan maka pertolongan Alloh Subhanahu wa ta'ala akan datang.
Sekali lagi hidup adalah pilihan saudaraku, sekarang tergantung kepada kita apakah akan tetap menunda pernikahan padahal kita telah mampu untuk menikah di tengah godaan dunia yang semakin mengerikan dimana, fitnah-fitnah bertebaran disana-sini, aurat juga dengan mudahnya diumbar, serta pornografi dan pornoaksi yang marak dapat kita jumpai di internet, media elektronik, media cetak dan bahkan di lingkungan sekitar kita, atau kita memilih untuk menyegerakan menikah agar pandangan dan kemaluan kita dapat terjagaMenikahlah dan ketenangan itupun akan hinggap di hatimu !!!
Wallohu a’lam.
kala lisan tak mampu mengucapkan... biarlah jemari yang menuliskan... agar tiada menjadi beban... agar hati tiada diliputi kebimbangan...
Senin, 19 Januari 2009
Rabu, 10 Desember 2008
Lembayung Senja
Berdiri ku disini…
Di tepian kesunyian hati…
Menatap jauh perjalanan hidup yang kan kulalui…
Bertemankan sepi diri.…
Yang entah kapan harus ku akhiri…
Berharap rindu ini bermuara di samudera hati…
Bersama arungi hari-hari…
Berdamping sang bidadari hati…
Mengaharap ridho sang ilahi…
Kusadar jalan terjal penuh aral kan menjumpai…
Namun tak ingin langkahku terhenti…
Ku tak ingin lelah tuk langkahkan kaki…
Melangkah tuk menjemput asa dan mimpi…
Tuk wujudkan niatan suci dalam hati…
Kini masih ku berdiri disini…
Terpaku dalam diam diri…
Menanti wujud niatan suci…
Hingga lembayung senja pun memayungi diri…
Di garis cakrawala hati…
Hingga sang malam menyambangi
Disinari terangnya cahaya Ilahi
Ku menanti…
Di tepian kesunyian hati…
Menatap jauh perjalanan hidup yang kan kulalui…
Bertemankan sepi diri.…
Yang entah kapan harus ku akhiri…
Berharap rindu ini bermuara di samudera hati…
Bersama arungi hari-hari…
Berdamping sang bidadari hati…
Mengaharap ridho sang ilahi…
Kusadar jalan terjal penuh aral kan menjumpai…
Namun tak ingin langkahku terhenti…
Ku tak ingin lelah tuk langkahkan kaki…
Melangkah tuk menjemput asa dan mimpi…
Tuk wujudkan niatan suci dalam hati…
Kini masih ku berdiri disini…
Terpaku dalam diam diri…
Menanti wujud niatan suci…
Hingga lembayung senja pun memayungi diri…
Di garis cakrawala hati…
Hingga sang malam menyambangi
Disinari terangnya cahaya Ilahi
Ku menanti…
Penantian…..
Dalam penatian
ku tak ingin larut dalam
kesedihan…
Dalam penantian
ku coba bertahan menghadapi
godaan…
Dalam penantian
ku mencoba bertahan dan bersabar
menghadapi segala ujian…
Dalam penantian
ku tak ingin tertahan karena
hidup harus terus berjalan…
Dalam penantian
ku coba meredam kerinduan…
Dalam penantian
ku coba tuk terus merangkai
impian…
Dalam penantian
ku harapkan suatu pengertian…
Dalam penantian
ku mohon dada ini diberi
kelapangan…
Dalam penatian
perbaikan diri sangat kuharapkan…
Dalam penantian
ku belajar kebijaksanaan…
Dalam penantian
ku ingin tetap dalam keistiqomahan…
Dalam penantian
ku mohon ampunan atas semua
kekhilafan…
Dalam penatian
ku inginkan bertambah kedekatan
dengan-Mu Tuhan…
Dalam penantian
ku menunggu saat yang kuharapkan…
Saat ketika bidadari hati
mendampingi diri menjalani hari-hari…
Bersama samudra hidup kita arungi…
Dibawah naungan ridho Ilahi…
ku tak ingin larut dalam
kesedihan…
Dalam penantian
ku coba bertahan menghadapi
godaan…
Dalam penantian
ku mencoba bertahan dan bersabar
menghadapi segala ujian…
Dalam penantian
ku tak ingin tertahan karena
hidup harus terus berjalan…
Dalam penantian
ku coba meredam kerinduan…
Dalam penantian
ku coba tuk terus merangkai
impian…
Dalam penantian
ku harapkan suatu pengertian…
Dalam penantian
ku mohon dada ini diberi
kelapangan…
Dalam penatian
perbaikan diri sangat kuharapkan…
Dalam penantian
ku belajar kebijaksanaan…
Dalam penantian
ku ingin tetap dalam keistiqomahan…
Dalam penantian
ku mohon ampunan atas semua
kekhilafan…
Dalam penatian
ku inginkan bertambah kedekatan
dengan-Mu Tuhan…
Dalam penantian
ku menunggu saat yang kuharapkan…
Saat ketika bidadari hati
mendampingi diri menjalani hari-hari…
Bersama samudra hidup kita arungi…
Dibawah naungan ridho Ilahi…
Selasa, 09 Desember 2008
Indahnya Pelangi Persahabatan Itu...
