Senin, 13 Juli 2009

Rembulan hati…


Kelam terasa langit malam ini,
Tiada rembulan yang menghiasi,
Begitupun adanya langit hati,
Kelam jualah yang terasai,
Inginku tersinari cahayamu rembulan hati,
Yang kan buat hidupku lebih berarti,
Haruskah kulari agar kudapat miliki cahayamu duhai rembulan hati?
Ataukah kutunggui sampai kau muncul dengan binar kilaumu?

Kini ku terpenjara dalam sepi,
Dibalik jeruji kesunyian hati,
Yang entah kapan harus kuakhiri…
Namun ku tak kan berhenti bermimpi,
Tuk keluar dari sepi dan sunyi ini,
Ku tak kan lelah tuk berlari,
Agar dapat kunikmati,
Kilau cahayamu duhai rembulan hati…

(Terinspirasi dr nasyid ‘rembulan di langit hatiku’ by seismic…)

Selasa, 07 Juli 2009

Menyemai Cinta di Taman Takwa


Bismillahirrohmanirrohim.....
sebenarnya cukup sulit bagi saya untuk memulai untuk menuliskan tulisan ini, karena terus terang saya belum mempraktekan apa yang saya tuliskan disini, namun harapan saya, semoga tulisan ini kelak akan mengingatkan dan meneguhkan saya ketika nantinya saya berkeluarga dan problematika hidup berkeluarga akan menyambangi kehidupan bahtera rumah tangga yang saya kayuh. Dalam buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku" karya Dwi Budiyanto, salah satu buku yang menurut saya adalah buku yang berbobot, namun bahsanya ringan, dalam buku tersebut ada salah satu bahasan dengan judul "Tak Sekedar Cinta", bahasan yang membuka suatu pemahaman baru bagi saya, dalam bahasan tersebut disebutkan bahwa Imam Jauzi (seorang ulama irak yang alim) dalam kitabnya "Shaidul Khatir" pernah menceritakan kisah Abu Utsman an-Naisaburi yang ditanya oleh seseorang. Pertanyaan menggelitik tentang harapan Abu Utsman. "Apa yang paling anda harapkan dari amal anda?" Abu Utsman terdiam beberapa saat. Lalu, ia mulai bertutur.

"Pada saat aku masih muda, keluargaku berusaha menikahkanku. Akan tetapi aku tidak bersedia. Suatu saat ada seorang wanita yang datang kepadaku dan berkata, 'Wahai Abu Utsman, sungguh aku sangat mencintaimu. Sudilah kiranya engkau menikahiku.' Wanita itu menghadirkan ayahnya yang sangat miskin. Aku pun dinikahkan dengan wanita itu. Nah, ketika aku berkumpul dengannya dalam satu kamar, ternyata ia pincang dan sangat buruk."

"Karena kecintaannya kepadaku," kata Abu Utsman melanjutkan, "Ia melarangku keluar rumah. Aku terpaksa duduk di dalam rumah untuk menjaga hatinya. Aku sama sekali tidak menampakkan kemarahan kepadanya, padahal aku seperti di atas bara. Sungguh. Demikianlah, kejadian itu berlangsung selama lima belas tahun hingga ia meninggal."

Beitulah ketika takwa menghiasi kehidupan keluarga. Kebencian yang membara terpinggirkan oleh sabar dan tanggung jawab terhadap janji. Bahasa takwa itu terpancar dari ungkapan Abu Utsman, "Tidak ada amal yang kuharapkan, kecuali menjaga hatinya agar tidak terluka." Itulah ketika cinta tak hanya sekedar cinta, cinta yang berbungkus takwa. Kisah serupa terjadi ketika ada salah seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khatab mengeluhkan tentang istrinya. Lelaki itu mengatakan bahwa cintanya kepada istrinya telah memudar. Oleh karena itu, ia bermaksud menceraikannya.

"Sungguh jelek niatmu," kata Umar. "Apakah semua rumah tangga (hanya dapat) terbina dengan cinta? Dimana takwamu dan janjimu kepada Alloh? Di mana rasa malumu kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai sepasang suami-istri, telah saling bercampur (menyampaikan rahasia) dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat?"

Ya, ketika menikah, dan mengucapkan ijab qobul, maka itulah salah satu perjanjian besar yang dalam Al-qur'an hanya disebut 3 kali oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala. Inilah kesadaran yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim/muslimah ketika ia memutuskan untuk menikah. Maka dari itu, saya terheran-heran mengapa banyak artis yang cerai, padahal sepengetahuan saya cerai atau talak adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam islam, namun dibenci oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala. Ketika mungkin alasan perceraian itu karena cinta yang telah memudar maka sungguh naif alasan itu mengemuka, karena cinta bukan hanya sebatas kata benda cinta adalah kata kerja, kerja untuk menumbuhkan, merawat, memberi. Seharusnya ketika kesadaran akan janji yang telah terucap, yang tidak hanya disaksikan oleh manusia, namun Alloh juga menyaksikan, maka ketika ada problem dalam kehidupan berumah tangga dapat diselesaikan bersama antara suami dan istri dengan penuh kesadaran dan kedewasaan.

Dan Ketika kau semai benih cintamu di taman ketakwaan, maka pupuklah ia dengan kasih sayang, siramilah dengan perhatian, sinarilah dengan cahaya ketulusan, hingga kelak kau kan jumpai cinta itu menguncup kemudian mekar menjadi bunga, yang keharumannya memenuhi ruang hatimu dalam taman ketakwaan.


Jakarta, 7 Juli 2009...
(Referensi : Segenggam Rindu Untuk Istriku karya Dwi Budiyanto)