Pagi ketika kubuka email, selalu saja ada inbox yang masuk ke emailku ini, dan kebanyakan adalah email dari kawan-kawan yang dulu bersama berjuang menjemput asa di Jogja, berita sedih, bahagia itulah isi email kawan-kawanku, namun jangan ditanya mana yang lebih banyak porsinya, sudah pasti kabar bahagia adalah jawabannya. Terkadang tersenyum, bahkan sampai tertawa sendiri didepan komputer ketika kubaca isi dari email kawan-kawanku ini. Mengingat masa-masa kuliah dahulu selintas pikiranku melayang pada sebuah Novel yang telah menjadi Best Seller karya Andrea Hirata berjudul “Laskar Pelangi”. Sebuah novel yang didalamnya menceritakan tentang indahnya sebuah persahabatan, sehingga guru mereka pun memberi julukan kepada anak didiknya yang hanya berjumlah 10 orang itu sebagai “Laskar Pelangi”.
Pelangi....
sebuah fenomena alam yang indah, dan membuat mata siapapun yang memandangnya takjub akan kehadirannya...sebuah fenomena alam yang menunjukkan betapa Maha Kuasa dan Maha Besar Alloh subhanahu wa ta’ala.
Inilah mengapa bu Muslimah menyebut Ikal dan teman-temannya sebagai “Laskar Pelangi” dalam novel itu, karena memang tak dapat dipungkiri bahwa persahabatan itu indah seperti pelangi...
terdiri dari warna-warna yang berbeda namun mereka bersatu padu membentuk sebuah harmoni yang sungguh luar biasa di alam raya ini. Tak ubahnya kita yang terdiri dari berbagai orang dengan sifat, karakter dan warna yang berbeda dan begitu beragam pada masing-masing individunya. Banyakkah perbedaan yang ada? Tentu banyak, namun bukan banyaknya perbedaan itu membuat kita saling menjauh satu sama lain, tetapi perbedaan itulah yang semakin merekatkan kita dalam satu Cahaya Persahabatan yang berkilauan di sebuah kampus kecil bernama Balai Diklat Keuangan (BDK) III Jogjakarta, dan cahaya itu kini berpendar membentuk harmoni layaknya sebuah Pelangi. Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, mungkin itulah cerminan perbedaan dan keberagaman yang ada diantara kita. Namun, apa yang terlihat di atas langit sana dengan adanya perbedaan itu kawan?
Indah kawan, sungguh indah, sungguh menakjubkan dan sungguh mengagumkan...Sebuah pelangi dengan perbedaan warna yang ada didalamnya itu melengkung di langit atas sana, menciptakan suatu harmonisasi baru di luasnya sang mega...
Dan kini seperti halnya cahaya putih yang berpendar seperti pelangi, begitu pula Cahaya Persahabatan yang telah mulai bersinar di BDK III Jogjakarta, dia pun berpendar membentuk sebuah pelangi...ya, pelangi kawan, Pelangi Persahabatan. Pelangi yang muncul di langit kota Jogjakarta yang penuh kenangan dan kebersahajaan, Pelangi yang muncul diantara tawa riang dan tangis sendu kita, Pelangi yang kini telah menghiasi salah satu sudut langit hatiku. Indah kawan...sungguh indah....harapku pelangi itupun menghiasi sudut-sudut langit hati kalian.
Itulah kalian kawan, kalianlah pelangi yang muncul di BDK III Jogja itu, kalianlah Pelangi yang telah buat hidupku penuh dengan warna-warni....
Pelangi yang warna-warninya bangkitkan semangat positif.....
Pelangi yang warna-warninya buatku berusaha untuk terus menjadi pribadi yang baik dari hari ke hari...
Harapku janganlah kalian lupakan keindahan Pelangi yang terbentuk dari berpendarnya Cahaya Persahabatan Kita kawan...
Jika muncul Pelangi di luasnya mega, bayangkan kenangan akan senyum bahagia di raut wajah kawanmu, hingga senyum itu tebarkan warna-warni indah di langit hatimu seperti indahnya pelangi diangkasa sana...
Pelangi....
sebuah fenomena alam yang indah, dan membuat mata siapapun yang memandangnya takjub akan kehadirannya...sebuah fenomena alam yang menunjukkan betapa Maha Kuasa dan Maha Besar Alloh subhanahu wa ta’ala.
Inilah mengapa bu Muslimah menyebut Ikal dan teman-temannya sebagai “Laskar Pelangi” dalam novel itu, karena memang tak dapat dipungkiri bahwa persahabatan itu indah seperti pelangi...
terdiri dari warna-warna yang berbeda namun mereka bersatu padu membentuk sebuah harmoni yang sungguh luar biasa di alam raya ini. Tak ubahnya kita yang terdiri dari berbagai orang dengan sifat, karakter dan warna yang berbeda dan begitu beragam pada masing-masing individunya. Banyakkah perbedaan yang ada? Tentu banyak, namun bukan banyaknya perbedaan itu membuat kita saling menjauh satu sama lain, tetapi perbedaan itulah yang semakin merekatkan kita dalam satu Cahaya Persahabatan yang berkilauan di sebuah kampus kecil bernama Balai Diklat Keuangan (BDK) III Jogjakarta, dan cahaya itu kini berpendar membentuk harmoni layaknya sebuah Pelangi. Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, mungkin itulah cerminan perbedaan dan keberagaman yang ada diantara kita. Namun, apa yang terlihat di atas langit sana dengan adanya perbedaan itu kawan?
Indah kawan, sungguh indah, sungguh menakjubkan dan sungguh mengagumkan...Sebuah pelangi dengan perbedaan warna yang ada didalamnya itu melengkung di langit atas sana, menciptakan suatu harmonisasi baru di luasnya sang mega...
Dan kini seperti halnya cahaya putih yang berpendar seperti pelangi, begitu pula Cahaya Persahabatan yang telah mulai bersinar di BDK III Jogjakarta, dia pun berpendar membentuk sebuah pelangi...ya, pelangi kawan, Pelangi Persahabatan. Pelangi yang muncul di langit kota Jogjakarta yang penuh kenangan dan kebersahajaan, Pelangi yang muncul diantara tawa riang dan tangis sendu kita, Pelangi yang kini telah menghiasi salah satu sudut langit hatiku. Indah kawan...sungguh indah....harapku pelangi itupun menghiasi sudut-sudut langit hati kalian.
Itulah kalian kawan, kalianlah pelangi yang muncul di BDK III Jogja itu, kalianlah Pelangi yang telah buat hidupku penuh dengan warna-warni....
Pelangi yang warna-warninya bangkitkan semangat positif.....
Pelangi yang warna-warninya buatku berusaha untuk terus menjadi pribadi yang baik dari hari ke hari...
Harapku janganlah kalian lupakan keindahan Pelangi yang terbentuk dari berpendarnya Cahaya Persahabatan Kita kawan...
Jika muncul Pelangi di luasnya mega, bayangkan kenangan akan senyum bahagia di raut wajah kawanmu, hingga senyum itu tebarkan warna-warni indah di langit hatimu seperti indahnya pelangi diangkasa sana...
Jakarta, 9 Desember 2008 15.31 WIB
ketika kubaca email kalian dan tak sadar warna-warni indah sang pelangi itu muncul dengan anggunnya di langit hatiku...
teruntuk kawan-kawanku yang telah indahkan langit hatiku dengan keberagaman sifat dan tingkah kalian...
Senin, 01 Desember 2008
Ibu
Ibu...
Bagiku engkau adalah manusia yang istimewa
Walau ketika berada didekatmu seperti terasa biasa saja
Namun kini kusadari
Saat dekat denganmu adalah saat yang harus kuresapi
Ketika ku jauh darimu
Kusadari bahwa saat bersamamu adalah saat yang selalu kunanti
Ibu...
Kini ku jauh darimu
Tak setiap hari dapat kupandangi wajahmu
Tak setiap hari dapat kunikmati masakanmu
Tak setiap hari ku dapat bersua denganmu
Namun kuyakin doamu selalu menyertaiku
Ibu...
Saat pulang tuk bersamamu adalah saat yang selalu kutunggu
Bersama adik-adik kita berkumpul dirumah yang teduh
Rumah yang penuh cinta dan hangatnya kasih sayangmu
Ibu...
Banyak ulahku memancing kesalmu
Namun lebih banyak lagi maafmu untukku
Lebih banyak lelehan air matamu
Di sepertiga malam, memohon kepada Alloh yang terbaik untukku
Ibu...
Ketika ayah pergi meninggalkan dunia yang fana ini
Tak terbendung tangismu
Tangisan seorang istri yang kehilangan belahan jiwanya
Tangisan seorang istri yang kehilangan qowwam-nya
Tangisan seorang istri yang kehilangan ayah dari anak-anaknya
Namun kau tak terhanyut dalam kesedihan
Kau bangkit menjelma menjadi ibu yang berperan sebagai ayah
Kau banting tulang mencari nafkah untuk kami anak-anakmu
Ibu...
Maafkan anakmu ini
Yang terlalu sering buatmu menahan kesal di hati
Belum banyak hal dariku yang membuatmu bahagia
Namun satu hal yang tak pernah kulupa
Doaku semoga Alloh jadikanmu ahli surga-Nya
Ibu...
Kumohon ridhoilah anakmu ini
Hingga Alloh pun ridho terhadapku
Karena engkaulah salah satu jalanku menuju surga-Nya
Ya Alloh...
berilah umur panjang yang barokah kepada ibuku
hingga ia berkesempatan melihatku bersanding dengan bidadari hatiku
hingga ia berkesempatan menggendong anak-anakku
hingga ia berkesempatan berkunjung menjadi tamu-Mu di Baitulloh
Ya Alloh...
muliakanlah ibuku di dunia dan akhirat
ampuni segala dosa-dosanya
karuniakanlah kepadanya khusnul khotimah
kumpulkanlah keluargaku bersama dengan orang-orang yang beriman di surga-Mu
Aamiin...
Teruntuk ibuku yang paling kusayang....
Bagiku engkau adalah manusia yang istimewa
Walau ketika berada didekatmu seperti terasa biasa saja
Namun kini kusadari
Saat dekat denganmu adalah saat yang harus kuresapi
Ketika ku jauh darimu
Kusadari bahwa saat bersamamu adalah saat yang selalu kunanti
Ibu...
Kini ku jauh darimu
Tak setiap hari dapat kupandangi wajahmu
Tak setiap hari dapat kunikmati masakanmu
Tak setiap hari ku dapat bersua denganmu
Namun kuyakin doamu selalu menyertaiku
Ibu...
Saat pulang tuk bersamamu adalah saat yang selalu kutunggu
Bersama adik-adik kita berkumpul dirumah yang teduh
Rumah yang penuh cinta dan hangatnya kasih sayangmu
Ibu...
Banyak ulahku memancing kesalmu
Namun lebih banyak lagi maafmu untukku
Lebih banyak lelehan air matamu
Di sepertiga malam, memohon kepada Alloh yang terbaik untukku
Ibu...
Ketika ayah pergi meninggalkan dunia yang fana ini
Tak terbendung tangismu
Tangisan seorang istri yang kehilangan belahan jiwanya
Tangisan seorang istri yang kehilangan qowwam-nya
Tangisan seorang istri yang kehilangan ayah dari anak-anaknya
Namun kau tak terhanyut dalam kesedihan
Kau bangkit menjelma menjadi ibu yang berperan sebagai ayah
Kau banting tulang mencari nafkah untuk kami anak-anakmu
Ibu...
Maafkan anakmu ini
Yang terlalu sering buatmu menahan kesal di hati
Belum banyak hal dariku yang membuatmu bahagia
Namun satu hal yang tak pernah kulupa
Doaku semoga Alloh jadikanmu ahli surga-Nya
Ibu...
Kumohon ridhoilah anakmu ini
Hingga Alloh pun ridho terhadapku
Karena engkaulah salah satu jalanku menuju surga-Nya
Ya Alloh...
berilah umur panjang yang barokah kepada ibuku
hingga ia berkesempatan melihatku bersanding dengan bidadari hatiku
hingga ia berkesempatan menggendong anak-anakku
hingga ia berkesempatan berkunjung menjadi tamu-Mu di Baitulloh
Ya Alloh...
muliakanlah ibuku di dunia dan akhirat
ampuni segala dosa-dosanya
karuniakanlah kepadanya khusnul khotimah
kumpulkanlah keluargaku bersama dengan orang-orang yang beriman di surga-Mu
Aamiin...
Teruntuk ibuku yang paling kusayang....
Ayah...
Ayah...
Kala senja menyapa selalu kutunggu kedatanganmu
Terkadang ketika langit telah berselimutkan kelamnya malam
Ibu, adik dan aku akan setia menunggumu pulang
Senang hati ini ketika kau ketuk pintu dan berucap salam
Langsung ku terhanyut dalam dekap hangatmu
Ku tak peduli kau masih berpeluh saat itu
Yang kutahu inilah saatku tuk bersamamu
Saatku tuk menggelayut dalam gendonganmu
Saatku tuk berceloteh kegiatanku hari ini padamu
Ayah...
Kini kau telah tiada
bahkan untuk menyapa adik kedua pun kau tak sempat
adik kedua hanya dapat memandangi fotomu
Ayah...
ketika kau telah tiada
ibu langsung ambil peranmu
ia banting tulang untuk mencari nafkah bagi kami anak-anaknya
satu sisi ia berperan sebagai ibu, disisi lain ia berperan sebagai ayah bagi kami
Ayah...
ku bersyukur kepada Alloh
karena ku dapat menghias rumah yang dulu kau bangunkan untuk kami
rumah yang kau bangunkan atas dasar cinta dan kasih sayang
rumah yang kau bangunkan tuk lindungi kami dari panas terik sang mentari
rumah yang kau bangunkan tuk lindungi kami dari tetesan air hujan
Ayah...
kurindu akan hadirmu
kurindu sapaanmu padaku
kurindu senyuman yang menyungging di wajahmmu
wajah yang melukiskan perjuanganmu tuk mencari nafkah untuk kami
tak jarang air mata ini mengalir di pipiku
jika ku teringat padamu
Ayah...
walau kau telah tiada kasih sayangmu dulu masih terasa
lisan ini tak kan lelah tuk doakanmu
semoga Alloh merahmatimu, mengampuni dosa-dosamu, dan meridhoimu
serta Alloh jadikanmu ahli surga-Nya
harapku Alloh kumpulkan ayah, ibu, aku dan adik-adik di surga-Nya
bersama dengan orang-orang yang beriman…
Aamiin...
Jakarta, 29 November 2008
Memoar seorang anak yang telah lama kehilangan sesosok ayah.....
Kala senja menyapa selalu kutunggu kedatanganmu
Terkadang ketika langit telah berselimutkan kelamnya malam
Ibu, adik dan aku akan setia menunggumu pulang
Senang hati ini ketika kau ketuk pintu dan berucap salam
Langsung ku terhanyut dalam dekap hangatmu
Ku tak peduli kau masih berpeluh saat itu
Yang kutahu inilah saatku tuk bersamamu
Saatku tuk menggelayut dalam gendonganmu
Saatku tuk berceloteh kegiatanku hari ini padamu
Ayah...
Kini kau telah tiada
bahkan untuk menyapa adik kedua pun kau tak sempat
adik kedua hanya dapat memandangi fotomu
Ayah...
ketika kau telah tiada
ibu langsung ambil peranmu
ia banting tulang untuk mencari nafkah bagi kami anak-anaknya
satu sisi ia berperan sebagai ibu, disisi lain ia berperan sebagai ayah bagi kami
Ayah...
ku bersyukur kepada Alloh
karena ku dapat menghias rumah yang dulu kau bangunkan untuk kami
rumah yang kau bangunkan atas dasar cinta dan kasih sayang
rumah yang kau bangunkan tuk lindungi kami dari panas terik sang mentari
rumah yang kau bangunkan tuk lindungi kami dari tetesan air hujan
Ayah...
kurindu akan hadirmu
kurindu sapaanmu padaku
kurindu senyuman yang menyungging di wajahmmu
wajah yang melukiskan perjuanganmu tuk mencari nafkah untuk kami
tak jarang air mata ini mengalir di pipiku
jika ku teringat padamu
Ayah...
walau kau telah tiada kasih sayangmu dulu masih terasa
lisan ini tak kan lelah tuk doakanmu
semoga Alloh merahmatimu, mengampuni dosa-dosamu, dan meridhoimu
serta Alloh jadikanmu ahli surga-Nya
harapku Alloh kumpulkan ayah, ibu, aku dan adik-adik di surga-Nya
bersama dengan orang-orang yang beriman…
Aamiin...
Jakarta, 29 November 2008
Memoar seorang anak yang telah lama kehilangan sesosok ayah.....
Langganan:
Postingan (Atom)